alexametrics
Catatan: Ilhamzada

Wahai Milanisti, Angkat Minumanmu, Bersedih Bersama-sama

22 Februari 2021, 12:30:59 WIB

JawaPos.com-Senin memang hari yang menjengkelkan. Tak heran ada istilah ”I Hate Monday.” Bahkan, grup band The Boomtown Rats pernah merilis lagu berjudul I Don’t Like Mondays.

Bagi pelajar, hari pertama untuk kembali ke sekolah. Bagi pekerja kantoran, ini jadi hari pertama untuk kembali ruwet dengan tumpukan pekerjaan. Semuanya tak sabar menunggu Sabtu yang masih lama.

Lebih menjengkelkan lagi apabila tim kesayanganmu kalah dalam pertandingan akhir pekan. Seperti yang saya rasakan hari ini. Klub kesayangan saya baru saja kalah telak 0-3 dalam derby Milan.

Ya, AC Milan dibantai oleh klub sekotanya, Inter Milan, dalam Derby della Madonnina. Maaf, saya tidak sedang ingin mengulas laga yang Zlatan Ibrahimovic tampak sesuai dengan usianya.

Saya hendak berbagi tentang beratnya Senin bagi pecinta bola. Rentetan pertandingan menarik selama akhir pekan memaksa mereka begadang. Harus pintar berbagi waktu dengan keluarga atau kekasih.

Bek Inter Milan Skriniar (kiri) mengadang striker AC Milan Zlatan Ibrahimovic pada derby Milan di San Siro tadi malam (21/2). (Miguel Medina/AFP)

Sabtu dan Minggu justru jadi hari yang padat bagi pecinta bola. Melelahkan. Lebih melelahkan lagi kalau tim kesayangan kalah. Lelah hati saat menonton dan harus siap mental pada keesokan harinya.

Ya, saya ingat betul ketika masih remaja. Ketika media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram belum lahir. Senin benar-benar siksaan. Harus siap mental dari terjangan lidah tajam teman sekolah.

Saya juga yakin, situasi serupa dialami mereka sudah bekerja. Sudah sumpek karena hari pertama bekerja, makin menjengkelkan karena harus mendengar ejekan kepada klub kesayangan.

Semua pernah mengalami momen itu, kecuali fans Manchester United di era Sir Alex Ferguson. Begitu lama mereka merasakan nikmatnya kemenangan demi kemenangan. Apa itu kekalahan?

Bisa jadi, pekan ini mereka terpeleset, tapi pekan selanjutnya menang lagi, dan ujung-ujungnya tetap dapat piala di akhir musim. Sampai dengan gaya mereka punya istilah: form is temporary, class is permanent.

Tapi, itu masa lalu, Bung.

Setelah mengalami masa indah yang begitu panjang bersama Sir Alex. Selama 27 tahun. Fans United akhirnya merasakan perihnya jadi penggemar sepak bola. Akhirnya merasakan roda nasib berputar.

David Moyes membuat Setan Merah insyaf. Bukan lagi iblis, hanya selevel tuyul. Louis van Gaal sebagai pengganti juga hanya membuat Theatre of Dream hanya menjadi mimpi buruk. Jose Mourinho sama saja. Kini, nikmatilah perjalanan bersama Ole Gunnar Solskjaer.

Kalau tiba-tiba ada yang menyela, ”Eh, ngapain bahas Manchester United. Kan Milan yang kalah. United baru saja menang atas Newcastle United 3-1.” Sabar, nanti akan ketemu juga benang merahnya.

Saking lamanya menikmati kejayaan, fans United ini menjadi kurang siap dengan musim pancaroba. Dampaknya, mudah banget mereka tersulut dengan ejekan yang ditujukan ke klub kesayangan.

Sedikit saja klubnya diserempet, telinga jadi panas, hati mendidih, dan jari jemari pun langsung memencet tombol-tombol untuk serangan balik. Andaikan serangan balik Marcus Rashford dkk di lapangan setajam serangan balik fansnya melalui media sosial.

Sayangnya, tidak.

Namun, itu wajar. Kelamaan berada di atas roda nasib, tentu saja kaget kalau berada di bawah. Tergencet oleh nasib. Terlalu lama nyaman berada di puncak, lalu tiba-tiba mogok di tanjakan.

Justru yang kurang wajar apabila Milanisti mudah mendidih hatinya ketika klub kesayangan kalah. Maksud saya begini, Milanisti itu sudah mengalami semua posisi dalam roda nasib.

Pernah berjaya pada Arrigo Sacchi dan dilanjutkan Fabio Capello pada era akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Tapi, juga pernah medioker di tangan Oscar Tabarez atau Fatih Terim.

Jadi jagoan lagi ketika masa Carlo Ancelotti, juga bisa sedikit bangga pada era Massimiliano Allegri. Tapi, akhirnya berdarah-darah selama hampir satu dekade terakhir.

Resep lama memberikan kesempatan kepada mantan bintangnya untuk menjadi pelatih rupanya kurang manjur. Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, Cristian Brocchi, dan Gennaro Gattuso, gagal.

Terobosan dengan memberikan kesempatan kepada Marco Giampaolo juga kurang menghasilkan. Kini, ada sedikit harapan di tangan Stefano Pioli. Tapi, berharap juara, sepertinya berlebihan.

Dengan mental yang sudah diuji seperti itu, akan sangat aneh apabila pada hari ini ada Milanisti yang patah hati sampai mau bunuh diri. Kalau itu berlebihan, tetap juga aneh kalau ada Milanisti yang jarinya lincah melakukan serangan balik di media sosial.

Seharusnya ya biasa saja sebagai Milanisti itu. Menang senang, seri tak perlu sedih, kalah ya sudah.

Tenang saja, Milanisti punya banyak teman kok. Maksudnya teman yang sama-sama menderita. Ada Arsenal yang lupa caranya berpesta. Ada United yang sibuk menghitung trofi di museum. Atau Barcelona yang sedang merana.

Baca Juga: Bermain Luar Biasa Dominan, Inter Bantai Milan 3-0, Kukuh di Puncak

Pada dasarnya, menikmati sepak bola itu ya seperti ini. Sama seperti menikmati kehidupan. Mending seduh kopi dan kemudian mendengar lagu dari Hindia berjudul Secukupnya. ”Kita semua gagal, angkat minumanmu, bersedih bersama-sama.” (*)

Ilhamzada adalah Milanisti yang sedang menanti terbitnya buku pertama berjudul: Pesta, Bola, dan Cerveja.

Editor : Ainur Rohman




Close Ads