alexametrics

Milla, Tae-yong, Gullit, atau Program 1.000 Pelatih Lisensi AFC Pro

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
5 Desember 2019, 07:00:18 WIB

JawaPos.com – Luis Milla dan Shin Tae-yong sudah presentasi program di hadapan petinggi PSSI. Ruud Gullit juga sudah dikontak. Benarkah nama besar mereka itu bisa membawa Timnas Indonesia berprestasi? Dan, apakah prestasi itu tolok ukurnya hanya juara Piala AFF?

Ya, bisa saja Piala AFF jadi tolok ukur. Sebab, kejauhan untuk bicara prestasi di Piala Asia. Kalau Piala Dunia malah lebih muluk-muluk. Namun, prestasi senyatanya adalah kita kembali jadi penguasa kawasan. Tidak tertinggal jauh di belakang Thailand atau bisa mengejar Vietnam.

Oh ya, dan tak perlu lagi deg-degan menghadapi Malaysia. Selama kita masih di level deg-degan menghadapi Malaysia, maka Thailand belum terkejar. Vietnam juga belum bisa kita samai.

Tentu saja, memiliki pelatih timnas yang berkualitas akan mendongkrak performa timnas. Tapi bagi saya, pelatih timnas itu beda dengan pelatih klub yang setiap hari bisa bersama para pemain dan bisa memilih pemain asing pula. Pelatih timnas punya waktu yang lebih sempit di sela-sela jeda kompetisi. Eh, sialnya tak ada jeda kompetisi yang jelas di kompetisi kita yang mahaberantakan ini.

Saya ibaratkan, pelatih klub bisa belanja ke pasar, ke supermarket, ke mal, atau via lapak online ketika ingin meramu resep masakan. Tapi, pelatih timnas hanya bisa memilih bahan yang tersedia di dapur. Benar, di dapur adalah bahan pilihan. Sudah disortir dari belanjaan para pelatih klub. Meski begitu, variasinya ya itu-itu saja. Bisa saja bahan di dapur sudah tidak segar lagi. Sudah layu. Atau ada bumbu yang kurang.

Beda situasi dengan di level U-16 atau U-19 yang bahannya datang dari alam, ditempa dan diramu dengan sabar pada waktu yang panjang, tim senior tak bisa begitu.

Sialnya, kita, bukan hanya PSSI, begitu menyukai sesuatu yang instan. Cepat saji. Meski mi instan pun butuh proses sebelum kita makan. Jadi, jangan salahkan juga PSSI ketika bicara meminta kepada Milla atau Tae-yong untuk memberikan dampak langsung, kita sebagai publik sepak bola juga sering berpola pikir seperti itu.

Pemimpin kita di federasi adalah refleksi kita sebagai masyarakat. Publik penikmat ataupun pendukung tim sepak bola. Akui saja, kita menginginkan klub kesayangan harus juara segera, promosi segera, selalu menang, tapi lupa caranya menang dengan kepala benar-benar tegak dan fair play. Segala cara dilakukan demi gelar. Lalu nanti saling tuding tim A dibantu, tim B dimudahkan, tim C dikerjai terus.

Kita sibuk bangga dengan trofi atau promosi meski sarat kontroversi. Kita bangga dengan tim yang selalu menang, tak peduli dengan cara yang curang. Sudahlah akui saja, kita punya andil merusak sepak bola kita. Mental instan dan yang penting menang sudah mendarah daging sehingga kurang peduli lagi dengan proses.

Memang, ada banyak pekerjaan rumah dalam membenahi sepak bola kita. Terlalu banyak untuk diurai satu-satu. Secara garis besar, benahi kompetisi. Benahi kompetisi. Benahi kompetisi. Tanpa atmosfer kompetisi yang sehat, jangan harap menghasilkan pemain yang sehat.

Selain itu, jangan terlalu instan. Sebab, beli kopi instan sachet pun ada proses sampai kita bisa menyeruputnya. Bukan beli sebungkus langsung ditelan. Ingat, proses.

Juga, seperti Jerman yang butuh belasan tahun untuk mencapai juara Piala Dunia 2014. Kegagalan era Michael Ballack jadi pelajaran untuk menuju ke era Thomas Mueller.

Padahal, kompetisi mereka sudah keren. Sudah sehat. Tapi, mereka tetap peduli dengan proses paling fundamental: pembinaan sejak usia dini.

Caranya? Perbanyak pelatih dengan kualifikasi lisensi UEFA Pro. Saat ini Jerman punya hampir 5.000 an pelatih dengan kualifikasi itu. Bayangkan, klub Bundesliga dan Bundesliga 2, paling mentok hanya menyerap belasan pelatih Jerman dengan lisensi UEFA Pro. Atau puluhan lainnya ke klub Eropa lain. Terus ribuan lainnya ngapain? Mungkin ada ratusan yang jadi asisten pelatih. Sisanya, jadi pelatih usia dini atau mengurusi akademi. Bayangkan para pemain sejak kanak-kanak sudah dilatih mentor dengan lisensi setara Juergen Klopp.

Apakah itu tanpa campur tangan federasi dan negara? Tentu saja ada campur tangan. Biaya untuk mendapat lisensi itu mahal. Bahkan di negara kita. Tanyakan saja ke Seto Nurdiantoro atau Djadjang Nurdjaman. Nah, di sinilah peran dari PSSI dan pemerintah perlu.

Ya, perbanyak pelatih Indonesia berlisensi AFC Pro. Berikan subsidi dan kemudahan kepada mereka yang pantas untuk dapat lisensi. Sekarang banyak jalur untuk dapat beasiswa. Kalau dosen dan guru bisa sekolah dengan beasiswa dari negara, kenapa tidak berikan juga beasiswa kepada pelatih yang berprestasi.

Saya yakin, sangat yakin. Bahwa dengan banyaknya pelatih berkualitas, maka akan semakin banyak pemain yang dihasilkan dengan metode pelatihan terkini.

Sama seperti guru atau dosen, pelatih bukan sekadar memproduksi roti bertitel sarjana atau pemain profesional, melainkan manusia dengan kualitas lebih baik. Tidak ada rumus yang sama untuk menghasilkan talenta seperti Egy Maulana atau Evan Dimas.

Harapan saya sebagai pecinta bola yang sering kecewa, semoga sepuluh tahun lagi, ada 1.000 pelatih Indonesia berlisensi AFC Pro. Kalau bisa lebih cepat dari sepuluh tahun, tentu lebih baik. Ketimbang instan kontrak pelatih dengan harga gila-gilaan, tapi putus di tengah jalan karena tak mampu bayar. Malu kita pak ketua. Malu.

Editor : Mohammad Ilham



Close Ads