alexametrics

Badai Pasti Berlalu Bagi Para Pencinta Serie A Italia

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
24 Juli 2019, 18:40:33 WIB

JawaPos.com – Pernah ada suatu masa di mana Serie A Italia adalah segalanya. Merajai kompetisi Eropa, menjadi pusat daya tarik pencinta bola dunia, para bintang utama menjadikannya tujuan, dan kemudian badai datang. Ego sebagai yang terbaik dan abai membenahi diri, jadi awal kejatuhan. Ketika badai datang, kehancuran jadi keniscayaan.

Il Sette Magnifico. Itu menjadi salah satu penanda kejayaan. Tujuh klub terbaik bersaing di posisi teratas. Saling mengalahkan. Saling menyulitkan. Tapi, mereka yang berada di bawah, tak pernah mudah ditaklukkan.

Juventus, AC Milan, dan Inter Milan memang paling agresif juga fantastis kala itu. Namun, ada AS Roma dan Lazio sebagai pengganggu kemapanan. Fiorentina dan Parma juga tak pernah membiarkan para elite berkuasa dengan semena-mena.

Pada dekade 1980-an, Juventus sekali juara dan Milan dua kali jadi raja di kompetisi termewah Eropa. Mulai final 1991 hingga enam edisi berikutnya selalu ada wakil Serie A di partai puncak. Di awal milenium, Milan dan Juve bertarung di final. Milan juga masih kembali ke partai puncak 2005 dengan tragedi Istanbul serta membalas Liverpool pada dua edisi berikutnya. Saat itu, badai sudah menerpa. Kejayaan tinggal sisa-sisa di pundak para bintang gaek.

Benar, Inter Milan di tangan Jose Mourinho bisa menjadi juara pada 2010. Tapi, itulah kali terakhir klub Italia berjaya. Hampir satu dekade berlalu, belum ada lagi yang cukup digdaya di Eropa. Juventus sangat berambisi, tapi tradisi dan Dewi Fortuna belum menyertai.

Juventus menjadi penanda datangnya badai. Serie A porak-poranda karena calciopoli, beragam praktik culas, isu keamanan stadion, kekerasan suporter, dan pengelolaan klub dengan sistem bakar duit. Serie A juga kurang peka zaman sehingga ditelan mentah-mentah oleh liga elite lainnya. Kini, Juventus kembali menjadi penanda kebangkitan setelah kehancuran yang ia timbulkan melahirkan depresi panjang.

Namun, membiarkan Nyonya Tua berjuang sendirian bukanlah jalan yang tepat untuk ditempuh. Il Sette Magnifico memang sulit terwujud kembali. Setidaknya dalam waktu dekat. Meski begitu, harapan datang dari Napoli dan semoga Inter serta saudara sekotanya ikut membantu. Duo ibu kota pun masih berjuang dengan terengah-engah tanpa stabilitas.

Apapun itu, Juventus telah menunjukkan kepada para pesaingnya akan sebuah cetak biru klub masa depan ala Italia. Era para sugardaddy murni telah berlalu di Italia seiring menipisnya kantong Berlusconi, Moratti, juga Sensi. Keluarga Agnelli memang masih bercokol di Turin, tapi dengan pendekatan yang berbeda. Bukan lagi bakar duit layaknya konglomerat Italia zaman baheula.

Juventus era baru membangun stadion sendiri. Bukan lagi menyewa ke pemerintah setempat layaknya klub Serie A lainnya. Keamanan lebih terjaga, kenyamanan penonton lebih terjamin. Pusat bisnis lainnya juga bisa dibangun di kawasan stadion. Otomatis pemasukan bertambah.

Saat ini, Juventus Stadium pun disebut sebagai Allianz Stadium sejak 2017. Kontrak itu berjalan hingga 2023. Sejatinya, hak penamaan stadion sudah dijual Juventus sejak 2011. Mereka memberikannya kepada agensi marketing olahraga Sportfive yang dimiliki Lagardere Sports senilai 75 juta euro atau setara Rp 1,17 triliun. Sportfive ini berkontribusi sejak stadion dibangun. Nah, Sportfive yang kemudian menjualnya ke Allianz.

Ketika Juventus membangun stadion yang menghabiskan dana 155 juta euro (Rp 2,4 triliun, mereka mendapat penopang dana dari beberapa pihak. Sportfive mendanai sebesar 35 juta euro (Rp 546 miliar), Istituto per il Credito Sportivo sebesar 60 juta euro (Rp 936 miliar), dan Nordiconad sebesar 20,25 juta euro (Rp 315 miliar).

Skema seperti itu bisa dicontoh klub lainnya. Ada beberapa klub Italia yang sudah merancang stadion sendiri. Atalanta membeli kepemilikan Stadion Azzurri D’Italia ke pemerintah kota Bergamo. Klub selevel Frosinone juga mengambil alih stadion Benito Stirpe.

Cagliari sudah mendapatkan izin pembelian Stadion Sant’Elia. Bologna juga proyeknya pada Januari tahun depan. Fiorentina, Venezia, Empoli, dan tentu saja AS Roma juga sedang berada dalam proses. Sampdoria, Bari, dan Brescia masuk dalam daftar berikutnya.

Jalan itu dipermudah dengan ambisi Italia yang ingin menjadi tuan rumah Euro 2028. Ketimbang pemerintah sibuk membangun stadion, alangkah lebih baik menjualnya ke klub dan klub yang nantinya membangun sesuai dengan standar yang dibutuhkan.

Lalu, bagaimana dengan klub seperti Milan dan Inter. Akankah terus bertahan di San Siro atau juga disebut Giuseppe Meazza? Rencananya itu sudah ada, meski masih rencana. Apabila telat terlaksana, mereka bisa tertinggal ketimbang klub Italia lainnya yang secara tradisi tak sehebat mereka.

Stadion hanya satu instrumen. Masih banyak instrumen lain. Namun, pada dasarnya, dengan membaiknya bisnis sepak bola di Italia, maka dapat menarik bintang sepak bola untuk datang ke sana. Begitu mereka datang, maka sorotan akan kembali tertuju. Hak siar dan penjualan merchandise pun terkerek.

Badai pasti berlalu bagi sepak bola Italia dan para pencintanya. Dan, saat badai berlalu, selalu meninggalkan kerusakan dan meluluhlantakkan semua yang tersapu olehnya. Namun, itu juga bisa menjadi penanda sesuatu yang baru. Saat badai berlalu, kita punya pilihan untuk bangkit atau terjebak selamanya di sana.

Editor : Mohammad Ilham

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads