alexametrics

Lampard Bakal Pakai 4-3-3 di Chelsea, Kante Bisa Perankan Single Pivot

Ulasan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
6 Juli 2019, 12:00:24 WIB

JawaPos.com – Frank Lampard akhirnya kembali ke Chelsea sebagai pelatih. Pria 41 tahun itu legenda hidup The Blues. Namun, bukan jaminan akan sukses pada musim pertamanya. Akankah dia menjadi Pep Guardiola bersama Barcelona atau Zinedine Zidane bersama Real Madrid atau Ole Gunnar Solskjaer bersama Manchester United?

Tentu saja, melihat legenda klub datang kembali sebagai pelatih, harapan besar diberikan suporter. Mereka bangga karena pahlawan di masa silam pulang dan siap menghadirkan kejayaan baru. Dianggap sebagai sosok yang paham betul dengan tradisi klub. Tapi, tetap saja, ini adalah perjudian.

Jam terbang Lampard sebagai pelatih masih seumur jagung. Pria yang berkontribusi akan 13 gelar selama 13 musim membela Chelsea itu baru mengawali karir pelatih pada awal musim lalu bersama klub level kedua Inggris, Derby County. Dan, dia mampu membawa Derby mencapai playoff.

Masih terlampau dini untuk menilai Lampard bisa sukses atau gagal bersama Chelsea. Namun, berdasarkan rekam jejaknya bersama Derby, saya akan mencoba mengulas apa yang mungkin dilakukannya bersama Chelsea yang sangat ambisius sejak era Roman Abramovich berkuasa.

Apakah gaya melatih yang diterapkan tepat untuk para pemain Chelsea? Nah, untuk itu kita perlu mempelajari skema yang biasa dia mainkan bersama Derby musim lalu. Bersama Derby selama satu musim, Lampard paling sering memakai skema 4-3-3. Setidaknya sebanyak 77 persen dari total laga musim lalu.

Namun, Lampard juga pelatih yang tidak miskin taktik. Faktanya, ada delapan skema permainan yang pernah dijajalnya selama semusim. Bahkan, ada 3 persen di antaranya menjajal formasi tiga bek. Dalam beberapa musim terakhir, Chelsea kerap melakukan perubahan taktik yang drastis dari satu pelatih ke pelatih lainnya.

Ketika Antonio Conte berkuasa, skema tiga bek sangat sering dipakai. Begitu di tangani Maurizio Sarri, Chelsea memainkan skema empat bek. Paling sering, mantan pelatih Napoli itu menerapkan 4-3-3. Situasi yang memudahkan Lampard apabila dia konsisten memakai 4-3-3 sebagaimana di Derby.

Memang, Derby gagal promosi ke Premier League, tapi di tangan Lampard, publik mengakui pekerjaannya berjalan cukup menjanjikan. Berbeda dengan Sarri yang begitu keras kepala memakai 4-3-3 ala Sarri Ball, Lampard sedikit lebih luwes dan kadang 4-3-3 ala Lampard lebih condong ke 4-3-2-1.

Taktik yang membuat banyak kombinasi untuk bermain di area tengah, di mana penyerang, winger, dan gelandang berada pada jarak yang dekat satu sama lain. Pola itu sering dilakukan dalam serangan Derby.

Perubahan utama ketimbang musim sebelumnya adalah energi permainan yang lebih bertenaga, baik dengan atau tanpa bola. Pressing tinggi dilakukan lini depan untuk memberikan bantuan pada pertahanan dan berlari di antara pemain saat penguasaan bola.

Derby membangun serangan dari belakang, membuat posisi para pemain berada di tempat yang tepat dan bagus dalam menerima bola, di mana mereka tidak berada dalam posisi berbahaya dalam tekanan lawan. Mereka memainkan bola cepat di tengah dan beberapa pemain cepat untuk memberikan lini serang banyak opsi. Itulah identitasnya. Situasi yang membuat mereka memainkan bola langsung menuju kepada para pemain di lini serang, sehingga mereka sering melakukan ancaman selama pertandingan.

Saat melakukan build-up serangan, bek tengah berada pada posisi berdekatan, sangat tidak biasa untuk tim yang mengawali serangan dari belakang. Itu memberikan mereka kesempatan opsi passing yang simpel kepada gelandang bertahan yang datang mendekat dan bisa memberikan passing pertama dalam serangan.

Yang berbeda dengan 4-3-3 Chelsea musim lalu adalah Lampard memainkan single pivot di tengah. Dia memasang pemain yang cenderung bertahan dan bukan seorang pengumpan layaknya Jorginho. Itu artinya, N’Golo Kante yang perannya sempat terreduksi musim lalu bisa kembali dapat tempat spesial dengan skill-nya.

Ketika bertahan, Derby di tangan Lampard sangat cepat berubah menjadi 4-5-1 ketika kehilangan bola. Para gelandang serang akan dengan cepat turun ke tengah untuk menutup area. Di tangan Lampard, Derby tidak melakukan pressing dengan agresif. Begitu lawan menguasai bola dan membangun serangan, Derby biasanya berupaya memenuhi area tengah dan menjebak lawan ke arah sayap.

Gaya bermain Lampard yang hobi melesatkan sepakan jarak jauh selama dia masih aktif, ternyata dipraktikkan di Derby. Para pemainnya diberikan kebebasan untuk melepas tembakan jarak jauh. Musim lalu, tugas itu paling sering dilakukan Tom Lawrence yang mencetak 10 gol.

Apabila melihat gaya melatih di Derby, kemungkinan 4-3-3 akan tetap menjadi andalan Lampard. Karena tidak bisa merekrut pemain pada musim ini, maka cara terbaik adalah memaksimalkan pasukan yang tersedia sembari memberikan kesempatan kepada pemain muda seperti Mason Mount dan Fikayo Tomori yang musim lalu membela Derby.

Saya memperkirakan, dalam skema 4-3-3 ala Lampard, posisi kiper tentu saja masih milik Kepa Arrizabalaga. Lalu, empat bek sejajar akan dihuni bek kanan César Azpilicueta, Antonio Ruediger, Andreas Christensen atau David Luiz, serta Marcos Alonso di bek kiri.

Di tengah, N’Golo Kante bisa berperan sebagai single pivot. Di mana dia bukan hanya bertugas mematahkan serangan, melainkan juga mengalirkan bola. Hanya, selama ini, Kante lebih efektif dalam skema double pivot. Gelandang Prancis itu ketika ditangani Antonio Conte lebih dimainkan sebagai box-to-box dengan Nemanja Matic sebagai partner double pivot. Musim depan, apabila jadi single pivot, dia mungkin ditopang Ruben Loftus-Cheek dan Mateo Kovacić yang bermain lebih ke depan.

Ketimbang winger murni, tampaknya Lampard lebih suka memainkan gelandang serang kanan dan kiri. Itu diperankan Christian Pulisic dan Willian. Mereka akan menopang striker utama yang entah belum saya pahami siapa yang paling pantas.

Jadi, menurut Anda kira-kira Lampard bisa meneruskan kisah Guardiola dan Zidane atau kisah Solskjaer?

*) Ulasan ini disarikan dari berbagai sumber dan salah satunya dari Total Football Analysis.

Editor : Mohammad Ilham


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads