alexametrics
Catatan Final Liga Champions

Perang Keyakinan dan Keberuntungan

Oleh: Darmanto Simaepa
28 Mei 2022, 10:45:15 WIB

FINAL Liga Champions tahun ini adalah kisah tentang perang keyakinan. Dan juga keberuntungan.

Real Madrid bukan klub yang mendominasi kompetisi dan punya taktik terbaik. Bahkan beberapa kritik menganggap klub ini tak pantas masuk final.

Namun, sebutan raja Eropa bukanlah omong kosong. Real Madrid punya karakter juara, pantang menyerah, dan tak kalah penting: memperlakukan keberuntungan sebagai bagian dari permainan.

Liverpool, meski dianggap punya skuad yang dalam dan berada pada periode puncak kematangan, masih kelihatan rentan dan gugup. Terutama ketika menghadapi tim-tim yang disiplin.

Kelebihan utamanya, mereka punya Jurgen Klopp: pelatih yang yakin bahwa pertandingan sepak bola dimenangi oleh tim yang siap menghadapi kekacauan dan mengubahnya menjadi peluang dan keberuntungan.

***

Delapan bulan lalu, tak satu pun pengamat, bahkan petaruh, membicarakan Real Madrid akan melangkah sejauh ini. Kekalahan memalukan dari Sheriff Tiraspol di Bernabeu seperti membuktikan omongan orang: mereka sedang dalam masa peralihan.

Tapi, sejarah Real Madrid tidak mengenal transisi. Apalagi di Liga Champions. Liga inilah yang membentuk identitas dan karakter Madrid sebagai tim yang pantang menyerah dan mengubah ketidakmungkinan menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

Mereka selalu berada di tubir jurang. Menjadi bulan-bulanan PSG, Chelsea, dan Manchester City di sepanjang pertandingan. Namun, mereka selalu berhasil berkelit dari nasib buruk.

Ada suatu yang sangat khas Madrid di liga ini: keyakinan. Pantang menyerah, begitu Ancelotti menyebutnya. Mereka seperti tak pernah lupa pada ujaran tua: sepak bola memberi ganjaran kepada mereka yang terus berusaha dan percaya.

Sesuatu yang awalnya mustahil menjadi tak terelakkan. Operan punggung kaki Modric; kecermatan Benzema membaca kegugupan Donnarumma; ketepatan Rodrigo menuju kotak penalti…

***

Liverpool tidak selalu dekat dengan dewi keberuntungan. Namun, mereka punya Jurgen Klopp. Karismatik, emosional, dekat dengan pemainnya, Klopp selalu berhasil meyakinkan Liverpool bahwa kesuksesan akan datang usai kegagalan.

Klopp bukanlah pemenang berantai. Sejarah finalnya lebih banyak berisi kekalahan. Bahkan sebelum merasakan kompetisi liga papan atas, Klopp mengalami dua kegagalan pahit beruntun di Mainz.

Koleksi trofinya tak seberapa. Namun, justru karena ia jarang menang, setiap kemenangan timnya terasa lebih manis dan segar. Karena itulah, pendukung Dortmund masih menyanyikan namanya.

Karakter Klop bersenyawa dengan Liverpool. Sebagai tim kelas pekerja di kota industri yang diimpit oleh orang kaya –juragan minyak Timur Tengah, oligark Rusia, dan pengusaha kaya dan tamak dari Amerika– Liverpool dibawa Klopp sebagai underdog yang menggoyah kemapanan tim-tim yang bergelimang harta.

Pelukan hangat, tawa lebarnya, dan aura kehangatannya menyatu dengan semangat orang-orang yang datang ke Anfield dan bernyanyi: teruslah berjalan meski badai menghadang. Jangan takut menghadapi kesulitan. You’ll never walk alone.

Salah satu kehebatan Klopp adalah mengajak para pemainnya untuk bersama-sama menikmati usaha dan perjalanan mencapai final. ”Tidak ada tim yang bisa mendapatkan segalanya tanpa mengalami kegagalan,” Klopp mengatakan, ”bahkan tim juara selalu punya momen mengecewakan.”

***

PSG punya uang. Manchester City punya mekanik terbaik. Bayern Munchen punya stabilitas. Chelsea punya ragam pilihan taktik. Villarreal punya pelatih spesialis turnamen. Tapi di antara semuanya, Real Madrid dan Liverpool punya hal yang lebih berharga dan menarik: keyakinan kuat dan kemauan untuk menghadapi momen-momen kaotis sepak bola.

Kita menyukai keduanya karena bosan dengan sepak bola modern yang didominasi pembicaraan mengenai taktik, formasi, statistik. Sepak bola, pada dasarnya, adalah tentang manusia yang terus mengubah momen-momen sulit menjadi peluang. Mengubah titik nadir menjadi titik balik.

Kita akan menyaksikan final yang tidak memberikan pelajaran taktik atau pertandingan yang rapi. Tapi, final ini akan memberi kita perang keyakinan.

Mempertontonkan karakter pemain dalam menghadapi kesulitan dan mengubahnya menjadi keberuntungan. Final ini akan memberi banyak kejutan, menaikturunkan emosi, dan memaksa jantung kita terus berdebar sampai peluit terakhir dibunyikan. (*)

Darmanto Simaepa, peneliti di Czech Academy of Science, penulis buku Tamasya Bola dan Dari Belakang Gawang

Editor : Candra Kurnia

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads