alexametrics

Tak Ada yang Lebih Besar dari Klub (Kecuali Lionel Messi)

29 Oktober 2020, 19:02:47 WIB

JawaPos.com – Josep Maria Bartomeu kukuh menolak untuk mundur meski FC Barcelona kalah memalukan 2-8 oleh Bayern Muenchen di perempat final Liga Champions musim lalu (15/8).

Bartomeu sebagai presiden Barca kala itu beralasan tak ingin meninggalkan klub kepada dewan sementara yang tentunya memiliki kekuasaan terbatas.

’’Hal termudah adalah mundur. Lalu, siapa yang mencari pelatih baru? Siapa yang menangani transfer? Siapa yang bertarung untuk membuat Leo (Lionel) Messi bertahan? Siapa yang menangani penyesuaian gaji?’’ papar Bartomeu kala itu di laman resmi klub.

Namun, mosi tidak percaya yang ditandatangani oleh 20.687 socios (dari syarat hanya 16.250) untuk menggulingkannya hingga kerugian Barca yang terus menggunung sejak musim lalu memaksa Bartomeu mengambil pilihan mudah itu.

Pria 57 tahun yang menjabat sejak 23 Januari 2014 itu resmi mengundurkan diri pada Selasa malam waktu setempat (27/10). Seluruh anggota dewan direksi turut mundur.

Bartomeu mulai bergabung dengan Blaugrana di masa kepresidenan Joan Laporta atau awal era milenial. Pria asli Catalan itu kemudian ditahbiskan sebagai presiden ke-40 Barca kala menggantikan Sandro Rosell enam tahun lalu.

Selama kepemimpinannya, Barca pernah memenangi semua ajang (La Liga, Copa del Rey, Supercopa de Espana, Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub).

Sama seperti kesuksesan Barca era Laporta dengan pelatih Pep Guardiola (2008–2012). Tapi, dalam dua musim terakhir, Bartomeu gagal menjadikan Barca sebagai tim yang kompetitif. Bahkan, Messi dkk nirgelar musim lalu.

Bartomeu mundur selang 24 jam sebelum Barca menghadapi Juventus di Turin dalam matchday kedua fase grup Liga Champions dini hari tadi (29/10). Atau berjarak tiga hari (24/10) setelah Barca kalah 1-2 oleh rival klasiknya, Real Madrid, di Camp Nou.

’’Itu (pengunduran diri Bartomeu, Red) sebenarnya hanya masalah waktu,’’ ucap Laporta kepada Mundo Deportivo. ’’Sudah saatnya Barca melakukan perubahan,’’ imbuh kandidat untuk pemilihan presiden Barca bersama Victor Font, Jordi Farre, Lluis Fernandez Ala, dan Agusti Benedito itu.

Sejatinya, perubahan yang paling mendesak bagi Barca bukan mendapatkan pengganti Bartomeu. Sebab, dewan sementara yang kini diketuai Carles Tusquets punya waktu tiga bulan (hingga akhir Januari) untuk mempersiapkan pemilihan presiden baru.

Yang paling krusial tak lain memastikan Messi tetap sebagai one-club men Barca. Tak bisa dimungkiri, megabintang asal Argentina tersebut sudah seperti ikon bagi Barca. Ketika pemain 33 tahun itu meminta dilepas musim panas lalu, dunia sepak bola, apalagi Barcelonistas, serasa ditimpa tsunami.

Ungkapan khas bahwa tidak ada yang lebih besar dari klub (entah itu pemain, pelatih, atau manajemen) sepertinya layak diperkecualikan untuk La Pulga alias Si Kutu.

’’Messi pantas mendapatkan segalanya. Stadion baru dan sponsor harus dinamai berdasar namanya. Barca harus mempertahankan ikonnya,’’ kata Gerard Pique, bek tengah Barca, kepada La Vanguardia.

Kontrak lama Messi kedaluwarsa akhir musim ini. Dia pun sudah bisa menjalin kesepakatan dengan tim lain pada Januari 2021. Padahal, seiring kondisi keuangan Barca yang karut-marut, kebijakan memperpanjang kontrak pemain malah disertai pengurangan gaji hingga 30 persen.

Meski begitu, Pique, kiper Marc-Andre ter Stegen, bek tengah Clement Lenglet, dan gelandang Frenkie de Jong sepakat meneken ekstensi kontra karena kecintaan pada Barca mengalahkan materi. Jadi, apakah dewan interim bisa mengupayakan perpanjangan kontrak Messi? Perlu diketahui, pemotongan gaji terkait kontrak baru pemain di-deadline klub harus beres sebelum 5 November nanti.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : io/ren/c18/dns



Close Ads