alexametrics

Di Arab Saudi, Barcelona Alami Kekalahan Menyesakkan Atas Atletico

11 Januari 2020, 11:19:43 WIB

JawaPos.com – Jika di Inggris saat ini terkenal Kloppage time milik Liverpool, di Spanyol ada tiempo Cholismo kepunyaan Atletico Madrid. Keduanya memiliki kesamaan makna, yakni gemar mencetak gol telat di babak kedua.

Cholismo diambil dari sistem taktik entrenador Atleti Diego Simeone yang mirip dengan gegenpressing milik Juergen Klopp bersama The Reds.

Untuk tiempo Cholismo, FC Barcelona menjadi korban terbaru Atleti saat kalah 2-3 pada semifinal Supercopa de Espana dini hari kemarin. Semua gol Los Colchoneros –julukan Atletico Madrid– terjadi pada babak kedua. Masing-masing dicetak Koke pada menit ke-46, Alvaro Morata pada menit ke-81 lewat eksekusi penalti, dan Angel Correa pada menit ke-88. Sedangkan dua gol Blaugrana –julukan Barcelona– diceploskan oleh Lionel Messi (51’) dan Antoine Griezmann (62’).

Tiga gol itu kian mengukuhkan bahwa Atleti memang gemar mencetak gol selepas turun minum. Dari 33 gol musim ini di semua ajang, 25 gol atau 75,7 persen terjadi pada paro kedua.

Kemenangan pada laga yang dihelat di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, itu sekaligus membalas kekalahan 0-1 pada jornada ke-15 (2/12) La Liga. Di final, Atleti sudah ditunggu rival sekota, Real Madrid (13/1). Laga itu bakal jadi Derbi Madrileno kedua setelah edisi 2014 yang dimenangi Atleti.

”Mereka (Barca, Red) adalah salah satu tim terbaik di dunia. Tetapi, pertandingan harus dimainkan sampai akhir,” ucap Simeone seperti dilansir El Mundo Deportivo. ”Real memainkan sepak bola sangat bagus melawan Valencia (9/1). Laga final tentu akan sangat sulit bagi kami,” lanjut pelatih dari Argentina tersebut.

Kebalikan dari Atleti, kekalahan kemarin kian menegaskan bahwa paro kedua jadi handicap nyata bagi Barcelona musim ini. Dari 30 kebobolan di semua ajang, 17 di antaranya atau 56,7 persen terjadi selepas turun minum.

Hal itu diakui striker Barca Antoine Griezmann. Menurut pemain dari Prancis yang juga mantan winger Atletico tersebut, Barca kalah karena inkonsistensi dan kesalahan sendiri yang seharusnya tak terjadi.

”Kami semua melakukan kesalahan dan harus membayar mahal untuk itu dengan bekerja ekstrakeras pada laga-laga selanjutnya. Kesalahan seperti itu bisa membuat Anda kehilangan Liga Champions atau La Liga,” ucap Grizi –sapaan Griezmann.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : io/c11/tom


Close Ads