alexametrics

Preview Inter Milan vs UC Sampdoria: El Toro Setiap 104 Menit

22 Mei 2022, 09:54:05 WIB

JawaPos.com – Ketika Inter Milan merengkuh scudetto Serie A musim lalu, nama Lautaro Martinez dan Romelu Lukaku jadi sorotan dengan dominasi golnya bagi Nerazzurri –julukan Inter.

Ketika itu, hampir separo gol Inter di Serie A diciptakan dua pemain tersebut. Dari 85 gol Inter, 41 gol lahir dari duet yang disebut Lau-Kaku tersebut.

Dengan perincian, 24 gol diciptakan Lukaku dan 17 gol kreasi dari El Toro –julukan Lautaro.

Musim ini, setelah kepergian Lukaku ke Chelsea, semua berubah. Lautaro bak berjuang sendirian. Dari 81 gol Inter di Serie A, 21 gol atau seperempat gol lahir dari kreasi Lautaro.

Dominasi yang makin menonjol jika dia mampu menjebol gawang UC Sampdoria dalam laga penentuan scudetto di Stadio Giuseppe Meazza malam ini (22/5) (siaran langsung beIN Sports 3 pukul 23.00 WIB).

Tak hanya menambah koleksi golnya di Serie A, gol itu pun menjadi tambahan rekor bagi attaccante berkebangsaan Argentina tersebut.

Dia bisa menegaskan catatannya yang dapat menciptakan rata-rata satu gol per 104 menit di Serie A. Lautaro hanya kalah cepat oleh Mauro Icardi yang pernah membukukan rata-rata satu gol dalam 102 menit.

Yang jelas, rekor Lautaro itu sudah melebihi catatan Diego Milito pada 2012–2013 dengan satu gol setiap 105 menit.

Allenatore Inter Simone Inzaghi tak pernah merasa kehilangan Lau-Kaku. ’’Wajar ketika kami berhadapan dengan sikap skeptis setelah kehilangan pemain utama kami musim lalu.

Tetapi, kami tahu bagaimana cara mengatasinya. Dalam perjalanannya, kami menyadari kami sudah bisa melampaui harapan,’’ klaim Simo –sapaan akrab Simone– seperti dikutip Tuttomercatoweb.

Dia menyadari, berapa pun gol Lautaro tak akan jadi jaminan Inter memenangi scudetto musim ini. Apalagi dengan melihat situasi bahwa AC Milan hanya butuh satu poin untuk meraih scudetto.

Dia pun siap menerima kritik dan dibandingkan dengan Antonio Conte, sosok yang musim lalu membawa Inter memenangi Serie A.

Selain Lautaro, ada Joaquin Correa yang juga dari Argentina. Bedanya, Correa tidak semoncer Lautaro.

Situasi ini sekaligus mementahkan anggapan, semakin banyak Argentinos, semakin besar pula peluang Inter memenangi scudetto. Berbeda seperti saat mendominasi puncak Serie A pada 2006–2010.

Terutama pada 2005–2006 ketika mendapat ’’hadiah” Scudetto setelah skandal calciopoli Juventus. Ketika itu, Inter besutan Roberto Mancini diperkuat delapan Argentinos.

Yakni, Javier Zanetti, Nicolas Burdisso, Walter Samuel, Juan Sebastian Veron, Kily Gonzalez, Santiago Solari, Julio Cruz, dan Esteban Cambiasso.

Editor : Candra Kurnia

Reporter : ren/c17/dra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads