alexametrics
Rusuh di SUGBK

Sanksi di Depan Mata, Bidding Tuan Rumah Piala Dunia U-20 Berantakan

7 September 2019, 16:00:18 WIB

JawaPos.com – Aksi brutal oknum suporter timnas ketika menghadapi Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis lalu (5/9) berdampak serius. Sanksi bakal dijatuhkan induk organisasi sepak bola dunia atau FIFA. Hukumannya bisa langsung dijatuhkan ketika timnas menjamu Thailand dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2022 pada Selasa mendatang (10/9). Indonesia mungkin terkena sanksi menggelar laga tanpa penonton.

Sebab, Indonesia dinilai melanggar Kode Kedisiplinan FIFA ayat 1 pasal 16. Di situ disebutkan, asosiasi tuan rumah sebuah pertandingan resmi FIFA harus bertanggung jawab pada keamanan dan ketertiban di dalam dan sekitar stadion sebelum, selama, serta sesudah pertandingan. Di ayat 2 juga disebutkan, semua asosiasi bertanggung jawab atas perilaku tak pantas dari satu atau lebih suporternya.

Dampak lainnya, kampanye PSSI untuk bidding tuan rumah Piala Dunia U-20 bisa berantakan. Gara-gara insiden Kamis lalu, FIFA mungkin mengkaji kembali niat Indonesia untuk ikut bidding.

Sekjen PSSI Ratu Tisha hanya bisa pasrah. Dia menyesalkan insiden Kamis lalu. ’’Seperti halnya yang dirasakan banyak orang. Kami yang mengurus ini tentu lebih nelangsa melihat apa yang terjadi,’’ keluh Tisha. ’’Ini juga pastinya akan jadi pertimbangan FIFA untuk bidding Piala Dunia U-20,’’ terangnya.

Dia tidak menampik bahwa hukuman dari FIFA dipastikan turun. Sebab, laga matchday pertama grup G kualifikasi Piala Dunia 2022 itu tak hanya dihadiri Presiden Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) Datuk Hamidin Mohd Amin dan Menpora Malaysia Syed Saddiq. Ada juga Presiden AFF Maj Gen Khiev Sameth. ’’Kualifikasi Piala Dunia itu termasuk pertandingan kategori tipe A. Jadi, di pertandingan internasional itu, apabila ada suatu kejadian, sudah diatur dalam prosedur dan ketentuan yang berlaku. Sudah ada match commissioner, security officer, yang langsung datang dari FIFA,’’ jelasnya.

Jadi, otomatis semua kejadian di lapangan bakal dicatat. ’’Jadi, bukan FAM melapor. Bukan siapa melaporkan siapa. Tapi, memang pertandingan internasional diatur dalam regulasi FIFA. Match commissioner yang akan menindaklanjuti ke FIFA,’’ paparnya.

PSSI juga tidak berdiam diri. Pihaknya sudah melakukan evaluasi terkait dengan penyebab rusuhnya laga tersebut. Salah satunya kelalaian dalam keamanan. ’’Ada kebocoran-kebocoran, padahal pengamanan cukup ketat. Ini harus kami simulasikan bersama dulu,’’ tuturnya.

Tisha menyatakan, kebocoran sudah dicatat. Kebocoran-kebocoran itu bakal dikoordinasikan dengan internal PSSI dan kepolisian. ’’Kami sudah miliki database suporter yang hadir. Nanti kami tindak lanjuti ke kepolisian,’’ bebernya.

Mengenai ancaman FIFA yang mungkin menjatuhkan sanksi tanpa suporter pada laga melawan Thailand, Tisha tidak bisa berkomentar. Dia hanya meminta semua pihak untuk merefleksikan diri. ’’Doakan, dukung, dan lakukan hal-hal positif. Tunjukkan kepada dunia Indonesia bisa positif,’’ ujarnya.

Pemerintah yang diwakili Menpora Imam Nahrawi juga langsung bersikap untuk mendinginkan suasana. Imam mengirimkan surat permohonan maaf. Surat itu diberikan kepada Menpora Malaysia Syed Saddiq di Hotel Fairmont kemarin pagi (6/9). ’’ Kami memberikan surat tertulis ini sebagai bahan evaluasi sebelum Indonesia bertandang (ke Malaysia) pada November nanti,’’ kata Imam. ’’Kami juga sepakat sebelum laga itu kami akan bertamu terlebih dahulu dan disambut Pak (Syed) Saddiq,’’ ucapnya.

Syed Saddiq pun menerima permohonan maaf Imam. Saddiq bahkan menegaskan bahwa Indonesia dan Malaysia tetap bersaudara. ’’Beliau pastikan akan menghubungi pihak polisi untuk memastikan ada tindakan yang diambil. Kami juga pastikan Malaysia dan Indonesia tetap bersama, bersahabat serumpun, dan pastikan silaturahmi terus terjaga,’’ harap Saddiq.

Namun, Saddiq tetap meminta para oknum yang menyerang suporter Malaysia ditindak tegas. Dia juga tak bisa melarang FAM untuk melaporkan insiden di SUGBK ke FIFA. ’’Melaporkan kepada FIFA itu urusan pihak FAM dan PSSI, sedangkan saya pemerintah ke pemerintah. Karena itu, saya (komunikasi) bersama Pak Imam. Hal yang sama dilakukan pihak Kementerian Luar Negeri Malaysia bersama Kementerian Luar Negeri Indonesia,’’ bebernya.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : rid/bas

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads