alexametrics

Lionel Messi Bukan Maradona dan Takkan Pernah Menggapai Maradona

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
27 Juni 2019, 19:18:58 WIB

JawaPos.com – Nyaris di seluruh dunia, orang mengenal Lionel Messi sebagai apa adanya dirinya. Bintang terang yang tak tertandingi. Kecuali di Argentina. Di sana, dia lebih dikenal sebagai The Next Maradona.

Cobalah kita mengingat kembali betapa tertekannya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Saat kecil, terkadang, entah itu dilakukan orang tua kita atau orang lain, entah disengaja atau tidak, kita dibandingkan dengan anak tetangga, atau kakak, atau adik, atau bahkan dengan ayah kita.

Pada suatu titik, ketika gagal keluar dari bayang-bayang itu, membuat kita tak pernah menjadi diri sendiri. Kita sibuk menggapai titik puncak orang lain dan gamang akan titik puncak yang harusnya milik kita sendiri. Alhasil, kita sekadar menjadi bayangan. Tampak saat terang dan menghilang dalam gelap.

Tidak ada yang membandingkan Messi dengan legenda manapun di Barcelona. Tidak dengan Johan Cruijff atau yang lainnya. Sungguh berbeda dengan di Argentina. Messi dianggap sebagai penerus sang legenda, layaknya pernah disematkan kepada Ariel Ortega, Pablo Aimar, atau Andres d’Alessandro. Mereka dikenang sebagai pemain yang pernah disebut meneruskan jejak Maradona.

Saat ini, di antara para bintang, hanya satu manusia yang dianggap layak disetarakan dengan Messi. Dia adalah Cristiano Ronaldo. Nasibnya lebih baik ketimbang Messi. Setidaknya membawa Portugal menjuarai Euro 2016 dan ditambah trofi UEFA Nations League 2018–2019.

Betul, tahun lalu pemain terbaik dunia jatuh ke tangan Luka Modric, tapi cobalah kalau kita lebih jujur, lepas dari prestasi tahun itu, di dunia sepak bola saat ini, Messi dan Ronaldo adalah yang terbaik dari yang terbaik. Tanpa bandingan yang setara atau mendekati. Meski keduanya sudah kepala tiga.

Saya beberapakali mengalami momen ketika Messi bertanding membela Argentina maupun Barcelona, tim lawan memprovokasinya dengan teriakan Ronaldo, Ronaldo, Ronaldo sebagai sindiran. Atau sebaliknya. Untuk membandingkan dengan Maradona, maaf, level Messi dianggap masih terlalu cupu.

Lontaran kata dari para pendukung Argentina seringkali begitu mengusik telinga saya. Kerap saya dengar, ketika meliput Piala Dunia 2014 di Brasil, para pendukung Argentina mencibir Messi dalam obrolannya. Mereka katakan, dia bukan Argentina sejati. Dia berbeda dengan Maradona.

Wajar, Messi memang sudah tinggal di Barcelona sebelum masa remaja. Sebab, hanya klub raksasa Eropa itu yang mampu dan bersedia membiayai pengobatan penyakit langkanya. Kelainan hormon membuat pertumbuhannya lamban, tapi bakatnya tetap berkembang pesat. Karena itu, banyak pendukung Argentina yang menuding, Messi terlalu Spanyol atau mungkin lebih tepatnya Catalan.

Performanya gemilang bersama Barcelona. Sejak mengawali karir profesional pada 2004, Messi telah mengoleksi 27 trofi bersama Blaugrana. Lima gelar pemain terbaik dunia dalam genggamannya. Tapi, bersama Argentina, prestasi terbaik Messi adalah mencapai final pada Piala Dunia 2014 dan hanya bisa menatap trofi yang dibawa pulang Jerman.

Memang, setidaknya masih ada peluang baginya mengecap sekali lagi pertarungan di Piala Dunia 2022. Masalahnya, saat itu usianya sudah mencapai 35 tahun. Bukan lagi usia ideal bagi pemain sepak bola. Bahkan, sekaliber Messi. Karena itu, Copa America 2019 bisa menjadi kesempatan baginya mengangkat trofi, bukan hanya menatap trofi.

Apabila melihat komposisi skuad La Albiceleste, teramat sulit bagi Argentina mencapai final. Apalagi juara. Selama fase grup Copa America 2019, penampilan mereka sama sekali belum meyakinkan. Tim asuhan Lionel Scaloni tersebut kesulitan lolos dari grup B.

Start dengan kekalahan 0-2 oleh Kolombia (15/6) dan kemudian ditahan imbang Paraguay 1-1 (19/6). Mereka lolos langsung ke perempat final, selain karena menang atas Qatar 2-0 (23/6), juga lantaran pesaingnya Paraguay kalah oleh Kolombia pada waktu yang sama.

Saat ini, mereka telah mencapai perempat final dan melawan Venezuela (28/6). Namun, apabila mampu lolos ke semifinal, calon lawannya tidaklah mudah. Tuan rumah Brasil atau Paraguay yang siap menanti. Akan menarik apabila Brasil yang mencapai semifinal, tapi itu juga artinya tantangan luar biasa buat Argentina. Juga Messi.

Memang, dengan menjuarai Copa America 2019, belum akan membuat publik Argentina benar-benar memujanya. Mereka tetap akan mengatakan, Messi tak pernah lebih agung dari Maradona. Setidaknya, Messi bisa mengejar capaian pembandingnya yang lain: Cristiano Ronaldo.

Dan, apabila gagal kali ini, maka Messi tetaplah menjadi bayangan. Kecuali di Barcelona dan bagi para pengagumnya.

Editor : Mohammad Ilham

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads