alexametrics
Investigasi Mafia Bola Jawa Pos

Terlalu Kontroversial, PSMP Di-Banned dari Rumah Judi

7 Januari 2019, 09:00:31 WIB

JawaPos.com – Seorang runner yang memiliki pengaruh dan jaringan besar di Indonesia mengungkapkan, mayoritas yang terjadi sepanjang Liga 2 2018 adalah match setting. Bukan match fixing.

Alasannya, harga pasaran untuk match setting pada musim lalu memang tergolong rendah. Seorang mafia judi di luar negeri cuma memberikan dana Rp 80 juta sampai Rp 100 juta untuk mengatur pertandingan. Duit tersebut diberikan kepada runner untuk merealisasikan skor yang dipesan sebelumnya.

Runner biasanya mengontak manajer tim untuk diajak bekerja sama mengatur sebuah laga. Nah, uang itu nanti juga mengucur kepada para pemain. ”Namun, kalau dengan cara itu, uang yang diterima pemain tidak terlalu besar,” kata sumber Jawa Pos.

Terlalu Kontroversial, PSMP Di-Banned dari Rumah Judi
Suporter saat mendukung PSMP Mojokerto saat melawan Semen Padang, 14 November 2018 (SOFAH KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO)

”Kalau saya sih lebih nyaman memilih memberikan uang kepada lima atau enam pemain. Merekalah yang akan me­nentukan skor pertandingan,” ucapnya. 

Cara lain adalah menyuap wasit. Metode seperti itu pun sudah umum terjadi di Indonesia. Biasanya, runner besar di Indonesia memiliki jaringan yang sangat luas kepada wasit-wasit. Bahkan, ada kalanya wasit-wasit meminta ”pekerjaan” kepada runner. 

Pada musim-musim sebelumnya, Liga 2 adalah big market untuk jaringan mafia judi internasional. Nilainya Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Namun, seiring dengan kualitas liga yang semakin turun dan sering kontroversial, harga juga merosot.

Nah, karena keuntungan dari bandar judi yang umumnya berasal dari Asia Tenggara tidak terlalu besar, tim-tim tertentu lebih memilih untuk melakukan match setting. Jadi, pertandingan tidak diatur oleh pihak eksternal, tetapi oleh pengelola tim itu sendiri.

Uniknya, lanjut sumber Jawa Pos itu, musim ini PSMP bahkan di-banned dari rumah-rumah judi. Alasannya, tim itu terlalu kontroversial dan tidak bisa dipercaya. Kalau rumah judi menjagokan tim tersebut menang, mereka akan kalah. Sebaliknya, kalau dipasang kalah, PSMP justru menang. ”Bandar tak mau terus rugi,” kata sumber tersebut, lantas tertawa.

Pelatih PSMP Jamal Yastro mengaku tidak tahu soal fakta tersebut. Dia juga membantah bahwa Vigit Waluyo adalah orang yang mengatur merah hitamnya PSMP musim ini. ”Untuk penentuan pemain di awal musim, tetap di saya dan tim pelatih yang lain,” tegasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Tim Jawa Pos

Terlalu Kontroversial, PSMP Di-Banned dari Rumah Judi