alexametrics

Timnas Tak Butuh Pelatih Fisik, Tapi Butuh Jadwal Liga yang Manusiawi

11 September 2019, 19:51:44 WIB

JawaPos.com-Simon McMenemy menuding faktor kelelahan sebagai biang keladi jebloknya performa tim nasional (timnas) Indonesia pada dua laga awal kualifikasi Piala Dunia 2022. Pelatih tim nasional itu beranggapan bahwa, jadwal yang padat di Liga 1 membuat pemain datang ke training camp dalam kondisi tidak fit.

Meski menyebut faktor fisik, timnas justru tak punya sosok yang diberi tugas membenahi fisik Andritany Ardhiyasa dkk. Ya, selama kualifikasi Piala Dunia 2022, skuad Garuda tak didampingi pelatih fisik. McMenemy hanya dibantu tiga asisten pelatih, yakni Yeyen Tumena, Joko Susilo, dan pelatih kiper Alan Haviludin.

Dari tiga asisten itu, Yeyen bertugas merangkap sebagai pelatih fisik.

Berbeda halnya dengan zaman Luis Milla. Timnas saat itu punya pelatih fisik khusus, yakni Miguel Gandia. Rekan Milla tersebut bisa dikatakan sukses membenahi fisik pemain Indonesia yang kerap kedodoran. Salah satu buktinya adalah penampilan tim Merah Putih yang sangat prima di Asian Games 2018.

Lantas, apakah timnas berencana merekrut pelatih fisik untuk pertandingan sisa di kualifikasi Piala Dunia? Manajer Timnas Indonesia AKBP Sumardji angkat bicara. Menurut dia, hal tersebut tidak akan dilakukan. Dia menilai hadirnya pelatih fisik di timnas tidak akan berpengaruh apa pun. ”Mau pelatih fisiknya hebat dan terkenal, tetap tidak akan mengubah apa pun di tim,” tegasnya.

Alasannya, jelas Sumardji, jadwal Liga 1 sangat padat. Dia menerangkan, fisik pemain drop gara-gara jadwal kompetisi yang sangat tidak manusiawi. Seminggu pemainnya bisa bertanding dua hingga tiga kali. ”Kompetisi negara lain libur, sedangkan di Indonesia masih jalan. Padat juga. Pemain datang dalam kondisi yang sangat capek,” paparnya.

Sumardji berencana berdiskusi dengan PSSI dan PT LIB. Terutama untuk jadwal Liga 1 musim depan. Sumardji berharap Liga 1 musim 2020 bisa digelar pada awal tahun. Artinya sekitar Januari hingga Maret (Liga 1 musim 2019 dimulai pertengahan Mei).

”Agar kompetisi panjang. Klub juga tidak dirugikan karena kontrak pemain benar-benar semusim penuh,” tuturnya. ”Biar sisa pertandingan di kualifikasi Piala Dunia hasilnya maksimal juga,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan striker timnas Alberto Goncalves. Dia mengatakan, rekan-rekannya tidak butuh pelatih fisik. Yang dibutuhkan skuadnya adalah jadwal liga yang tak merugikan timnas. ”Agar kami bisa jalankan strategi pelatih dengan benar,” ucap Beto, sapaan Alberto Goncalves.

Yeyen ikut menimpali soal kebutuhan pelatih fisik. Menurut dia, tanpa pelatih fisik, anak asuhnya sebenarnya sudah paham bagaimana cara menjaga kebugaran. Yang jadi masalah lagi-lagi adalah jadwal liga. Yeyen menyebutkan, para pemain hanya mengikuti training camp selama seminggu.

”Seharusnya itu (menjaga kebugaran, Red) dilakukan di klub dengan jadwal ideal. Karena pemain datang ke timnas dalam keadaan sakit dan cedera, plus capek. Timnas itu bukan rumah sakit, seharusnya datang dalam kondisi prima,” tegasnya.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : rid/c9/bas



Close Ads