alexametrics
Piala Presiden 2019

Boneka, Wujud Kepedulian dan Kreativitas Bonek

Oleh Muhammad Syafaruddin, Reporter JawaPos.com
9 April 2019, 12:59:42 WIB

JawaPos.com – Begitu banyak cap negatif yang dilekatkan kepada Bonek, sebutan pendukung Persebaya Surabaya. Tukang bikin onar, biang tawuran, penjarah hingga maling gorengan. Boleh dikata, Bonek adalah suporter dengan citra paling buruk di Indonesia. Tapi itu dahulu. Sekarang Bonek sudah berubah. Sudah hijrah.

Siang itu, seorang pemuda berdiri di trotoar Jalan Banyu Urip, Surabaya. Sebenarnya ada banyak orang yang lalu-lalang. Tetapi pemuda ini yang paling mencolok. Tampilannya gahar. Dia mengenakan celana jins hitam. Sedikit kusam. Ada robekan di bagian dengkul. Kausnya berwarna hijau. Tampak logo Persebaya tertera di bagian dada.

Dia menenteng sebuah boneka Teddy Bear. Warnanya coklat. Ukurannya cukup besar. Hampir sepanjang lengannya. Boneka itu akan dia bawa ke Stadion Gelora Bung Tomo (GBT). Kebetulan, Bonek dan Persebaya sedang mengadakan kampanye untuk anak-anak penderita kanker. Temanya ‘one man one doll’.

Aksi ini terjadi pada babak perempat final Piala Presiden 2019. Melawan PS Tira Persikabo, Jumat (29/3) sore WIB lalu. Seperti halnya sang pemuda gahar, puluhan ribu Bonek juga berduyun-duyun ke stadion dengan membawa boneka. Beragam jenis dan warna. Boneka-boneka itu dilempar ke arah lapangan tepat jeda pertandingan.

Seharusnya, ketika suporter melemparkan sebuah benda ke lapangan, Persebaya layak dijatuhi sanksi. Sebab tindakan itu menyalahi rule of the game. Akan tetapi, ‘hujan boneka’ di Stadion GBT justru membuat Bonek dan Persebaya panen apresiasi. Baik dari tim tamu, Gubernur Jawa Timur (Jatim) hingga salah satu organisasi PBB, UNICEF.

“Sangat menarik ide dari Bonek dengan memberikan sumbangan secara spontanitas ala suporter. Terlihat mereka melakukannya dengan sangat indah. Barang yang disumbangkan jatuh dari tribune penonton. Saya baru menonton sekali ini. Luar biasa. Menurut saya ini ide yang top,” sebut Rahmad Darmawan, pelatih Tira Persikabo.

Menurut data dari Persebaya, Boneka yang terkumpul sebanyak 20.000 buah. Selanjutnya boneka-boneka itu disortir. Kemudian boneka itu dibersihkan dan dikemas rapi. Berikutnya, boneka-boneka itu akan diberikan kepada anak-anak penderita kanker di Surabaya dan Jatim secara keseluruhan.

Bonek, suporter yang selama ini dicap nakal, telah melakukan sebuah gebrakan yang menggugah simpati dari banyak kalangan. Memang, aksi ini bukan ide orisinal Bonek. Suporter klub asal Spanyol, Real Betis sudah melakukannya pada Desember 2018 silam. Meski demikian, Bonek yang mengawali kampanye ini di Indonesia.

Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara melalui siaran pers, Sabtu (30/4) mengaku salut dan memberikan apresiasi tinggi atas apa yang telah dilakukan Bonek. Kepedulian Bonek terhadap anak-anak penderita kanker, bisa menjadi virus positif bagi generasi muda di Indonesia. “Bonek dulu sempat ditakuti, tapi sekarang menjadi disegani dan diteladani,” sanjung Arie Rukmantara.

Berjiwa Sosial Tinggi

Puluhan ribu boneka dilemparkan Bonek ke lapangan Stadion Gelora Bung Tomo. Itu merupakan wujud kepedulian Bonek terhadap anak-anak penderita kanker (Official Persebaya)

Kampanye ‘one man one doll’ adalah salah banyak satu aksi sosial yang digagas oleh Bonek. Pendukung militan Persebaya ini memang terkenal dengan jiwa sosialnya yang tinggi. Ketika banyak daerah di Indonesia dilanda bencana alam, Bonek pun turun tangan. Mereka menggalang dana hingga terjun langsung ke medan bencana.

Terbaru, Bonek beserta Persebaya menggalang dan dana untuk korban bencana banjir bandang di Kabupaten Jayapura. Tak sekadar mengumpulkan uang bantuan, Bonek juga menyalurkannya langsung ke korban bencana alam. Hal ini mereka lakukan agar bantuan bisa diterima secara langsung oleh korban bencana.

Bukan hanya itu, Bonek juga memiliki kepedulian terhadap anak-anak yatim dan kurang mampu. Hal itu tampak pada gebrakan Bonek Sukodono Jemundo (SKJ 27). Salah satu komunitas Bonek ini mendirikan sebuah panti asuhan di Desa Cemeng Bakalan, Sidoarjo, Agustus 2018 lalu

Pelbagai aksi sosial yang dilakukan Bonek adalah penanda bahwa mereka telah berubah. Bonek bukan lagi tukang bikin onar. Bonek bukan biang tawuran. Bonek bukan penjarah. Dan Bonek juga bukan maling gorengan. Bonek adalah suporter yang telah hijrah, dari bad boys menjadi good boys.

Sekarang adalah waktunya Bonek untuk membuktikan diri kembali. Bahwa pujian dan sanjungan tak akan membuat mereka tumbang. Salam satu nyali, Wani!

Editor : Edy Pramana

Reporter : Muhammad Syafaruddin

Close Ads