alexametrics
Sumpah Pemuda 2018

Bagi Rendi dan Dedik, Rivalitas Cuma 90 Menit, Selebihnya Saudara

28 Oktober 2018, 00:32:28 WIB

Aktivis asal India Kailash Satyarthi pernah menulis bahwa tidak ada ruas dalam masyarakat yang bisa menyaingi kekuatan, antusiasme, dan keteguhan hati para pemuda. Satyarthi benar. Karena itulah semangat Sumpah Pemuda seharusnya terus mengilhami Indonesia.

Pads edisi khusus Sumpah Pemuda 2018 hari ini, Jawa Pos mengangkat beberapa cerita tentang para pemuda yang berada dalam gelanggang yang sama, tetapi kebetulan memiliki pandangan, sisi, dan keberpihakan yang berbeda. Walau begitu, mereka sepakat bahwa bangsa InI adalah yang utama. Para pemuda ini mungkin bisa menjadi inspirasi. Bahwa kita bisa saja berbeda, tetapi tetap satu jua. Indonesia! Artikel pertama, dari Rendi Irawan (Persebaya) dan Dedik Setiawan (Arema FC).

Bagi Rendi dan Dedik, Rivalitas Cuma 90 Menit, Selebihnya Saudara
Dedik Setiawan yang merupakan andalan Arema FC. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)

Rendi Irwan adalah ikon Persebaya. Dedik Setiawan merupakan pujaan Aremania. Mereka boleh saja terlibat dalam kelindan rivalitas yang sengit. Tetapi, keduanya tidak larut dalam persaingan tajam. Justru Rendi dan Dedik saling bertukar rasa hormat. 

— 

Rendi dan Dedik boleh saja membela tim dengan aroma ’’permusuhan’’ yang panas. Gesekan antara Bonek dan Aremania, tampaknya, belum hendak berhenti. Masih tetap intens. Baik nyata maupun maya.  

Berada di kubu yang berseberangan ternyata tak lantas membuat hubungan keduanya ikut tegang. Malahan, kedua ikon klub terbesar Jawa Timur tersebut memiliki relasi yang cukup baik. Keduanya mengenal dan cukup akrab satu dengan yang lain. ’’Dulu kan sering ketemu pas tarkam,’’ kata Dedik saat ditanya hubungannya dengan Rendi.

Tetapi, ternyata bukan momen tarkam yang diingat Rendi soal Dedik. Kapten Persebaya itu merasa kali pertama berjumpa dengan Dedik saat Persebaya bersua Arema pada ajang Piala Gubernur Kaltim 2018 di Samarinda (2/3). Saat itu Persebaya takluk 0-2. ’’Saya tidak hanya kenal Dedik. Saya juga akrab dengan Juan Revi, Hendro Siswanto, (Johan) Alfarizi, dan Dendi (Santoso),’’ kata pemain 31 tahun itu.

Bukan hanya Rendi yang punya hubungan baik dengan pemain Arema FC. Sebaliknya, Dedik juga punya relasi bagus dengan anggota skuad Persebaya yang lain. ’’Saya sering berkomunikasi juga dengan Misbakus (Solikin) dan Ruben Sanadi,’’ terang pemain kelahiran Malang 27 Juni 1994 itu. ’’Kami masih sering tanya soal keseharian. Juga tentang tim,’’ tambahnya. 

Bagi Rendi dan Dedik, Rivalitas Cuma 90 Menit, Selebihnya Saudara
Rendi Irwan, ikon Persebaya Surabaya (ANGGER BONDAN/JAWA POS)

Menurut Dedik, tidak ada alasan baginya untuk tidak dekat dengan pemain Persebaya. Sebab, meski berada dalam tim yang berseberangan, tentu saja pekerjaan mereka sama. ’’Hubungan (dengan pemain Persebaya) sih baik-baik saja, ya. Banyak yang kenal juga. Kami kan sama-sama mencari rezeki di bola,’’ kata top scorer sementara Arema FC dengan torehan 8 gol itu.

Rendi juga merasakan hal yang sama. Dia tidak peduli meski dua tim punya rivalitas panas. Dia tetap memiliki hubungan baik dengan para pemain Singo Edan –julukan Arema FC. ’’Hubungan saya baik-baik saja dengan pemain (Arema FC). Apalagi pemain yang saya kenal. Saya kadang masih tanya kabar,’’ tegas mantan pemain Persik Kediri itu.

Sejatinya, meski kini berada di tim yang punya tensi tinggi, Rendi maupun Dedik memiliki kesamaan. Keduanya pernah menimba ilmu di klub yang saat ini berada di Liga 3 asal Kabupaten Malang, Persekam Metro FC. Rendi berkostum Persekam pada musim 2006–2007 dan Dedik pada 2015–2016.

Tak ayal, kedua pemain itu pun saling lempar pujian. Rendi menilai, Dedik sebagai striker yang garang di depan gawang. ’’Dia (Dedik) pemain yang bagus. Dia pintar mencari ruang untuk cetak gol,’’ katanya.

