alexametrics

Memukul, Meludah, Makian Rasial: PSG vs Marseille Adalah Noda Hitam

15 September 2020, 14:00:14 WIB

JawaPos.com – ”Mereka (Olympique Marseille, Red) hanya bayi”. Begitu tulisan pada banner yang dibentangkan Ultras Paris Collective −fans garis keras Paris Saint-Germain (PSG)– sebelum Le Classique di Parc des Princes kemarin (14/9).

Bayi? Ya, karena OM tidak pernah mengalahkan PSG selama sembilan musim terakhir atau sejak 27 November 2011.

Provokasi yang malah membuat OM bermain solid untuk mengakhiri tren negatif mereka. Gol winger Florian Thauvin pada menit ke-31 sekaligus memberi kekalahan kedua bagi PSG dalam dua journee awal. Start terburuk juara bertahan Ligue 1 dalam 36 tahun terakhir.

Awal perkelahian terjadi saat striker Olympique Marseille Dario Benedetto terlihat sengaja melanggar gelandang Paris Saint-Germain Leandro Paredes. (Franck Fife/AFP Photo).

Namun, ada yang lebih memalukan. Para pemain PSG dan OM menjadikan Parc des Princes tak ubahnya arena UFC. Lima kartu merah dan 14 kartu kuning keluar dari saku wasit Jerome Bisard.

Rekor kartu merah terbanyak dalam era modern Ligue 1. ’’Aku seperti menghadiri parodi sepak bola yang meninggalkan reputasi buruk bagi kedua klub. Benar-benar memalukan!’’ kritik kolumnis sepak bola Prancis Pierre Menes kepada Canal+.

Meski sudah panas sejak awal, tensi meninggi saat laga memasuki menit keenam injury time. Berawal dari pelanggaran striker pengganti OM Dario Benedetto kepada gelandang PSG Leandro Paredes. Masing-masing kemudian menerima kartu kuning kedua sehingga harus meninggalkan lapangan.

Insiden dua pemain Argentina itu merembet ke rekan setimnya. Bek kiri PSG Layvin Kurzawa maupun bek kiri OM Jordan Amavi saling adu pukul dan adu tendang. Kartu merah diberikan kepada mereka.

Di tengah keributan itu, bintang PSG Neymar Jr sempat memukul bagian belakang kepala bek tengah OM Alvaro Gonzalez. Wasit memang tidak melihatnya. Tapi, dari informasi wasit video assistant referee (VAR), Bisard tanpa ampun memberikan kartu merah bagi Neymar. Pemain dengan biaya transfer termahal dunia itu sempat mengadu kepada hakim garis bahwa tindakannya karena mendapat hinaan rasial dari Alvaro.

Melalui akun Twitter-nya, Neymar membeberkan kejadian sebenarnya. ’’Sangat mudah VAR melihat seranganku. Sekarang apa ada yang tahu bahwa dia (Alvaro) memanggilku ’monyet sialan’? Saat aku melakukan sombrero, aku dihukum. Ketika aku memukul, aku dikeluarkan. Bagaimana mereka (yang berkata rasis)?” cuit striker timnas Brasil tersebut.

Alvaro ternyata tidak asing berhadapan dengan Neymar. Keduanya pernah membela klub yang terlibat rivalitas klasik di La Liga. Alvaro memperkuat RCD Espanyol, sedangkan Neymar bersama FC Barcelona. Derbi Barceloni di antara mereka pun terjadi selama dua tahun (2014 sampai 2016).

Namun, melalui akun Twitter pula, Alvaro menyangkal telah mengucapkan kata-kata rasis. ”Tidak ada tempat untuk rasisme. Terkadang Anda harus belajar bagaimana rasanya kalah dan menerimanya di lapangan,’’ sindir bek 30 tahun berkebangsaan Spanyol tersebut.

Jika melihat dari tayangan televisi dan gerakan bibir Alvaro, pemain yang membela OM sejak musim lalu itu kerap terlibat friksi dengan Neymar. Kata-kata monyet pun seperti terlontar. Jurnalis Telefoot Chaine Gregoire Margotton melaporkan, Neymar sempat memberi tahu rekan-rekannya bahwa Alvaro memakinya dengan kata-kata rasis.

Jurnalis RTL David Ariello menyebut, PSG sedang mencari bukti visual soal ulah rasialis Alvaro. ’’Mereka (PSG) menanggapinya dengan serius dan akan mengajukan bukti-bukti secepatnya,” sebut Ariello.

Jika terbukti benar, sanksi larangan bermain selama enam laga sudah menanti Alvaro mengacu sanksi bagi pelaku ujaran rasialis lainnya.

Di sisi lain, OM juga siap mempermasalahkan ulah pemain PSG atas Alvaro. Bukan Neymar, melainkan winger Angel Di Maria. Itu terungkap setelah Di Maria tertangkap kamera meludahi Alvaro.

Meludah dalam pertandingan di masa pandemi Covid-19 sudah masuk dalam pelanggaran. Terlebih meludahi pemain lawan.

Apalagi, Di Maria (termasuk Neymar) baru selesai menjalani karantina setelah hasil tesnya positif korona. ”Aku melihatnya (momen Di Maria meludahi Alvaro, Red). Aku berharap itu tidak menjadi noda hitam sepak bola di negeri ini,” kata entraineur OM Andre Villas-Boas di laman resmi klub.

Pelanggaran protokol kesehatan bisa berbuah sanksi larangan empat laga bagi Di Maria.

Selain insiden lima kartu merah, keributan yang diwarnai kontak fisik para pemain PSG dan OM jelas-jelas menunjukkan diabaikannya protokol kesehatan. Hal itu menjadi ironi bagi Ligue 1 setelah musim lalu menjadi satu-satunya liga elite Eropa yang memilih untuk mengakhiri kompetisi lebih dini karena kekhawatiran persebaran Covid-19.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : ren/c6/dns



Close Ads