alexametrics

Hai, AC Milan dan Manchester United, Kapan Kalian Bisa Move On

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
11 Juli 2019, 18:20:48 WIB

MOVE ON. Kata yang mudah diucap, tapi begitu sulit dilakukan. AC Milan dan Milanisti masih mengenang masa bahagia selama era Silvio Berlusconi. Juga, masih terjebak dalam keterpurukan akibat luka yang dibuat Yonghong Li. Situasi yang tak beda jauh dialami Manchester United.

Kenangan penuh kejayaan di era Sir Alex Ferguson, masih terus membayangi langkah mereka. Tatkala kesulitan bangkit, para fans mulai berbicara soal betapa mereka pernah jadi penguasa Premier League. Mereka juga masih belum bisa menerima sakit yang diderita pada masa pancaroba.

Setiap pelatih yang menangani Setan Merah, selalu saja dibandingkan dengan Sir Alex. Perbandingan yang tidak adil, bahkan untuk pelatih sekaliber Louis van Gaal dan Jose Mourinho. Apalagi, hanya sekelas David Moyes atau sekarang Ole Gunnar Solskjaer.

Sama halnya dengan masa lalu penuh luka, masa lalu yang penuh kebahagiaan juga bisa jadi hantu yang menakuti kita melihat peluang baru di masa datang. Itulah yang membuat fans United terus-menerus meratapi kepergian Sir Alex. Masih sibuk mengenang kejayaan yang singgah begitu lama di teater impian.

Padahal, tantangan masa depan sudah berbeda. Ya, sedikit banyak ada yang tertinggal saat kita melangkah maju. Kita tidak pernah tahu apa yang akan benar-benar terjadi di hadapan kita nanti. Bisa saja kekecewaan, kehancuran, atau mungkin sebuah peluang. Tapi, menoleh ke belakang, takkan membawa kita ke mana pun.

Terkadang, ada baiknya kita menoleh ke belakang. Entah mengenang kejayaan atau mengorek luka. Kita bisa belajar dari sana. Namun, terus-menerus menoleh ke belakang, hanya akan membuat kita menutup pintu akan peluang baru yang mungkin terhampar.

Sebelum jauh bicara soal masa depan, tuntaskan dulu fase move on. Itulah yang kudu dilakukan Milan dan Milanisti serta United beserta fansnya. Semua periode yang terjadi, memang tidak akan pernah hilang. Baik luka atau bahagia akan tersimpan rapi dalam long term memory. Sifatnya abadi. Tak lekang oleh waktu.

Tak ada ceritanya kita bisa melupakan itu. Lebih parah lagi apabila kita sering memanggil memori itu dengan menengok terus ke belakang. Dalam istilah psikologi ada namanya latent inhibition. Milan dan United terbiasa dengan kejayaan, lalu saat tidak jaya, maka terasa tidak biasa. Kita sulit menerima yang tak biasa itu. Terutama fans.

Tidak ada cara lain selain berdamai dengan keadaan. Berdamai dengan luka atau tidak terus-menerus mengenang bahagianya saja. Yang sudah berlalu tak bisa diubah. Mesin waktu tidak ada. Jadi, yang bijak dilakukan adalah menyiapkan diri untuk hari ini dan besok. Fokuslah akan sesuatu yang bisa diubah.

Milan sepatutnya menyadari, mereka bukan lagi tim tajir layaknya era Berlusconi. Bukan lagi eranya sugardaddy. Maka, langkah tepat mulai dilakukan Ivan Gazidis dengan membenahi struktur keuangan klub. Memanggil pulang para legenda klub seperti Paolo Maldini dan Zvonimir Boban.

Benar, Maldini maupun Boban belum tentu menghadirkan solusi instan. Tapi, semangat dari mereka akan menulari seluruh sendi Rossoneri. Relakan pemain bintang yang ingin pergi seperti Gianluigi Donnarumma. Karena apabila dia ingin bertahan, maka Milan akan lebih kuat. Sebab, Donnarumma bertahan bukan karena terpaksa.

Rawatlah harapan yang masih tersisa dari seluruh tim. Kalau hanya bisa mendatangkan pemain dengan sistem pinjaman, maka lakukan. Kalau hanya bisa merekrut pelatih dengan level medioker, bukan level dunia layaknya Antonio Conte atau Carlo Ancelotti, maka dukunglah Marco Giampaolo dengan sepenuh hati.

Tak ada beda dengan United. Selepas kepergian Sir Alex, sang owner semakin menggila dengan menjadikan klub sebagai mesin pengeruk uang semata. Tidak ada yang bisa menjadi filter sekuat Sir Alex di sama silam. Ed Woodward selaku CEO juga hanya kepanjangan tangan dari owner yang rakus.

Solskjaer memang pelatih saat ini. Tapi, pria Norwegia itu tidak berdaya dalam mengatur rencana pramusim. Pernah dia mengeluh, bagaimana mungkin bisa menyiapkan tim dengan baik untuk bertarung pada musim baru kalau terlalu disibukkan dengan pertandingan komersil.

Selama pramusim, David de Gea dkk harus terbang ke Australia, lalu Singapura, Tiongkok, Norwegia, sebelum menuju Wales. Berapa jam penerbangan yang harus dihabiskan para pemain ketimbang fokus di lapangan menyiapkan diri menghadapi musim mahaberat ketika Manchester City dan Liverpool sudah begitu tangguh.

Silakan kenang kembali era Sir Alex, tapi gunakan dengan cara yang tepat. Bukan sekadar mengenang tanpa makna. United masih menjadi yang terdepan secara komersil, tapi prestasi nol besar saat ini. Jadi, bolehlah menoleh spion agar kita berhati-hati dalam melangkah, tapi kalau terus-menerus melihat spion, maka kita takkan ke mana-mana.

Sulit meragukan pengalaman sebagai guru terbaik. Namun, ingat juga ia guru paling kejam. Ia menghukum terlebih dulu baru mengajari. Jadi, apabila terhukum, maka segeralah ambil pelajaran, berdamai dengan diri sendiri, dan move on. Ah, sepertinya kita perlu move on. Mungkin, lebih spesifik lagi, saya butuh move on.

Editor : Mohammad Ilham