Karena itu, Rendi yakin Dedik memiliki masa depan yang bagus. ’’Apalagi, dia masih muda. Pasti dia bisa lebih berkembang untuk bermain di timnas,’’ kata bapak dua anak itu.

Dedik enggan jemawa. Dia balik memuji Rendi. Menurut dia, pemain kelahiran 26 April 1987 tersebut punya kualitas jempolan. ’’Dia (Rendi) sangat berkualitas,’’ katanya.

Dia menilai, Rendi merupakan pengatur serangan sekaligus pembagi bola yang apik.

Karena itu, Rendi maupun Dedik tidak ingin rivalitas akhirnya merenggut hubungan baik keduanya. Bahkan, Rendi menyatakan bahwa menjaga hubungan baik di antara pemain merupakan hal yang sangat penting. ’’Karena itu, (hubungan) kami kan memang baik-baik saja. Dan, rivalitas itu hanya 90 menit. Setelah itu, kami adalah teman, bahkan saudara,’’ tegas suami Vera Hisma Putri itu.

Dedik bahkan menyatakan, menjaga hubungan baik dengan sesama pemain memiliki dampak yang positif pada masa depan. ’’Kami sama-sama berkeringat cari uang di sepak bola. Semua buat keluarga dan masa depan kami. Jadi, menjalin hubungan itu sangat penting,’’ katanya. 

Bagi Rendi dan Dedik, Rivalitas Cuma 90 Menit, Selebihnya Saudara
Para pemain Arema dan Persebaya berpose bersama sebelum pertandingan Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, 6 Oktober lalu (ANGGER BONDAN/JAWA POS)

Bermimpi Aremania dan Bonek Bersatu

Hubungan antara pemain Persebaya Surabaya dan Arema FC boleh saja adem. Tapi, tidak demikian halnya dengan suporter. Bonek dan Aremania punya hubungan yang cukup panas selama bertahun-tahun.

Tak percaya? Lihat saja atmosfer dua laga derby Jatim antara Persebaya kontra Arema FC musim ini. Tensinya sangat tinggi. Skuad Arema FC disuguhi gambar raksasa berupa buaya yang menusuk kepala singa di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya (6/5). Lalu, papan skor Arema FC dibalik. Terjadi juga pelemparan botol kepada pemain Arema hingga penyalaan flare.

Hal tak jauh berbeda dialami pemain Persebaya kala bertandang ke Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang (6/10). Dirigen Aremania Yuli Sumpil nekat masuk ke lapangan saat jeda babak pertama. Dia lantas melemparkan uang ke hadapan pemain Persebaya. Bersama seorang suporter lain, Yuli bersitegang dengan kiper Persebaya Alfonsius Kelvan.

Bukan hanya itu, Aremania berhamburan ke lapangan setelah laga, situasi yang membuat pemain Persebaya kocar-kacir. Bahkan, ada seorang Aremania yang melakukan perobekan bendera Persebaya.

Kapten Persebaya Rendi Irwan berharap ikrar persatuan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bisa menjalar ke seluruh suporter di Indonesia. Dengan begitu, bara perselisihan antara Bonek dan Aremania bisa segera padam.

’’Saya hanya ingin mereka (Bonek dan Aremania) bersatu untuk memajukan sepak bola Indonesia,” kata pemain 31 tahun itu. Rendi tidak rela, jika perselisihan yang terus dipelihara, pada akhirnya kedua kubu yang malah dirugikan. ’’Supaya tidak ada korban jiwa lagi. Selama ini (perselisihan) sudah banyak memakan korban,” imbuhnya.

Meski sulit, perdamaian bukanlah hal yang tidak mungkin. Lihat saja hubungan LA Mania, julukan suporter Persela, dan Bonek. Kedua kubu sempat berseteru sejak 2003. Tapi, pada awal musim ini, LA Mania dan Bonek sepakat berdamai.

Striker Arema FC Dedik Setiawan sepaham dengan Rendi. Dia berharap Bonek dan Aremania saling berkaca. ’’Harapannya sih semoga suporter bisa lebih dewasa. Sama-sama introspeksi diri dan lebih kompak,” ucap pemain kelahiran Malang itu.

Bagi Dedik, Aremania sangat penting bagi performa klub. Pemain juga semakin bersemangat dengan kehadiran dan dukungan mereka yang kreatif dan positif. ’’Pemain jadi punya semangat berlipat,” katanya.

Karena itu, berlaga tanpa Aremania hingga akhir musim merupakan hal yang tak diharapkan Dedik. Rendi senada dengan Dedik. Menurut dia, kehadiran Bonek sangat penting. ’’Suporter itu penyemangat saat bertanding,’’ tegasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (gus/c17/nur)

Bagi Rendi dan Dedik, Rivalitas Cuma 90 Menit, Selebihnya Saudara