alexametrics

Berhati-Hatilah Juventus, Inter di Tangan Conte yang Alergi Kegagalan

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
5 Agustus 2019, 17:17:15 WIB

JawaPos.com – Latihan belum dimulai. Penyemprot otomatis masih menyemburkan air ke penjuru lapangan. Pemain-pemain satu persatu atau kadang bergerombol masuk area latihan. Fotografer-fotografer sibuk menyiapkan alat-alat kerja mereka. Beberapa wartawan mulai sibuk dengan laptopnya atau sekadar bercengkrama dengan rekannya.

Saya sibuk mengirim pesan pendek ke rekan-rekan di tanah air terkait apa yang akan ditulis hari itu.

Matahari mulai menampakkan diri dengan malu-malu. Suasana begitu tenang pagi itu. Di tengah keasyikan kami, tiba-tiba terdengar suara menggelegar bak petir memecah kesunyian. ”Giorgiooooo. Giorgio!” Para fotografer yang sedari tadi sibuk dengan perkakasnya langsung menatap ke lapangan. Begitupun kami para wartawan tulis. Bahkan, anjing Rottweiler yang menemani penjaga keamanan berkeliling sempat tersentak.

Pria yang dipanggil Giorgio tak lain adalah bek senior timnas Italia. Ya, Giorgio Chiellini. Dan, satu-satunya orang yang paling mungkin berteriak dengan nada seperti itu adalah Antonio Conte. Entah alasan apa yang membuat Chiellini masih berada di sudut lapangan yang lain ketika rekan-rekannya sudah berkumpul di tengah lapangan mengitari sang pelatih dan stafnya.

Chiellini menggaruk kepalanya yang saya yakin tidak gatal dan berlari bergabung dengan para pemain lainnya.

Itulah kali pertama saya menyaksikan langsung Conte memimpin pasukannya berlatih. Kami, para jurnalis, hanya diberi waktu 15 menit awal untuk menyaksikan Conte memimpin latihan. Kami hanya sempat melihat Gianluigi Buffon dkk pemanasan. Dari pandangan pertama itu, tergambar Conte sebagai sosok yang tegas, tanpa pandang bulu, dan penuh kendali.

Demi menyaksikan latihan pagi itu di musim panas saat Prancis menjadi tuan rumah Euro 2016, saya nekat menerjang hujan gerimis dini hari di Marseille. Pagi buta saya menuju stasiun Saint Charles agar mendapatkan kereta tercepat menuju Montpellier.

Musim panas itu, Italia bukanlah juara turnamen. Namun, Conte tetap jadi bintangnya. Dari timnas Italia, dia kemudian direkrut Roman Abramovich untuk membawa kejayaan buat Chelsea. Setelah itu, kita tahu bersama kisah Conte dan Chelsea.

Selepas kisahnya bersama The Blues usai, Conte memilih menepi dari lapangan bola. Dan, pada musim panas ini, dia kembali ke tepi lapangan bersama Inter Milan yang berambisi mengakhiri dominasi Juventus di Serie A. Dengan rekam jejaknya dan berbanding rekam jejak pelatih Nyonya Tua saat ini, peluang itu terbuka.

Liburan telah berakhir bagi Conte. Saatnya dia bekerja. Dan, dia bukan pria yang suka bekerja, melainkan pria yang butuh bekerja. Dia tergila-gila bekerja. Pernah dalam wawancara dengan ESPN, dia berkisah tentang bagaimana menghabiskan 24 jam dalam sehari. ”Saya tidur lima jam dan memberikan waktu tiga jam untuk keluarga. Itu membuat saya punya 16 jam sisanya untuk bekerja.”

Andrea Pirlo, mantan pemain yang pernah ditangani Conte sampai memuji Elisabetta, istri sang pelatih. Sungguh pengertian menghadapi Conte yang keras kepala menurut Pirlo. ”Saya tahu dia (Conte, Red) terbangun pada pukul 3-4 dini hari, mempelajari video, melihat apa yang keliru, dan belajar tentang lawan yang dihadapi berikutnya,” kata Pirlo.

Alasan mengapa Conte begitu terobsesi dengan pekerjaannya adalah dia alergi akan kegagalan. Pria kelahiran Lecce itu memberi nama Vittoria untuk putrinya. Tentu saja, itu menggambarkan ambisinya untuk selalu menang. Hanya kemenangan yang bisa membuatnya merasa tenang dan damai. Bila tidak, maka perang terjadi di kepalanya.

Karena obsesi akan kemenangan itu, seringkali membuat Conte punya relasi yang rumit dengan pasukannya. Penyebabnya, tidak ada kompromi bagi Conte. Ketika bek senior selevel Chiellini diteriaki seperti itu, kita bisa bayangkan betapa dia pria yang tanpa segan berkonfrontasi.

Di Chelsea, hubungannya rumit dengan Diego Costa. Bermula dari pesan singkat, berujung pada terbuangnya Costa dari Stamford Bridge. Lalu, baru saja mendarat di Milan dengan menukangi Inter Milan, Conte sudah mendepak gelandang asal Belgia berdarah Indonesia Radja Nainggolan.

Tanpa kompromi. Itulah Conte. Dan, sikap itu sudah menjadi jati dirinya sejak bermain. Carlo Ancelotti bercerita kepada The Times, saat melatih Juventus, dia sudah menyadari bahwa Conte akan menjadi pelatih hebat suatu saat nanti. Sebab, dia sangat dihormati di ruang ganti. Ide-idenya tentang permainan sepak bola juga seringkali membuat Ancelotti mengerutkan dahi untuk berpikir.

Namun, yang lebih penting, Conte bisa menjadi pemimpin di antara ruang ganti pemain yang berisi Paolo Montero, Edgar Davids, Didier Deschamps, dan Ciro Ferrara. ”Itu adalah ruang ganti yang brutal. Saya memiliki daftar pemain paling bandel dan keras kepala,” kenang Ancelotti.

Masih ingat Montero? Si pemegang rekor kartu merah terbanyak sepanjang masa di Serie A. Selama karirnya, dia dijatuhi 21 kali kartu merah. The Times memasukkan namanya dalam daftar ke-39 pemain paling brutal sepanjang sejarah sepak bola. Dan, saat itu, Montero begitu respek kepada Conte.

Karena itulah, keputusan terbaik Inter pada musim ini bukan dalam belanja pemain, melainkan mampu meyakinkan Conte. Selain, kepiawaian Conte dalam meramu taktik yang pas, kebutuhan Nerazzurri adalah membangkitkan kembali mentalitas sebagai tim elite. Sesuatu yang selama ini raib entah ke mana.

Dalam beberapa musim terakhir, Napoli sendirian dalam menghadang dominasi Juventus. Nyonya Tua bagai truk raksasa yang melaju kencang tanpa rem di Serie A. Untungnya, musim ini supirnya berganti. Ini momen bagi pria yang alergi kegagalan untuk membuat oleng laju truk yang dikemudikan Maurizio Sarri.

Editor : Mohammad Ilham



Close Ads