alexametrics
Investigasi Mafia Bola Jawa Pos

Mafia Bola Pernah Ditangkap di Blitar

7 Januari 2019, 10:00:05 WIB

JawaPos.com – Suasana di Stadion Gelora Supriyadi, Blitar, pada 8 Maret 2017 sempat runyam. Penyebabnya, ada seseorang yang dicurigai sebagai bandar judi bola dari luar negeri berada di tribun. Dia dikenal dengan nama David Cantona alias Yap yang berasal dari Malaysia.

Ketika itu, ada pertandingan antara PSBK Blitar versus Persegres Gresik United dalam Piala Bung Karno 2017. Itong Nurcahyo selaku perwakilan dari Asprov PSSI Jatim mencurigai gerak-gerik David dan kedua temannya. Tapi, dua rekannya melarikan diri dan tinggal David yang tertangkap.

Itong ketika itu meminta bantuan polisi untuk menggelandang David. Saat ditangkap dan digeledah, dalam tas David ditemukan sejumlah mata uang asing dan rupiah dalam jumlah besar. Selain itu, ada tiga telepon genggam.

“Ada informasi dari teman-teman, terus saya tangkap berdasarkan kecurigaan. Saya juga karena saya lihat, ada orang duduk di tribun ekonomi bawa uang dolar campur rupiah di tas banyak sekali. Bawa telepon genggam dan modem. Saya curiga dia bandar judi,” jelas pria yang menjabat anggota Komdis PSSI Jatim itu.

“Saya meminta bantuan kepolisian, tapi mereka tidak berani berani menangkap. Lalu, saya bilang, coba periksa kelengkapan keimigrasian saja pak. Ternyata, orang itu tidak membawa paspor. Saya menunggu kepolisian lama, tapi malah dilepas,” jelas Itong.

Saat itu, David beruntung karena dilepas polisi. Itong mengatakan, polisi melepaskan karena tidak ada bukti lengkap kalau dia seorang mafia judi bola.

Nah, itulah risiko ketika mafia judi bola dari luar negeri langsung turun lapangan ke Indonesia. Karena itu, dibutuhkan penghubung antara mafia judi bola dari luar negeri itu ke wasit, manajer, pelatih, atau pemain. Apalagi, runner yang dulunya pemain, pelatih, atau wasit. Tentu lebih mudah.

Mafia judi bola yang Jawa Pos maksud adalah, orang yang mengakali bandar atau rumah judi. Mereka berupaya mengatur pertandingan dengan tujuan agar bisa mengakali bursa judi. Misalnya, tim A di bursa taruhan diunggulkan menang, tapi oleh mafia diatur agar bisa imbang atau kalah dengan cara curang.

Pola kerjanya adalah para mafia judi bola menghubungi runner mereka di Indonesia. Lalu, runner atau sub-runner kemudian mendekati wasit, manajer, pelatih, atau pemain. Tentu saja, pendekatan paling utama manajer dan pelatih. Sebab, punya power dalam tim.

Namun, apabila sang manajer atau pelatih menolak. Terkadang runner langsung mendekati pemain. “Saya pernah, tapi bukan musim ini. Saya membayar seluruh tim. Maksudnya, seluruh pemain, bahkan yang berada di bangku cadangan untuk kalah dengan jumlah sekian gol,” ujar sumber Jawa Pos yang masih aktif sebagai runner.

Terus bagaimana mafia judi di luar negeri bisa yakin kalau sebuah tim telah diamankan? “Biasanya, setelah deal dengan manajer, pelatih, atau pemain, saya telepon bos. Terus saya serahkan telepon ke manajer, pelatih, atau pemain yang sudah saya beresi. Bos hanya ingin tanya, uang sudah di tangan? Itu saja,” lanjut pria berusia sekitar 50 tahunan itu.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Tim Jawa Pos

Mafia Bola Pernah Ditangkap di Blitar