alexametrics
Liga 1 2019

Djanur: Kapan Dia Pernah Memberikan Peringatan Kepada Saya?

12 Agustus 2019, 15:00:45 WIB

JawaPos.com – Kabar buruk itu diterima saat takbir Idul Adha menggema Sabtu malam (10/8). Djadjang Nurdjaman dipecat dari posisinya sebagai pelatih Persebaya Surabaya setelah tim besutannya hanya bermain imbang 2-2 kontra Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo Sabtu sore. Bagaimana sikap Djanur setelah pemecatan itu? Berikut petikan wawancara wartawan Jawa Pos Bagus Putra Pamungkas dengan Djanur.

Persebaya Surabaya

Apa yang Coach rasakan saat mendengar chant #DjanurOut saat pertandingan melawan Madura United?

Jujur saya tidak terlalu jelas mendengar saat itu. Saya hanya fokus ke lapangan.

Setelah itu, ternyata Coach benar-benar dipecat. Apa sudah ada peringatan dari manajemen?

Itu dia yang harus diluruskan. Coba tanya ke Candra (Wahyudi, Manajer Persebaya). Kapan dia pernah memberikan peringatan kepada saya? Sama sekali nggak pernah. Kecuali ngomong melalui media. Kalau peringatan secara lisan atau surat, nggak pernah sama sekali.

Tapi, Coach akhirnya tetap dipecat. Tidak protes?

Nggak lah. Saya rasa nggak perlu melakukan pembelaan. Saya terima saja. Padahal, secara statistik bisa dilihat sendiri kan. Persebaya masih berada di peringkat ke-7 dan kami baru melewati 13 laga. Tidak buruk-buruk amat. Kalau dipecat, ya silakan. Tapi, kalau boleh dikatakan sih cukup kejam juga ya.

Dalam tujuh laga terakhir, Persebaya hanya meraih satu kemenangan. Ada apa sebetulnya?

Jujur kalau boleh saya bilang, performa lini depan memang kurang bagus. Pemain asing juga begitu. Mungkin karena beberapa buruan utama gagal direkrut di bursa transfer lalu. Tapi, saya sudah punya rencana pembenahan di putaran kedua. Apalagi, ada David da Silva. Saya cukup optimistis. Tapi ternyata tidak lanjut.

Dipecat padahal Coach optimistis masih memimpin Persebaya saat lawan Arema FC?

Ya itu dia saya juga kaget. Saya tahu performa Persebaya sedang tidak bagus. Tapi, saya harap (evaluasi) setelah lawan Arema FC lah. Ternyata tidak. Setelah saya turun dari bus, Candra sudah menunggu di lobi (apartemen). Di situ dia panggil saya dan kemudian langsung diputuskan kalau (saya) diberhentikan.

Respons pemain dengan keputusan itu seperti apa, Coach?

Mereka belum pada tahu malam itu. Baru besok paginya ada beberapa pemain yang kirim pesan WhatsApp ke saya. Saya malah belum pamitan ke pemain. Tapi, saya sudah titip ke coach Bejo (Sugiantoro) agar disampaikan salam saya ke pemain-pemain lain. Saya langsung balik ke Bandung. Tadi (kemarin, Red) saya ke bandara (Juanda) diantar sama Imam (Arief) dan Alwi (Slamat).

Apa alasan Coach langsung balik ke Bandung?

Saya nggak enak lama-lama di tempat orang. Toh saya juga lama tidak kumpul dengan keluarga. Kangen sama cucu juga. Kebetulan anak sama cucu yang ada di Italia tanggal 15 Agustus nanti pulang ke Bandung. Terakhir ketemu Desember tahun lalu. Ya disyukuri saja lah.

Ingin bersama keluarga atau segera melatih lagi?

Untuk sementara, saya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga di Bandung. Tapi, kalau lama-lama di rumah, kadang saya nggak betah juga. Saya tidak seperti Pep Guardiola atau Jose Mourinho yang betah tanpa klub selama semusim, hahaha.

Terakhir, apa momen yang akan dirindukan setelah tak lagi bersama Persebaya?

Banyak sekali yang akan saya rindukan. Tapi, yang paling berkesan pasti atmosfer Stadion Gelora Bung Tomo saat Song for Pride dinyanyikan. Apalagi saat tim kami menang. Saya dibuat merinding saat Bonek menyanyikan lagu tersebut. Itu yang tidak akan saya dapat di tempat lain.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : gus/ali

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads