alexametrics
Liga 1

Purwanto: Keputusan Wasit Wawan Menyalahi Aturan

2 Agustus 2019, 15:00:43 WIB

JawaPos.com – Wasit Wawan Rapiko memang telah diistirahatkan. Namun, kepemimpinannya dalam laga Persela Lamongan versus Borneo FC pada 29 Juli lalu di Stadion Surajaya, Lamongan, masih jadi perdebatan.

Mantan wasit nasional Purwanto mengatakan, keputusan Wawan di menit-menit akhir pertandingan tersebut menyalahi aturan permainan sepak bola atau law of the game FIFA. Keputusan tersebut menyangkut insiden yang melibatkan kiper Persela Dwi Kuswanto dengan gelandang Borneo FC Wahyudi Hamisi.

Saat itu Dwi Kus menanduk Hamisi dan wasit Wawan mengganjar keduanya kartu merah. Selain itu, Persela dihukum penalti. ”Hukuman dua kartu merah dan adanya hukuman penalti itu menunjukkan wasit tidak menjalankan aturan sesuai law of the game,” kata Purwanto.

Pria asal Kediri itu mengaku sudah mengamati video rekaman pertandingan tersebut. Terutama rekaman pada menit-menit sebelum, saat, dan sesudah insiden tandukan Dwi Kus. Menurut Purwanto, ada dua opsi yang bisa diambil wasit Wawan.

Opsi pertama adalah memberikan kartu merah kepada kiper Persela dan menghukum tim berjuluk Laskar Joko Tingkir itu dengan penalti. Opsi kedua adalah memberikan hukuman kartu merah kepada Dwi Kus dan Wahyudi Hamisi serta memberikan tendangan bebas untuk Persela. Jika satu di antara dua opsi itu yang diambil, tidak ada masalah.

”Kalau keputusan yang ambil di luar dua opsi tersebut, jelas keputusan itu menyalahi aturan,” ujar mantan anggota Komite Wasit PSSI tersebut. Nah, dalam pertandingan di Stadion Surajaya, Lamongan, itu, Wawan mengambil keputusan di luar dua opsi yang disebutkan Purwanto itu.

Purwanto pun mempertanyakan kartu merah yang diberikan kepada Wahyudi Hamisi ketika Persela juga dihukum penalti. Atas dasar apa diganjar kartu merah. Sebab, dia adalah korban tandukan Dwi Kus. Setelah ditanduk, gelandang asal Sulawesi Utara itu juga tidak melakukan aksi balasan.

”Kalau dikartu merah, lalu apa pelanggaran yang dilakukannya. Di mana, kapan, dan kepada siapa,” tanya Purwanto. Dengan fakta di lapangan, Wahyudi Hamisi tidak melakukan aksi balasan setelah ditanduk. Artinya, wasit menilai dia telah melakukan pelanggaran terlebih dahulu. ”Kalau seperti itu, berarti aksi kiper Persela tidak masuk pelanggaran. Tapi, kelakuan tidak sopan. Sebab, pelanggaran terjadi jika bola dalam permainan,” paparnya.

Nah, jika ternyata sebelumnya ada pelanggaran, bola sudah tidak dalam permainan ketika Dwi Kus menanduk Hamisi. ”Ini belum termasuk ada bunyi peluit sebelum insiden itu. Jika wasit meniup peluit sebelum insiden, keputusan wasit sudah menyalahi aturan,” jelasnya.

Dari rekaman video memang terdengar ada bunyi peluit saat perebutan bola antara Dwi Kus dan Wahyudi Hamidi beberapa saat sebelum insiden tandukan. Peluit itu bisa diartikan wasit memutuskan ada pelanggaran dalam bentuk gangguan kepada kiper saat duel perebutan bola.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : Fim/ali

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads