alexametrics
Investigasi Mafia Bola Jawa Pos

Kode Match Fixing: Pakai Baju Mencolok sampai Sewa Perempuan Cantik

7 Januari 2019, 11:00:39 WIB

JawaPos.com – Banyak cara yang dilakukan seorang pengatur pertandingan alias runner untuk memberikan tanda kapan gol harus tercipta. Seorang sumber Jawa Pos yang merupakan salah seorang runner besar Indonesia mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki kode-kode tertentu.

Kalau dalam pertandingan yang sepi penonton, biasanya sang runner akan berada di stadion dengan mengenakan baju mencolok. Jika tiba waktunya terjadi gol, dia lantas memberikan tanda kepada pemain yang sudah berhasil disuap. Biasanya dengan menggunakan gerakan tangan.

Jumlah pemain yang sudah terbeli biasanya lima hingga enam orang. Bahkan, untuk sebuah tim yang perlu sekali uang karena belum gajian, sang runner mengkalim pernah menyuap 20 pemain!

Sang runner biasanya bertemu dengan para pemain itu sehari sebelum laga untuk membahas kode-kode tersebut. Tak lupa, sang runner menyerahkan uang sogokan. Tempatnya biasa macam-macam. ”Aman di tempat karaoke. Gelap. Tidak ada yang tahu,” ucap sumber Jawa Pos, lantas tersenyum.

Kalau dalam pertandingan yang penuh penonton, sumber Jawa Pos itu pernah menyewa seorang perempuan cantik. Dia membelikan perempuan itu tiket dan sejumlah uang.

”Kalau waktunya gol, saya suruh perempuan ini melakukan aksi yang mencolok. Misalnya, bersorak-sorak atau teriak,” katanya. ”Saya juga pernah memakai kembang api kalau saya ada di luar stadion. Banyak cara lah. Tapi, yang pasti, kode itu kami sepakati sebelumnya,” imbuhnya.

Bedol Desa ala Aceh United

ADA yang unik bin aneh dalam skuad Aceh United ketika mengarungi babak delapan besar Liga 2 2018. Tim berjuluk Laskar Iskandar Muda itu dihuni banyak sekali mantan pemain Blitar United.

Tidak tanggung-tanggung, sepuluh pemain Blitar bedol desa ke Aceh. Bahkan, pelatih Blitar United Bonggo Pribadi juga diangkut untuk menduduki kursi pelatih Aceh United. Dia menggantikan Simon Elissetche.

Aceh United memang mengalami kesulitan finansial di tengah kompetisi. Bahkan, mereka telat membayar gaji pemain. Datangnya rombongan Blitar United memunculkan spekulasi bahwa mereka mendapat bantuan dari Vigit Waluyo.

CEO Aceh United Zaini Yusuf membantah adanya campur tangan Vigit dalam peminjaman pemain Blitar United. Zaini menegaskan bahwa itu murni kebutuhan tim. ”Awalnya kami bisa pinjam, tapi harus sepaket. Jadi sekalian aja. Soal VW, itu nggak benar. Hanya pinjam,” kata Zaini. (*)

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Tim Jawa Pos

Kode Match Fixing: Pakai Baju Mencolok sampai Sewa Perempuan Cantik