alexametrics
Premier League

Start Manchester United di Tangan Solskjaer Lebih Parah daripada Moyes

2 Oktober 2019, 09:00:50 WIB

JawaPos.com – Era David Moyes pada musim 2013–2014 pernah dianggap sebagai era terburuk Manchester United di Premier League. Hingga dipecat pada April 2014, Moyes hanya bisa membawa United ke papan tengah klasemen. Namun, jika perbandingannya adalah hasil yang diraih pada tujuh laga awal Premier League, era Ole Gunnar Solskjaer di musim keduanya justru lebih terpuruk. Jika pada tujuh laga awal musim 2013–2014 Moyes bisa mengemas 10 poin dan menempatkan United di peringkat kesembilan, Solskjaer lebih parah.

Mantan winger United itu hanya bisa mengoleksi sembilan poin di tujuh laga awal musim ini. Tambahan satu poin diperoleh saat United dipaksa bermain seri 1-1 saat menjamu Arsenal di Old Trafford kemarin. United pun tercecer di peringkat kesepuluh atau satu setrip di bawah posisi United era Moyes pada tujuh laga awal musim 2013–2014.

Sembilan poin dalam tujuh pertandingan menjadi start terburuk United sepanjang keikutsertaan di Premier League. Itu bahkan lebih buruk daripada perolehan 10 poin musim lalu saat dilatih Jose Mourinho.

Bahkan, apabila skala diperluas ke era Divisi Utama, performa United musim ini paling jeblok dalam 30 tahun terakhir. Mereka ’’hanya’’ lebih baik daripada musim 1989–1990 dengan tujuh poin dari tujuh matchweek.

’’Kami memasuki momen sulit yang menuntut kami untuk terus bekerja keras. Tetapi, tim ini masih menghadirkan kepercayaan diri bagi saya,’’ ucap Solskjaer seperti dilansir The Guardian.

Pernyataan Ole, sapaan akrab Solskjaer, tampaknya, hanya menghibur diri. Memang, hasil hingga matchweek ketujuh bukan tolok ukur utama kegagalan menjadi kampiun Premier League. Tetapi, United sudah tertinggal 12 poin dari Liverpool yang berstatus pemuncak klasemen.

Satu poin atas Arsenal kemarin juga membuat statistik perolehan poin Ole lebih buruk daripada Mourinho. Total, Ole mengoleksi 49 poin dari 28 pertandingan terakhir United. Sementara itu, Mourinho mengumpulkan 51 angka dalam 28 pertandingan terakhirnya bersama Setan Merah. Padahal, 51 poin itulah yang membuat pelatih asal Portugal tersebut dipecat tahun lalu sebelum Ole menggantikan posisinya.

Salah strategi pada bursa transfer musim panas menjadi salah satu penyebab bobroknya United. Mereka melepas dua pemain di lini depan, Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez, tanpa mendatangkan pengganti. United pede dengan Anthony Martial dan Marcus Rashford. Tetapi, ketika keduanya melempem atau cedera, opsi pemain berpengalaman di lini depan habis. Mereka hanya menyisakan Mason Greenwood. Remaja 18 tahun itu baru mencetak masing-masing satu gol pada matchweek pertama fase grup Liga Europa melawan FC Astana (20/9) dan putaran ketiga Piala Liga kontra Rochdale (26/9).

Performa United kemarin bahkan membuat dua eks pemainnya, Gary Neville dan Roy Keane, berselisih paham. Pemicunya, dua orang yang kini menjadi pandit di Sky Sports itu menyampaikan analisis berbeda. Neville mengatakan bahwa penampilan United pada babak kedua cukup baik. Pernyataan tersebut mendapat sanggahan dari Keane. Eks kapten United itu mengatakan bahwa penampilan pada babak kedua sangat buruk karena posisi United yang unggul 1-0. Seharusnya United bisa menyelesaikan laga dengan kemenangan.

Tetapi, Keano –julukan Keane– berada di pihak Ole. Pria 48 tahun itu mengungkapkan bahwa United dan suporter harus lebih bersabar kepada Ole yang saat ini berada dalam tekanan besar.

’’Dia pria berkelas meski tidak diragukan lagi sangat kecewa karena tidak memenangi cukup banyak pertandingan. Dukung dia pada bursa transfer (Januari 2020, Red) dan beri waktu kepada anak-anak (para pemain United),’’ kata gelandang yang berkostum United pada 1993–2005 itu.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : io/bas


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads