alexametrics

Dari Kami:  Buat Fans dan Kemeriahan Sepak Bola Indonesia

1 Juli 2019, 08:32:38 WIB

SEPERTI niat awal kami saat Jawa Pos melahirkan ikon Green Force dengan visualisasi Bonek mBengok (suporter teriak) yang dipasang pada logo berita pada lembar Olahraga, kami tak menyangka kalau akhirnya gambar itu disenangi para fans Persebaya Surabaya hingga begitu rupa. Kenapa Bonek Teriak? Agar Green Force main ngosek dan ngeyel, kata para Bonek. Dan setelah gambar itu sering kami pasang di Jawa Pos, ke mana pun kami berjalan di Kota Pahlawan, kami bertemu Bonek mBengok itu. Terus terang, kami trenyuh dan bahagia.

Nah, di tengah upaya keras berbagai pihak untuk menyehatkan persepakbolaan nasional saat ini, tim desain grafis di redaksi tercetus ide: Bagaimana kalau kita wujudkan gambar Bonek mBengok yang di-rejuvenasi? Istilah yang banyak dipakai emak-emak ketika perawatan di salon kecantikan. Agar terasa lebih fresh dan muda. Sebenarnya, ini adalah keinginan beberapa tahun silam, saat bos Azrul Ananda, yang kini menjadi presiden direktur Persebaya, masih di redaksi Jawa Pos.

Tapi, entah berapa puluh lembar sketsa yang telah dibuat oleh Budiono, ilustrator senior yang mencipta gambar Green Force itu, tetap tidak ada yang nyantol di hati redaksi. Kami sulit untuk sreg dengan rancangan Bonek mBengok yang lebih muda. Termasuk Budiono sendiri! Tapi, terus dicoba. Terus tidak sreg dan akhirnya menyerah. Berhenti.

Eh, keinginan lama itu, kira-kira tiga setengah bulan yang lalu, muncul lagi. Entah didorong rasa apa, ada salah satu sketsa yang ketika kami amati: rasanya cocok! Lalu, kami wujudkanlah logo berita dengan visual Bonek mBengok yang lebih muda dan baru itu pada hari ini. Bedanya dengan gambar sebelumnya, yang sekarang lebih milenial dan aksen guratan garisnya agak bau digital.

Setelah Green Force muda rampung, ternyata, imajinasi dan oret-oretan jalan terus. Tim grafis yang dipimpin Agung Kurniawan bahkan tambah bersemangat untuk merancang desain buat klub-klub yang tak punya ikon fans. Sebab, meski semua berlaga di kasta tertinggi, tim-tim hebat seperti Persipura dengan julukan Mutiara Hitam atau PS Tira yang berjuluk The Army ternyata belum begitu populer secara ikon. Maka kami pun kemudian banyak bertanya, mengamati, dan melakukan riset guna mencari simbol visual yang paling mewakili.

Selebihnya, kami hanya memberikan sentuhan ulang pada sebagian besar gambar-gambar yang sekarang sudah ada. Agar 18 tim Liga 1 yang didukung para suporternya itu dalam nuansa, style, dan kekuatan yang sama, dan sama-sama kerennya.

Dalam proses kreatif, Bupati Lamongan Fadeli banyak memberikan masukan untuk gambar Laskar Joko Tingkir, julukan Persela. Menurut dia, hanya perlu dicarikan sedikit sentuhan agar lebih mantap. Jadi, secara esensial, kami tak melakukan perubahan apa-apa. Termasuk buat Singo Edan (julukan Arema), Macan Kemayoran (Persija), dan lainnya yang memang sudah keren.

Sekali lagi, kami hanya mencoba mengkreasi. Tidak ada niat untuk merasa sebagai yang benar-benar memiliki. Karena semua memang untuk masyarakat pencinta bola tanah air.

Keinginan pemerintah agar sepak bola dalam negeri bisa maju dan menjadi industri yang berdampak pada peningkatan ekonomi tentu dimaksudkan sebagai kemajuan ekonomi bersama. Bukan hanya kesejahteraan pemain bola yang meningkat atau tingginya pendapatan dari sponsor untuk klub, tetapi juga dampak ekonomi bagi grass root sepak bola kita, yaitu para suporter.

Harapan kami, ke-18 logo fans klub sepak bola ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif yang seluas-luasnya: cetak T-shirt, slayer, poster, topi, tenda warkop, gantungan kunci, dan pernak-pernik lainnya. Untuk kemajuan dan kemeriahan sepak bola Indonesia. (*)


Logo-logo itu dapat diunduh secara bebas di link berikut ini: https://logofansfc.jawapos.com/

Editor : Dhimas Ginanjar

Close Ads