alexametrics
Premier League

Di Tangan Abramovich, Chelsea Punya Tradisi Alumni Jadi Pelatih

26 Maret 2020, 19:19:51 WIB

JawaPos.com – Paling Chelsea. Begitulah yang dapat disimpulkan dari staf kepelatihan Chelsea musim ini. Selain sang pelatih utama, Frank Lampard, lima tangan kanannya pun semua pernah menjadi bagian di The Blues. Makin menguatkan tradisi Chelsea yang memberikan kesempatan kepada pemainnya masuk coaching role.

Chelsea memang sempat berpaling kepada Carlo Ancelotti (2009–2011), Antonio Conte (2016–2018), dan Maurizio Sarri (2018–2019). Tapi, trio allenatore berpengalaman asal Italia itu sepertinya hanya pelampiasan sesaat bos Chelsea Roman Abramovich.

Sebab, musim ini Abramovich kembali memberikan kursi kepelatihan kepada mantan pemain klub miliknya, Frank Lampard, yang masih hijau di dunia kepelatihan. Dia diberi kepercayaan menangani The Blues. Lampard datang ke Cobham Training Center –markas latihan Chelsea– dengan modal hanya menangani klub Championship Derby County selama semusim.

Padahal, secara histori, hanya Roberto Di Matteo sebagai mantan pemain yang kembali ke Chelsea dengan cerita indah. Mengantarkan West Bromwich Albion naik level ke Premier League, 2009–2010, Di Matteo didapuk sebagai karteker setelah Andre Villas-Boas dipecat di sepertiga akhir musim 2011–2012. Di Matteo mengakhiri durasi karteker selama tiga bulan dengan trofi yang sangat didambakan Abramovich, Liga Champions.

Di Matteo pun melebihi capaian Ruud Gullit (Piala FA) dan Gianluca Vialli (Piala FA, Piala Liga, Community Shield, Piala Winners, dan Piala Super Eropa). Gullit dan Vialli boleh dibilang mengawali kebijakan Chelsea memercayai mantan pemain sebagai pelatih klub yang bermarkas di Stamford Bridge tersebut. ”Klub (Chelsea) tidak peduli dengan minimnya pengalaman. Mereka memberiku kesempatan dan aku mengambil kesempatan yang diberikan,” ungkap Gullit tentang awal mula dirinya mendapat tawaran melatih Chelsea 14 tahun silam kepada Sky Sports.

”Sebab, aku pikir yang dibutuhkan Chelsea adalah seorang yang mempunyai keterkaitan dengan klub,’’ imbuh pria asal Belanda yang kini berprofesi pandit di beIN Sport itu.

Lampard yang mengikuti jejak Gullit, Vialli, dan Di Matteo pun beruntung karena musim ini dia tidak merasa ”sendirian”. Dia memiliki tangan kanan yang semuanya paham benar seluk-beluk Chelsea. Claude Makelele yang kini jadi technical mentor, misalnya, pernah memenangi Premier League 2004–2006 bersama Lampard. Begitu pula Henrique Hillario yang pernah setim dengan Lampard ketika memenangi tiga trofi bersama Chelsea di sepanjang 2006–2010. Dia jadi pelatih kiper Chelsea.

Tiga asisten Lampard lainnya; Jody Morris, Joe Edwards, dan Chris Jones; juga memiliki ”darah” Chelsea. ’’Chelsea klub besar. Jika tim-tim besar seperti Real Madrid, FC Barcelona, Bayern Muenchen, dan AC Milan punya nama-nama mantan pemain yang jadi pelatih, begitu pula Chelsea,’’ kata mantan gelandang Chelsea sebelum era Abramovich, Gustavo Poyet, kepada Goal.

Poyet yang kini menganggur setelah dua tahun lalu berhenti menjadi pelatih Girondins Bordeaux ternyata pernah diajak berdiskusi dengan Dewan Direksi Chelsea sebelum menunjuk Lampard. Terutama tentang layakkah mantan pemain kembali dipercaya duduk di kursi pelatih setelah tujuh tahun. ’’Frank punya pengetahuan dan pemahaman terhadap klub. Sebagai legenda klub, Frank tahu apa yang kami inginkan. Jadi, dia layak untuk pekerjaan itu (pelatih Chelsea, Red),’’ tutur Poyet.

Pekan lalu Abramovich menawari mantan gelandang Chelsea yang baru saja memutus kontraknya di Trabzonspor, John Obi Mikel, posisi coaching role di The Blues. ”Saya terkejut dengan tawaran itu, tetapi saya tidak terkejut dengan apa yang dilakukannya (Abramovich, Red) karena dia selalu menginginkan semua orang merasakan Chelsea sebagai rumah mereka,” beber Mikel kepada AOIFootball.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : ren

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads