alexametrics
Liga 1 2017

Hidup dan Mati Choirul Huda untuk Persela

15 Oktober 2017, 23:10:21 WIB

JawaPos.com – Julukan one man club disematkan pada mendiang kiper Persela Lamongan Choirul Huda. Sosok Huda sejajar dengan legenda sepak bola dunia seperti Paolo Maldini di AC Milan dan Ryan Giggs di Manchester United. Namun, Huda lebih spesial. Sebab, Huda menyerahkan hidup dan matinya untuk Persela.

Sebelum meninggal di RSUD dr Soegiri, Lamongan pada Minggu (15/10) sekitar pukul 17.15, Huda masih mengawal gawang Persela dalam pertandingan kontra Semen Padang di Stadion Surajaya. Persela berhasil memenangkan laga ini dengan skor 2-0.

Huda diturunkan sebagai starter oleh Pelatih Persela Aji Santoso. Penampilannya cukup bagus di bawah mistar. Paling tidak, kiper yang meninggal di usia 38 tahun ini mampu menjaga gawang Persela dari kebobolan hingga separuh babak.

Sebelum turun minum, Huda terlibat tabrakan keras dengan bek Persela Ramon Rodrigues dan striker Semen Padang Marcel Sacramento. Ia sempat memegang dadanya sebelum tak sadarkan diri di atas lapangan. Huda akhirnya dilarikan ke IGD RSUD dr. Soegiri.

Huda masih bernapas ketika tiba di RSUD dr. Soegiri. Namun kondisinya mulai menurun hingga nyawanya tak tertolong. Menurut catatan medis awal, Huda meninggal sekitar pukul 17.15, atau 20 menit setelah Persela memenangkan pertandingan lawan Semen Padang dengan skor 2-0.

Persela Lamongan dan LA Mania berduka. Mereka kehilangan kiper sekaligus kapten tim. Mereka kehilangan pemain yang sudah mengabdikan dirinya untuk Persela selama 18 tahun, sejak tahun 1999 silam ketika tim ini masih berlaga di Divisi II.

Huda tak mundur meski Persela mendatangkan kiper berkualitas untuk menjadi pesaingnya, macam Dedy Iman, Fauzal Mubarok, Ferdiansyah hingga I Komang Putra. Huda juga tak tertarik ketika ia menerima tawaran pindah dari sejumlah tim seperti Gresik United dan Persiba Balikpapan.

Bagi Huda, Persela adalah satu-satnya opsi untuk mengabdi. Huda pernah menegaskan bahwa Stadion Surajaya adalah rumahnya. Huda menjadi saksi transformasi Surajaya dari gelanggang sepak bola antarkecamatan, menjadi arena tanding para tim-tim terbaik di Indonesia.

Sangat epik. Hingga akhir hayatnya Huda masih mengabdi untuk Persela. Huda masih sempat mengawal serta memberikan kemenangan terakhir untuk Laskar Joko Tingkir.

Mungkin hujan deras yang mengguyur Stadion Surajaya pada sepuluh menit terakhir sebelum peluit panjang, adalah pertanda bahwa alam juga berduka atas kepergian sang legenda. Legenda yang mengabdikan hidup [hingga] matinya untuk kejayaan Persela.

Selamat Jalan, Cak Huda. Tugasmu mengawal gawang Persela memang sudah berakhir. Tapi, namamu akan selalu dikenang oleh Persela dan seluruh pecinta sepak bola di Indonesia.

Editor : admin

Reporter : (saf/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Hidup dan Mati Choirul Huda untuk Persela