alexametrics

Pantaskah Joao Felix Dihargai Rp 2 T? Penerus Kaka atau Rui Costa?

Ulasan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
8 Juli 2019, 19:55:36 WIB

JawaPos.com – Pemain termahal ketiga di dunia. Itulah status yang berada di pundak Joao Felix setelah transfernya dari Benfica ke Atletico Madrid senilai 126 juta euro atau setara hampir Rp 2 triliun. Pertanyaannya, apa yang membuat pemain berusia 19 tahun itu layak dibayar sebanyak itu?

Sebelum mengulas lebih dalam soal kualitas permainannya, coba kita pahami pujian dari legenda Portugal Manuel Rui Costa tentang Felix. ”Banyak yang bilang dia (Felix, Red) adalah penerus saya atau penerus Kaka. Tapi, sejujurnya, Felix adalah Felix. Dia sangat luar biasa dalam memahami pertandingan dan punya kemampuan langka untuk mengetahui posisi terbaik depan gawang,” jelas mantan pemain Fiorentina dan AC Milan itu kepada BBC.

Musim lalu menjadi momen fantastis buat Felix. Ketika Benfica masih dilatih Rui Vittoria, dia memang jarang dimainkan. Namun, ketika Bruno Lage menjabat sebagai pelatih mulai Januari, dia langsung mencetak dua gol pada laga pertama bersama Lage. Lalu, di akhir musim bisa mencapai 20 gol dari 43 laga di semua ajang.

Di antara para pemain belasan tahun di Eropa, gol Felix hanya kalah banyak oleh gelandang Bayer Leverkusen Kai Havertz yang berusia 19 tahun. Pesaing dia lainnya adalah winger Borussia Dortmund asal Inggris Jadon Sancho. Dan, saat ini, soal harga, dia sudah jauh melewati keduanya.

”Karakternya mirip Kaka dalam pandangan saya. Cara dia menggiring bola, mengkoneksikan permainan, dan gol-golnya. Mengapa dia sangat spesial? Dia campuran antara pemain nomor 9 dan pemain nomor 10. Dia bermain layaknya second striker. Dia punya tandukan yang bagus, meski bukan pemain yang dahsyat secara fisik,” jelas Carlos Carvalhal, pelatih asal Portugal yang pernah menangani Swansea City.

Berdasarkan ulasan Total Football Analysis, posisi favorit dari Felix adalah nomor 10 dalam skema 4-2-3-1. Atau pemain yang berada tepat di belakang striker. Meski begitu, dia juga bisa enjoy di posisi winger kiri dalam skema 4-3-3.

Musim lalu, meski lebih banyak bermain dalam posisi nomor 10, tapi dia juga sering menyisir ke area kiri sayap. Pelatih Benfica Bruno Lage sangat memahami bahwa dengan permainan timnya yang begitu mengalir akan bisa memberikan kesempatan kepada Felix lebih optimal bermain di belakang striker dalam skema 4-2-3-1.

Ketika menyerang, lawan kudu mewaspadai pergerakan tanpa bolanya. Dia tampak begitu dewasa dan cerdas dalam mencari ruang kosong di antara ketatnya pertahanan lawan. Tatkala salah satu bek tengah lawan lengah dengan sibuk mengejar striker, Felix akan mengambil kesempatan itu.

Kemampuan passing Felix juga di atas rata-rata. Bahkan, masuk dalam daftar lima besar terbaik di Liga Portugal. Sangat jarang dia melakukan kesalahan passing. Pada Mei tahun lalu ketika Portugal U-21 melawan Italia U-21, akurasi passingnya mencapai 94 persen. Dia piawai dalam penguasaan bola.

Sudah begitu, sebagian besar passing-nya selalu berorientasi serangan atau ke depan dan merusak garis pertahanan lawan. Kalau Pep Guardiola membenci istilah tiki-taka, karena dianggap hanya menguasai bola tanpa makna, maka Felix menjadikan penguasaan bola dan umpannya penuh makna. Selalu bisa menghasilkan setidaknya umpan kunci. Kita nantikan saja, sejauh mana kiprahnya bersama Atletico Madrid.

Editor : Mohammad Ilham