JawaPos Radar

Rachmat ”Rian” Irianto, Penerus Bejo Sugiantoro di Lapangan Hijau

06/10/2016, 11:16 WIB | Editor: fimjepe
Rachmat ”Rian” Irianto, Penerus Bejo Sugiantoro di Lapangan Hijau
WARISKAN BAKAT: Rachmat Irianto (kiri) dan Bejo Sugiantoro saat ditemui di Lapangan Karanggayam, Surabaya. (APRIDIO KURNIA ANANTA/JAWA POS)
Share this

Like father like son. Ungkapan itu sangat tepat untuk menggambarkan ’’kemiripan’’ antara Bejo Sugiantoro dan Rachmat Irianto. Bukan sekadar wajahnya yang mirip. Melainkan juga bakat dan talentanya.

 

APRIDIO ANANTA, Surabaya

 

SOSOK pria itu tampak serius mengamati laga Sasana Bhakti versus Putra Mars di Lapangan Karanggayam, Surabaya Selasa (4/10). Sosok itu sangat populer. Dia adalah Bejo Sugiantoro. Mantan bek Persebaya Surabaya dan tim nasional tersebut saat ini menjabat pelatih kepala Indonesia Muda (IM) senior. Dia datang ke Karanggayam untuk menyiapkan timnya bertanding melawan FFC.

’’Cari pengalaman dulu sebelum melatih tim yang lebih besar nanti,’’ kata Bejo soal alasannya menjadi pelatih IM. ’’Lagi pula, saya lahir dan besar di sini (IM),’’ imbuhnya.

Obrolan sempat terhenti. Sebab, dari pinggir lapangan seorang pemain IM memanggil Bejo. Wajahnya sangat mirip dengan Bejo. Ya, tak salah lagi, dia adalah anak kandung Bejo, Rachmat Irianto. Bejo lalu memperkenalkan Rachmat.

’’Dia bisa main di tiga posisi sekarang. Selain bek tengah, gelandang bertahan dan fullback juga bisa,’’ kata Bejo tentang anak sulung dari empat bersaudara itu. Rian -sapaan Rachmat Irianto- hanya mengangguk saat mendengar penjelasan ayahnya. ’’Tapi, sebenarnya saya dulu berangkat bukan dari bek, tapi striker,’’ ujarnya.

Rian lantas menjelaskan perjalanan karirnya. Dia mengawali kiprah di lapangan hijau bersama klub Bintang Timur. Klub itu merupakan ’’saudara’’ IM. ’’Saya terinspirasi untuk bisa mencetak banyak gol. Makanya, posisi pertama yang dipilih ya jadi penyerang,’’ ungkapnya.

Lambat laun, posisi main remaja 17 tahun tersebut berubah. Dia pernah menjadi bek tengah alias stoper. Dan, yang menyuruh Rian untuk ganti posisi adalah sang ayah. ’’Ayah bilang kalau jadi striker itu bahaya. Rawan benturan dengan bek lawan. Sudah, jadi bek tengah saja,’’ sambung Rian sambil menirukan suara ayahnya.

Awalnya, dia memang kurang sreg. Tetapi, berkat ’’iming-iming’’ Bejo bahwa dirinya lebih cocok menjadi stoper dan bakal menjadi pemain hebat, Rian tergiur. ’’Ternyata lumayan nyaman (jadi bek). Dan, keterusan sampai sekarang,’’ ucapnya, kemudian tergelak.

Posisi bek tengah yang dijalani Rian ikut andil membawa dirinya masuk skuad timnas U-13. Dia tampil di ajang Yamaha Cup 2013 di Malaysia. Sayang, kiprah Indonesia pada ajang antarnegara ASEAN tersebut hanya bertahan di fase penyisihan.

Meski begitu, di turnamen itu, Rian bisa bertemu pemandu bakat dari klub asal Malaysia, Frenz United. Mereka tertarik untuk menggunakan jasanya. ’’Tahun 2014 hingga 2016 saya gabung di Frenz karena beasiswa dari mereka. Semua saya lakukan sendiri,’’ kenangnya.

Bejo mengamini hal itu. Awalnya, dia enggan melatih Rian. Alasannya simpel. Dia ingin Rian serius menggeluti profesi pemain bola dengan dorongan dirinya sendiri. Padahal, saat itu Bejo belum melihat keseriusan buah hatinya.

’’Tapi, itu dulu. Setelah dia masuk timnas U-13 dan Frenz United, saya mulai memperhitungkan keseriusannya di sepak bola,’’ kata Bejo.

Bahkan, tidak jarang mantan kapten Persebaya tersebut juga memberikan wejangan dan trik-trik khusus. ’’Waktu nonton pertandingan di televisi, ayah juga sering mengingatkan saya untuk tidak melakukan kesalahan sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke layar,’’ ungkap Rian.

Perhatian Bejo kepada Rian semakin besar setelah keduanya bergabung di IM senior mulai tahun ini. Ditambah, Frenz United mengalami kebangkrutan pada medio 2016. Itulah yang mengakibatkan Ryan memutuskan kembali ke IM.

’’Sekarang, sedikit-sedikit ayah saya bilang jangan lupa latihan, jangan lupa makan yang bergizi biar kuat duel. Dan, yang terpenting jangan lupa untuk terus fokus di lapangan,’’ imbuh pemilik nomor punggung 3 di IM itu.

Meski begitu, Rian menolak bila dirinya disebut mendompleng nama besar Bejo. Meski harus diakui bahwa posisi bermainnya sama dengan sang ayah. ’’Ayah memang inspirasi utama. Tetapi, saya ingin menjadi besar dengan jalan dan atas nama saya sendiri,’’ ucapnya mantap.

Bukan hanya kesamaan posisi, style bermain keduanya juga mirip. Hal itu diungkapkan Hartono, salah seorang komisi wasit kompetisi internal Persebaya. Menurut dia, ketenangan Bejo membawa dan mengamankan bola di pertahanan menitis ke Rian.

’’Tetapi, secara fisik lebih tegas Rian. Saya masih ingat betul Bejo saat seumuran Rian. Dia masih polos dan kayak orang bingung. Beda dengan Rian yang cekatan. Hanya itu perbedaannya,’’ kata pria berkumis itu, lantas tertawa terbahak. (*/c19/bas)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up