alexametrics

Dugaan Match Fixing, Eks Manajer Persibara Ungkit Anggota Exco Lain

13 Januari 2019, 16:44:46 WIB

JawaPos.com – Pekerjaan Satgas Antimafia Bola begitu banyak saat ini. Karena itu, sembari mengembangkan kasus-kasus lainnya, fokus tim yang dipimpin Brigjen Pol Hendro Pandowo dan Brigjen Pol Krishna Murti tersebut saat ini tertuju kepada dua kasus, yakni Persibara Banjarnegara dan PSS Sleman versus Madura FC.

Dari kasus Persibara, sudah lima tersangka, yakni anggota Exco PSSI Johar Lin Eng, anggota Komdis PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih, Mbah Pri alias Priyanto, dan Miss T alias Anik Yuni Artika Sari. Lalu berdasar pengembangan kasus, muncul satu tersangka baru, yakni wasit Nurul Safarid.

“Kemudian ada LP baru lagi dari kasus itu. Berkembang ada terlapornya adalah VW (Vigit Waluyo),” jelas Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola Kombes Pol Argo Yuwono.

Terkait kasus PSS versus Madura FC, Argo menjelaskan telah naik ke tahap penyidikan. Sebab, gelar perkara telah dilakukan. “Mulai Jumat (11/1) sudah dilakukan penyelidikan. Secepatnya semoga bisa terselesaikan,” harapnya.

Hanya, masih ada tiga orang yang dipanggil dan belum hadir terkait kasus ini, yakni mantan anggota Exco PSSI Hidayat serta dua wasit pertandingan Dagelan di Sleman, Reza Pahlevi dan Agung Setiawan. Mereka dijadwalkan untuk kembali dipanggil pada pekan depan.

Adapun dari kasus Persibara, selain mencokok anggota Exco PSSI Johar Lin Eng dan anggota Komdis PSSI Dwi Irianto, juga menyeret nama anggota Exco Papat Yunisal. Itu tidak terlepas dari anjuran Miss T kepada Lasmi Indaryani, eks manajer Persibara, agar bersedia menjadi manajer Timnas U-16 Putri Indonesia agar memuluskan target Persibara.

Ketika menjadi manajer Timnas U-16 Putri, Lasmi membuat pemusatan latihan di Banjarnegara. Dia menuturkan, awalnya training camp itu dilakukan selama dua pekan. Dana yang dibutuhkan saat itu perkiraannya sekitar Rp 30 juta.

“Tapi, seiring berjalannnya waktu, TC selama satu bulan dan tidur di hotel. Makannya juga harus salmon dan ikan tuna. Jadi, total pengeluarannya jadi Rp 260 juta,” terangnya.

Karena tidak ada dana sebanyak itu, Lasmi pun meminta bantuan ayahnya Budhi Sarwono. Budhi menjabat sebagai bupati Banjarnegara. Pengiritan coba dilakukannya saat itu agar dana dari sang ayah cukup.

“Waktu itu Bu Papat Yunisal membuat rincian bahwa katanya itu murah, biasanya pemusatan latihan timnas itu Rp 1 miliar, tapi di Banjarnegara cuma Rp 285 juta. Waktu itu hitungannya begitu. Tapi saya kan, walau itu pakai uang ayah, kalau bisa lebih murah kenapa tidak, tapi ternyata tidak. Saya sudah coba irit, tapi tidak bisa,” jelasnya.

Karena merugi, Lasmi sempat mengungkapkan mundur. Tapi, Papat Yunisal menjanjikan PSSI akan membayar separo biaya pengeluaran itu asalkan tidak jadi mundur.

“Nyatanya sampai sekarang satu peser pun uang ganti tidak saya terima. Saya sempat tanya ke Bu Papat, katanya sedang diproses ke Mas Dony, admin timnas. Saya juga sempat telepon-teleponan sama Mas Dony, tapi setelah itu itu tidak bisa dihubungi,” ungkapnya.

Papat sudah pernah diperiksa satgas pada 24 Desember selama tiga jam. “Sebetulnya bukan diperiksa, melainkan klarifikasi,” katanya pada 31 Desember kepada Jawa Pos.

Sementara itu, belakangan terungkap kasus baru lagi yang dilaporkan ke Satgas Antimafia Bola, yakni berdasar laporan dari mantan manajer Perseba Super Bangkalan Imron Abdul Fattah. Namun, saat ini fokus masih pada dua kasus awal.

“Belum ada terkait hal tersebut,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (rid/bry/ham)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Dugaan Match Fixing, Eks Manajer Persibara Ungkit Anggota Exco Lain