alexametrics

Berkejaran dengan Sepak Bola

Oleh ZEN R.S.*
11 Juni 2021, 14:12:45 WIB

PANDEMI sempat membuat sepak bola menghilang. Namun, pandemi juga yang membuat olahraga (termasuk sepak bola) bisa muncul dari tempat-tempat yang tidak terduga.

Di awal-awal pandemi, saya sempat melihat beberapa orang bermain sepak bola dengan cara yang absurd. Dalam sebuah video pendek yang viral, beberapa orang saling menendang dari satu rumah ke rumah yang lain. Masing-masing dari mereka berdiri di taman yang berada di halaman belakang rumah. Bola ditendang dan melenting melewati pembatas berupa pagar yang dilebati tanaman rambat.

Olahraga individual lebih mungkin lagi dilakukan dengan cara-cara yang mengejutkan. Daftarnya bisa sangat panjang. Pan Shancu berlari ultramaraton mengitari dua meja makan di ruang tamunya di Hangzhou sebanyak 6.250 putaran, atau 50 km, dalam 4 jam 48 menit 44 detik. Elisha Nochomovitz, yang sedianya hendak mengikuti lomba maraton di Barcelona, memutuskan menggantinya dengan lari bolak-balik di sepanjang 7 meter balkon flatnya di Toulouse.

Bolak-balik ribuan kali di rute yang hanya sepanjang 7 meter, kata Elisha yang bekerja sebagai manajer restoran, lebih menghadirkan tantangan mental ketimbang fisik. Ada gema pernyataan Haruki Murakami tentang berlari pada kalimat itu. Anda yang berolahraga sendirian, dalam status sebagai amatir yang tak punya urusan dengan kompetisi, akan digoda oleh dorongan berhenti. Buat apa terus berlari? Bukankah tidak ada yang melarang berhenti? Ayolah, tak ada piala buat keringatmu!

Saya paham apa yang dimaksud Elisha karena, seperti banyak orang lain, saya juga mulai mencoba ”bergerak”. Dan, dalam usaha saya untuk bergerak, yang dipicu oleh kecemasan akan kondisi fisik yang rentan di hadapan virus berengsek ini, saya menciptakan batas-batas untuk ditembus. Hari ini 2 kilometer dulu, minggu depan ayo kita coba 2,5 kilometer, lalu 3 kilometer, dan seterusnya. Di sanalah pertarungan dengan diri tergelar dalam hening batin sendiri.

”Dalam lari jarak jauh, satu-satunya lawan yang harus Anda kalahkan adalah diri sendiri,” kata Haruki Murakami dalam meditasinya tentang berlari, What I Talk about When I Talk about Running.

Tepat ketika kita disarankan, didorong, bahkan dipaksa, untuk berdiam diri selama pandemi, dorongan untuk bergerak semakin tidak tertahankan. Siapa yang mendorong kita untuk terus-menerus bergerak?

Setelah jutaan tahun bergerak hanya mengandalkan kaki, lalu mamalia berkaki empat, kita akhirnya bisa terhubung satu sama lain dengan cara-cara yang tidak pernah dibayangkan oleh sepupu-sepupu kita sesama anggota genus homo, juga oleh Hawa dari Afrika yang menyebarkan mitokondria sapiens ke berbagai penjuru dunia. Dari James Watt dengan mesin uap, Alexander Graham Bell dengan telepon, Wright bersaudara dengan pesawat hingga orang-orang dalam proyek Arpanet yang menemukan internet, spesies sapiens berhasil merampat-papankan ruang dan waktu.

Bergerak dan terhubung telah menjadi pencapaian terhebat spesies kita. Kita didorong sampai jauh oleh naluri bergerak dan bukan berdiam, sehingga kita, kali ini saya mengutip Blaise Pascal yang kala menuliskannya sudah beranjak sepuh, ”lebih senang mengejar ketimbang menggali”.

Pascal yang sudah tidak lagi tertarik mencari jawaban atas berbagai rahasia alam itu pula yang, pada epigram yang sama dari kutipan di atas, yaitu epigram ke-139 dari buku Pensees, menulis: ”Semua ketidakbahagiaan manusia muncul dari ketidaksanggupan kita diam di kamar masing-masing.”

Ketidakmampuan diam bersama pikiran sendiri mungkin bukan masalah besar secara langsung, tapi kemampuan kita memang buruk dalam hal itu. Kita tidak bisa, atau lebih tepat: tidak sanggup, menjauh dari distraksi karena, jangan-jangan, berjumpa diri sendiri (ketakutan, kecemasan, harapan, kemarahan) memang sehoror-horornya duel.

Berlari, bergerak, berpindah dari satu hal menuju hal lain dalam waktu cepat, dalam kesinambungan yang tak terperi, adalah jualan terhebat dari ajang seperti Piala Eropa dan Piala Dunia. Ajang-ajang itu sama-sama memanggungkan sepak bola seperti yang biasa kita saksikan tiap akhir pekan. Aturan mainnya juga sama. Pemain-pemainnya juga ya masih itu-itu juga. Bedanya, ya, itu tadi: kita menyaksikannya secara maraton, terus-menerus, berhari-hari, nyaris tanpa jeda, selama sekitar sebulan penuh.

Para penguasa industri sepak bola tahu persis hasrat kita itu. Sehingga, dari waktu ke waktu, jumlah pertandingan di ajang-ajang sepak bola multinasional terus diperbanyak. Dari yang tadinya dua grup, lalu empat, dan kini enam (dalam konteks Piala Eropa). Hal itu juga dilakukan di ajang kompetisi antarklub Eropa: jumlah peserta Liga Champions semakin banyak, kompetisi antarklub Eropa juga akan ditambah menjadi tiga (tak hanya Liga Champions dan Liga Europa, tapi juga Liga Konferensi Europa), bahkan ada ide untuk membuat turnamen antarnegara berlangsung dua tahun sekali.

Apakah rasa lapar akan pertandingan sepak bola menjadi terpuasakan? Jelas tidak. Rasa lapar itu pula yang membuat simulasi sepak bola, atau permainan, menjadi candu baru yang mengerikan. Beragam simulasi sepak bola, atau permainan, dari waktu ke waktu terus bertambah. Setiap hari, berbagai game dirilis dengan beragam tingkat kesulitan dan kecanggihan.

Dirongrong oleh bujuk rayu rezim gamifikasi untuk ”nikmatilah permainanmu!”, kita tidak benar-benar bersenang-senang. Kita menjadi budak dari industri permainan yang kenikmatannya tidak pernah benar-benar terpenuhkan.

Permainan, yang dulu menjadi bagian inheren perayaan waktu senggang, telah menjajah waktu senggang itu sendiri sehingga hari ini kita tidak pernah lagi tahu kapan sebenarnya waktu senggang itu dimulai dan berakhir.

Paralel dengan itu, teknologi yang digadang-gadang akan membuat kerja-kerja praktis menjadi lebih efisien karena digantikan mesin, sehingga John Maynard Keyness pernah memprediksi (pada 1930) bahwa negara seperti Inggris dan Amerika Serikat akan memberlakukan jam kerja hanya 15 jam per pekan, ternyata yang terjadi malah sebaliknya.

Dalam esai panjangnya yang provokatif, Bullshit Jobs, David Graeber menemukan teknologi justru telah membuat manusia bekerja lebih banyak daripada sebelumnya (silakan angkat tangan yang jam kerjanya bertambah justru saat bekerja dari rumah!). Antropolog urakan nan progresif itu juga berhasil membuktikan: era teknologi canggih justru menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru tidak penting yang ia sebut sebagai bullshit jobs, shit jobs, dan gabungan keduanya.

Kita tinggal dalam lanskap sosial yang sedemikian itu. Kita juga berhadapan dengan sepak bola, dan Piala Eropa, dalam lanskap yang sama. Kita maraton dalam kegilaan masing-masing mengejar pemenuhan berbagai hal yang tampaknya musykil terpenuhkan.

Baca juga: Turki vs Italia: Jalan Gigio agar Bisa Seharum Gigi dan Dino

Piala Eropa, atau Piala Dunia, yang biasanya menjadi ajang mengambil jeda dari berbagai kesulitan dan kepahitan hidup, kali ini mungkin perlu dinikmati secara berbeda: tontonlah sesedikit mungkin pertandingan karena terlalu banyak membuat sepak bola semakin gameful ketimbang playful.

Semoga kita dijauhkan dari hidup, juga sepak bola, yang (makin) membosankan. (*)

*) ZEN R.S., Penulis buku ”Jalan Lain ke Tulehu: Sepakbola dan Ingatan yang Mengejar” dan ”Simulakra Sepakbola”

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads