alexametrics
Investigasi Mafia Bola Jawa Pos

Setting-an Vulgar Delapan Besar Liga 2 2018

7 Januari 2019, 08:00:55 WIB

Match setting di Liga 2 2018 terjadi dengan luar biasa telanjang, vulgar, dan tak tahu malu. Puncaknya adalah penalti hantu Krisna Adi Darma. PSMP cuma dijadikan kendaraan untuk membantu tim lain.

PEMAIN Aceh United memutuskan mogok bermain pada laga terakhir babak delapan besar Liga 2 2018 melawan PS Mojokerto Putera (PSMP) 19 November 2018. Dalihnya, manajemen belum membayar gaji mereka.

Setelah dibujuk, para pemain akhirnya mau turun ke lapangan dan bertanding. Pada jeda babak kedua, lagi-lagi tim yang diarsiteki Saadan Abidin tersebut tak mau berlaga.

Match commissioner sempat mendatangi ruang ganti pemain di Stadion Cot Gapu, Bireuen. Namun, para pemain bergeming. Sejurus kemudian datang seorang dengan membawa segepok uang yang dibungkus tas kresek putih. Dia lantas mengacung-acungkan bungkusan tersebut di depan para pemain. ”Ini DP dulu. Setelah itu, saya serahkan semua,” teriak pria tersebut. ”Ayo… ayoo…. Ada uang, main terus,” jawab beberapa pemain berusaha membangkitkan semangat.

Setelah uang dibagi-bagikan, para pemain Aceh United beranjak dari tempat duduk. Karena dua insiden tersebut, jadwal pertandingan mundur lebih kurang 15 menit.

Pertandingan itu sangat penting. Sebab, pada sore yang sama, di Stadion Haji Agus Salim, Padang, juga dimainkan pertandingan Semen Padang versus Kalteng Putra. Hasil dua partai tersebut sangat menentukan tim mana yang lolos ke semifinal.

Karena insiden mogok bermain di Bireuen itulah, laga di Padang selesai lebih awal. Semen Padang menang dengan skor 3-1 dan dipastikan lolos ke semifinal.

Pada pertandingan yang lain, Aceh United masih unggul 3-2. Jika skor bertahan, dua tim yang lolos adalah Semen Padang dan Kalteng Putra. Itu berarti PSMP hanya membutuhkan hasil imbang untuk melaju ke empat besar.

Tiba-tiba, pada menit ke-87, PSMP mendapat hadiah penalti hasil diving gelandang Haris Tuharea. Lalu, lahirlah aksi kontroversial yang dilakukan Krisna Adi Darma. Penyerang PSMP yang baru masuk di babak kedua itu dengan sengaja tidak mencetak gol melalui titik penalti.

Tindakan Krisna memang kelewat vulgar. Pemain 23 tahun kelahiran Sleman tersebut menendang bola luar biasa jauh ke sisi kanan gawang Aceh United. Pada kemudian hari, penalti itulah yang mengantar Krisna divonis hukuman tidak boleh beraktivitas di sepak bola nasional seumur hidup oleh Komdis PSSI.

Pada akhirnya, PSMP kandas dengan skor 2-3 di tangan Aceh United. Mereka dipastikan gagal melaju ke semifinal Liga 2 2018. Penalti aneh dari Krisna akhirnya memberikan jalan kepada Kalteng Putra untuk lolos ke semifinal.

Tiga sumber Jawa Pos, di internal Kalteng Putra, PSMP, dan seorang pengatur pertandingan alias runner, kompak mengatakan bahwa dua pertandingan itu memang diatur sejak awal. Skenario awal ialah meloloskan Kalteng Putra dan PSMP ke semifinal.

Selain Krisna, Komdis PSSI menskors PSMP satu musim tidak boleh bertanding di Liga 2. Alasannya, PSMP terlibat pengaturan skor dalam empat pertandingan. Yakni, melawan Kalteng Putra (dua kali), Gresik United, dan Aceh United. ”Berdasar laporan Genius Sport, pertandingan PSMP melawan Aceh United itu dijual,” kata Ketua Komdis PSSI Asep Edwin. Genius Sport adalah lembaga teknologi olahraga yang disewa PSSI untuk menginvestigasi pertandingan-pertandingan di Liga Indonesia.

Lantas, siapakah otak pengaturan pertandingan ini? Tiga sumber Jawa Pos, di internal PSMP, Kalteng Putra, dan seorang runner alias pengatur pertandingan, mengatakan, Vigit Waluyo. Dialah sosok yang berada di balik penalti hantu Krisna Adi. Vigit adalah mantan manajer Deltras Sidoarjo dan terpidana kasus korupsi PDAM Sidoarjo.

Hal itu pula ditegaskan Manajer Persekam Metro FC Bambang Suryo dalam talk show Mata Najwapada 28 November 2018. Vigit, klaim Bambang, adalah orang kepercayaan rumah judi bet365 yang memiliki kantor di Kamboja. ”Vigit adalah pengelola PSMP!” tegas Bambang. ”Dia beredar dan berkeliling Indonesia,” tambahnya.

Sumber Jawa Pos mengatakan bahwa Vigit menerima sejumlah uang dari Kalteng Putra dan PSS Sleman untuk membantu meloloskan tim tersebut ke Liga 1. Nah, uang tersebut juga digunakan untuk membiayai kebutuhan tim yang dia kelola.

Jadi, bisa dikatakan bahwa Vigit memainkan peran tunggal untuk mengatur babak delapan besar. Sementara itu, pada babak-babak awal kompetisi, banyak runner kecil yang ikut bermain.

Kelebihan Vigit, kata sang sumber, ada tiga. Pertama, mantan manajer Deltras Sidoarjo itu sangat lihai berbicara. Kedua, dia memiliki dana. Ketiga, Vigit yang sudah sangat lama terjun di sepak bola nasional mempunyai pengaruh yang sangat besar, terutama untuk mengatur wasit dan perangkat pertandingan. ”Saya kira, apa yang dilakukan Pak Vigit selama babak delapan besar Liga 2 itu match setting, bukan match fixing,” kata seorang pelatih tim Liga 2 kepada Jawa Pos.

Dalam bahasa runner, match fixing merupakan murni pengaturan skor. Semua dikendalikan oleh pihak luar, yakni mafia judi. Karena motivasinya melulu uang, orang-orang tersebut tidak peduli tim mana yang menang atau kalah. Namun, biasanya, hasil akhir pertandingan berbeda dengan apa yang diprediksi para petaruh. Misalnya, tim kecil mampu mengalahkan tim besar di kandang lawan. Semakin banyak petaruh yang kalah, semakin besar uang yang didapat mafia.

Berbeda dari keterangan Bambang Suryo bahwa Vigit adalah kepanjangan tangan mafia judi, seorang runner yang lain menyatakan bahwa musim ini Vigit lebih sering bergerak sendiri. Mantan PLT Ketua Asprov PSSI Jawa Timur itu biasanya menghubungi banyak ”tim kaya” untuk menawarkan jasa mengatur pertandingan.

Dia menjanjikan tim tersebut mencapai target tertentu. Misalnya, promosi ke divisi teratas. Sebagai imbalannya, Vigit mendapat sejumlah uang yang kemudian diputar untuk membiayai tim yang dikelolanya dan membayar perangkat pertandingan.

”PSMP hanya difungsikan sebagai kendaraan membantu tim lain. Realistis saja, mereka tidak memiliki uang. Kualitas pemainnya ya begitu-begitu saja. Mereka juga tak punya fasilitas yang baik. Kalau naik ke Liga 1, mereka harus merenovasi stadion. Itu harga yang mahal,” ucap sumber Jawa Pos tersebut.

Manajemen PSMP ramai-ramai membantah keterlibatan dan keterkaitan timnya dengan Vigit. Sebab, nama itu tidak pernah ada dalam struktur tim. Presiden PSMP Firman Efendi mengatakan bahwa dirinya hanya sebatas tahu sosok yang sekarang mendekam di Lapas Kelas II-A Sidoarjo tersebut.

”Kalau kenal, ya saya kenal sama VW. Tapi, terakhir ketemu pada 2016 kayaknya. Tahun ini sama sekali nggak ketemu,” katanya. ”Saya nggak pernah tahu VW ada hubungan dengan tim. Penentuan pemain di awal musim tetap di saya dan tim pelatih yang lain,” imbuh pelatih PSMP Jamal Yastro.

Jawa Pos memiliki foto Vigit sedang berada di lorong menuju ruang ganti di Stadion Gajah Mada, Kota Mojosari, Mojokerto, pada kompetisi Liga 2 2017. Dalam foto tersebut, Vigit terlihat sedang berbicara dengan asisten pelatih Kalteng Putra Budi Sudarsono.

Ditanyakan mengenai kehadiran Vigit di sana, asisten pelatih PSMP Nus Yadera lagi-lagi menampik. ”Kalau ada yang bilang sempat lihat di locker room PSMP, nggak ada, itu nggak benar. Kalau nonton, mungkin. Saya juga nggak tahu pasti,” ujarnya.

Nus memang terkenal sebagai ”orangnya” Vigit. Ke mana pun Vigit mengelola klub, dia hampir selalu eksis. Entah itu sebagai pelatih kepala atau asisten. Nus pernah menukangi Deltras Sidoarjo, PSBK Kota Blitar, Perseba Super Bangkalan (belakangan menjadi Pusamania Borneo FC).

Nama-nama pemain, seperti La Umbu, Fendi Taris, Fandhy Achmad, dan Ferry Aman Saragih, juga sering mengikuti tim yang diasuh Nus. ”Hubungan kami sudah tidak ada. Nggak ada hubungan lagi. Hilang aja setelah Deltras,” kata Nus.

Jawa Pos sudah berupaya meminta konfirmasi kepada Vigit soal keterlibatannya mengatur laga-laga Liga 2. Jawa Pos juga telah mengontak pengacara, keluarga, hingga meminta izin kepada Kepala Lapas Kelas II-A Sidoarjo Muhammad Sussani. Namun, hingga kemarin, Vigit hanya ingin dikunjungi dan berbicara dengan keluarga terdekatnya saja.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Tim Jawa Pos

Setting-an Vulgar Delapan Besar Liga 2 2018