alexametrics

Kesetiaan Itu Bernama Choirul Huda

Oleh: Miftakhul F.S*
17 Oktober 2017, 11:25:21 WIB

HATI Choirul Huda ada di Surajaya. Tidak akan berpindah dan selalu di sana. ’’Surajaya adalah rumah saya,’’ ungkapnya saat berbincang dengan saya suatu waktu.

Di Surajaya-lah dia menumbuhkan dan meneguhkan mimpinya menjadi pesepak bola. Di stadion itu pula Huda merawat mimpinya tersebut. Memupuknya dengan berlatih, berlatih, dan berlatih.

Di stadion itulah hari-harinya dihabiskan. Jauh sebelum Persela Lamongan terbangun dari tidurnya (Persela lahir pada 1967. Tapi, tak lama setelah kelahirannya, Persela tertidur panjang. Bahkan, sangat panjang) pada pertengahan 2000.

Huda berada di Surajaya sejak stadion tersebut hanya dipakai untuk turnamen sepak bola antarkecamatan di Lamongan. Turnamen itu pun hanya ada sekali dalam setahun.

Huda sudah di Surajaya ketika stadion tersebut baru memiliki tribun barat yang tak terlalu terawat. Pria kelahiran 2 Juni 1979 itu sudah di sana semasa tanah stadion tersebut selalu retak-retak di kala musim kemarau. Retakan itu pun sangat membahayakan siapa saja yang bermain di sana.

Huda sudah di Surajaya saat lapangan stadion tersebut selalu becek dan berlumpur ketika musim hujan. Saat rumputnya tumbuh sangat liar dan tingginya bisa sampai lutut orang dewasa ketika musim hujan.

Huda pun sudah di Surajaya ketika stadion itu−seperti guyonan kebanyakan orang−masih memiliki trotoar di sisi lapangannya. Ya, trotoar−bangunan untuk pejalan kaki di atas drainase di pinggir jalan. Trotoar di Surajaya itu merupakan bangunan di atas drainase sebagai pemisah antara lapangan dan sentelban. ’’Saya akrab dengan Surajaya sejak memasuki bangku SMA,’’ katanya.

Tatkala berseragam putih abu-abu itu, Huda berlatih bersama Merpati−klub lokal Lamongan. Bersama kawan-kawannya di Merpati, Huda mengasah kemampuan memainkan bolanya di Surajaya. Kadang juga di lapangan Alun-Alun Lamongan.

Tiga kali dalam sepekan dia lalui dengan berlatih di Surajaya. Bahkan, terkadang lebih. Sebab, Huda yang bersekolah di MAN Lamongan juga acap kali berlatih bersama tim sepak bola SMA Negeri 2 Lamongan.

Saya pun masih mengingat itu. Kebetulan saya merupakan bagian dari tim tersebut. Di tim SMAN 2 saat itu, pelatih dan kebanyakan pemainnya juga merupakan bagian dari Merpati.

Oleh karena itu, menjadi sangat wajar kalau Huda akhirnya menjadi bagian dari Persela ketika kesebelasan tersebut terbangun dari tidur panjangnya. Apalagi, Persela juga berumah di Surajaya. Stadion yang dianggap Huda sebagai rumahnya.

Ditambah lagi, kebangkitan Persela dibarengi dengan semangat untuk mempromosikan Lamongan ke publik Indonesia. (Sebelum 2000, tak banyak orang yang mengenal Lamongan. Orang Lamongan yang merantau juga tak terlalu percaya diri menyebut dirinya berasal dari Lamongan ketika ditanya identitasnya. Umumnya, mereka menyebut nama Surabaya sebagai tempat asalnya).

Semangat itu hanya bisa dicapai jika orang-orang di dalamnya memiliki gelora yang sama. Memiliki cinta dan kebanggaan. Maka, memilih pemain-pemain asal Lamongan adalah kewajiban. Merekalah yang mempunyai gelora, cinta, dan kebanggaan tersebut. Lagipula, kemampuan mereka dalam olah si kulit bundar sebenarnya juga tidak kalah.

Huda menjadi buktinya. Lelaki yang lahir dan besar di Lamongan itu tidak hanya pantas dipercaya mengawal gawang Persela. Tapi, dia juga sangat tepat dipercaya memimpin rekan-rekannya memasuki lapangan sekaligus melakoni pertarungan demi pertarungan.

Huda tenang dan tidak meledak-ledak. Namun, suaranya dari bawah mistar tetap lantang kala memberikan komando. Juga saat menyuntikkan motivasi untuk rekan-rekannya.

Sebagai kiper, posturnya menyakinkan. Tingginya mencapai 185 cm. Refleknya pun mengagumkan. Huda juga tak pernah segan dan sungkan berduel dengan lawan. Tak pernah malas menjatuhkan badannya ke tanah untuk menghalau atau menangkap bola.

Huda merupakan lelaki yang setia. Memahami hatinya. Juga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dia tak pernah tergoda untuk meninggalkan Surajaya dan Persela. Sekalipun godaan untuk pergi selalu datang dan begitu besar. Setiap tahun selalu saja ada yang mengajaknya menanggalkan kostum Persela. Setiap musim senantiasa ada yang mengajaknya datang ke Surajaya sebagai tamu.

Namun, Huda selalu menempatkan hatinya di Surajaya. Juga di Persela. Dia tak ingin pergi dan akan selalu di sana. Tahun ini tercatat sudah 17 tahun Huda berkostum Persela. Menjadi bagian dari perjalanan panjang nan berat. Merangkak dari kasta terbawah Divisi II hingga level tertinggi kompetisi Indonesia.

’’Sepak bola itu tidak hanya tentang menendang bola. Bukan semata tentang menangkap bola kalau bagi kiper. Tapi, sepak bola itu juga tentang kenyamanan,’’ ujarnya.

Berkostum Persela dan bermain di Surajaya adalah kenyamanan baginya. Dengan bermain di Surajaya dan berkostum Persela, Huda selalu mendapatkan kehangatan lazimnya di rumah. Kehangatan dari rumah itu sendiri dan dari para penghuninya.

’’Bersama Persela saya selalu dekat dengan keluarga. Selalu merasa bangga membawa nama kota tempat saya lahir. Itu pasti tidak akan saya dapatkan di tempat lain,’’ ungkapnya. ’’Bersama Persela saya mendapatkan kehangatan manajemen, ofisial tim, dan suporter,’’ tambahnya.

Namun, seperti lazimnya di rumah, pasti juga ada pertengkaran kecil di dalamnya. Di Surajaya, di rumahnya itu, Huda pun tidak melulu mendapatkan puja-puji. Tidak melulu memperoleh hasil manis. Beberapa kali kekalahan dihadapinya. Beberapa kali caci maki melompat dari penonton dan mengarah kepadanya.

Tetapi, hal tersebut tak lantas membuatnya sakit hati dan ingin pergi. Baginya, kekalahan dan kritik itu adalah oksigen yang menyegarkan perjalanannya, menyegarkan hatinya, menebalkan cintanya. Di Surajaya dan Persela-lah hatinya berada sekaligus bersetia.

Dan Minggu sore, 15 Oktober 2017, Huda mengakhiri perjalanannya di sepak bola sekaligus perjalanan hidupnya di Surajaya. Dengan kostum Persela.

Selamat jalan kawan. Semua doa terbaik untukmu.

(NB: Tulisan ini ada di dalam buku Persela Menegaskan Identitas Kami. Dan ada sedikit tambahan di bagian akhirnya)

 

 

 

Editor : admin

Reporter : *Wartawan Jawa Pos

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Kesetiaan Itu Bernama Choirul Huda