← Beranda

Kaleidoskop 2025: Pasang Surut Persebaya di Musim Penuh Drama! Dari Harapan Besar hingga Pergantian Pelatih

Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 23 Desember 2025 | 18.17 WIB
Pasang surut cerita perjuangan Persebaya Surabaya di Super League 2025/2026. (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com — Pasang surut perjuangan Persebaya Surabaya di Super League 2025/2026 menjadi potret lengkap bagaimana harapan besar, tekanan publik, dan dinamika ruang ganti saling berkelindan dalam satu musim yang penuh cerita.

Sepanjang tahun 2025, Persebaya Surabaya tidak hanya berjuang mengejar kemenangan, tetapi juga berusaha menemukan kembali identitas permainan di tengah ekspektasi tinggi Bonek-Bonita.

Musim Super League 2025/2026 dibuka dengan optimisme besar setelah manajemen melakukan restrukturisasi teknis dan komposisi skuad.

Persebaya Surabaya memasuki kompetisi dengan 29 pemain, rata-rata usia 26,3 tahun, serta total nilai pasar mencapai Rp 81,26 miliar.

Komposisi tim Green Force menunjukkan keseimbangan antara pengalaman dan energi muda, termasuk kehadiran 10 pemain asing.

Rata-rata nilai pasar pemain mencapai Rp 2,80 miliar, mencerminkan investasi serius klub untuk bersaing di papan atas.

Dari sisi posisi, lini depan menjadi sektor termahal dengan total nilai Rp 30,42 miliar dan rata-rata Rp 3,04 miliar per pemain. Lini tengah juga menyimpan potensi besar dengan nilai pasar Rp 18,25 miliar dan rata-rata usia relatif muda, yakni 25 tahun.

Namun, semua angka itu belum mampu langsung diterjemahkan menjadi hasil manis di lapangan.

Kalah di Laga Perdana

Persebaya Surabaya justru tersandung di laga perdana Super League 2025/2026 saat menjamu PSIM Yogyakarta di Stadion Gelora Bung Tomo.

Bermain di hadapan pendukung sendiri, Persebaya Surabaya tampil agresif sejak menit awal untuk mencari gol cepat.

Peluang pertama hadir lewat Malik Risaldi pada menit ke-11 setelah menerima umpan Bruno Moreira, tetapi masih mampu diblok lini belakang PSIM.

Tekanan terus diberikan melalui Toni Firmansyah dan Dejan Tumbas, namun penyelesaian akhir belum menemui sasaran. Hingga babak pertama berakhir, dominasi Persebaya Surabaya belum menghasilkan gol dan skor tetap 0-0.

PSIM yang tampil lebih sabar mulai menemukan celah pada babak kedua. Beberapa kali Ernando Ari Sutaryadi harus melakukan penyelamatan penting untuk menjaga gawang Persebaya Surabaya tetap aman.

Petaka datang di menit ke-92 saat umpan lambung Dede Sapari disambut sundulan Norberto Ezequiel Vidal yang mengoyak gawang Ernando.

Gol itu memastikan PSIM menang 1-0 dan membuat Persebaya Surabaya mengawali musim dengan kekalahan pahit.

Hasil tersebut langsung menempatkan Persebaya Surabaya di papan bawah klasemen sementara dengan nol poin. Sebaliknya, PSIM melesat ke peringkat atas dan mencuri perhatian sebagai tim promosi yang mengejutkan.

Pelatih Eduardo Perez tidak menutupi kekecewaannya usai pertandingan. “Jika kami mencetak gol di babak pertama, pertandingan akan sangat berbeda,” ujarnya dalam konferensi pers di Stadion GBT.

Perez menilai performa babak pertama menjadi gambaran permainan yang seharusnya dipertahankan timnya. Ia menyebut kendali permainan hilang di paruh kedua karena terlalu banyak berlari dan minim penguasaan bola.

“Tentu saya kecewa dengan hasil ini, tetapi apa yang kami tampilkan di babak pertama adalah gambaran yang perlu kami pertahankan,” ucap pelatih asal Spanyol itu.

Ia menegaskan kekalahan tidak boleh menjadi alasan menurunkan semangat tim.

“Besok kami mulai berlatih lagi. Kami perlu meningkatkan banyak hal dan di sepak bola tidak punya waktu untuk alasan apa pun. Kami harus terus berjuang,” kata Perez dengan nada tegas.

Permintaan maaf juga disampaikan kepada Bonek-Bonita yang memadati stadion. “Kami tahu mereka mengharapkan kemenangan. Kami juga mengharapkannya,” ujarnya.

Kapten tim Bruno Moreira turut menyampaikan kekecewaan pemain. “Sayangnya, kami melewatkan beberapa peluang yang tidak boleh kami lewatkan. Kami kalah, dan itu kenyataannya,” katanya.

Kekalahan di laga perdana ternyata menjadi cerminan inkonsistensi yang terus menghantui Persebaya Surabaya sepanjang paruh pertama musim.

Hasil imbang dan kemenangan silih berganti tanpa ritme stabil yang benar-benar mengangkat posisi tim.

Hingga pertengahan musim, Persebaya mencatat 14 pertandingan dengan empat kemenangan, tujuh hasil imbang, dan tiga kekalahan. Produktivitas gol berada di angka 17, sementara kebobolan 15 kali.

Statistik menunjukkan Persebaya cukup dominan dalam penguasaan bola dengan akurasi umpan 79 persen dari total 4.373 operan. Namun, efektivitas serangan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Dari 136 tembakan yang dilepaskan, hanya 56 mengarah ke gawang dengan akurasi 42 persen. Tidak satu pun gol tercipta dari penalti maupun tendangan bebas, menandakan lemahnya variasi penyelesaian.

Sebagian besar gol Persebaya Surabaya lahir dari skema umpan terbuka dengan total sembilan assist. Kreativitas lini tengah terlihat dari 61 umpan kunci dan 80 umpan terobosan sepanjang musim.

Di sektor pertahanan, Persebaya Surabaya mencatat dua kali nirbobol. Ernando Ari dan lini belakang mencatat 56 penyelamatan, namun disiplin masih menjadi masalah serius.

Total 149 pelanggaran berujung pada 24 kartu kuning, satu kartu kuning-merah, dan lima kartu merah. Situasi ini kerap memengaruhi stabilitas permainan di momen krusial.

Pemecatan Eduardo Perez

Tekanan demi tekanan akhirnya memuncak pada November 2025. Manajemen Persebaya Surabaya resmi mengakhiri kerja sama dengan Eduardo Perez Moran setelah enam bulan bertugas.

Keputusan itu diambil usai evaluasi internal terhadap performa tim sepanjang paruh pertama musim. Hasil imbang 1-1 melawan Arema FC di GBT menjadi laga terakhir Perez bersama Green Force.

“Perihal pelatih pengganti, Persebaya telah mencapai kesepakatan jangka panjang. Namun, Persebaya akan bersikap profesional menunggu tuntasnya segala urusan legalitas,” tulis pernyataan resmi klub di media sosial.

Manajemen juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi pelatih berusia 49 tahun tersebut. Perez dikenal membawa filosofi penguasaan bola dan pressing intensitas tinggi.

Selama menangani Persebaya Surabaya, Perez memimpin 11 pertandingan resmi dengan catatan empat kemenangan, empat imbang, dan tiga kekalahan. Kemenangan 5-2 atas Bali United menjadi momen terbaik di eranya.

Perez sempat menilai fondasi tim cukup kuat meski hasil belum konsisten. Ia juga menyoroti pentingnya kedalaman skuad saat sejumlah pemain kunci absen.

Ucapan perpisahan datang dari Bruno Moreira melalui media sosial. “Terima kasih untuk semuanya, coach Edu! Hormat setinggi-tingginya untuk pelatih dan pribadi seperti Anda. Semoga Anda selalu sukses,” tulisnya.

Era Baru Persebaya Surabaya

Pasca-pemecatan Perez, publik Surabaya menanti sosok baru yang mampu membawa stabilitas. Jawaban itu datang pada Desember 2025 lewat pengumuman Bernardo Tavares.

“Surabaya, aku datang,” ucap Bernardo dalam pernyataan perdananya. “Terima kasih atas profesionalisme manajemen Persebaya, terima kasih atas kesabaran dan respek terhadap kondisi dan situasi.”

Bernardo memastikan segera tiba di Surabaya untuk memulai tugas barunya. Ia datang bersama seorang asisten dan mendapat dukungan penuh dari tim kepelatihan yang sudah ada.

Penunjukan Bernardo Tavares menandai babak baru perjuangan Persebaya Surabaya di Super League 2025/2026. Harapan kembali dirajut agar konsistensi bisa ditemukan di sisa musim.

Kaleidoskop 2025 mencatat Persebaya Surabaya sebagai tim dengan potensi besar namun belum sepenuhnya terkelola optimal.

Dari angka statistik hingga drama pergantian pelatih, perjalanan Green Force menjadi refleksi kerasnya kompetisi dan tingginya tuntutan publik Surabaya.

Musim belum usai, dan cerita belum ditutup. Persebaya Surabaya masih punya kesempatan membalikkan narasi, mengubah pasang surut menjadi pijakan untuk bangkit lebih kuat.

EDITOR: Banu Adikara