← Beranda

Mengenal Puskas Award! Histori, Parameter Penilaian, dan Daftar Pemenang Sejak Era 2009 hingga 2024

Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 15 November 2025 | 14.29 WIB
Bintang Persija Jakarta Rizky Ridho masuk nominasi Puskas Award 2025. (Persija Jakarta)
 

JawaPos.com — Puskas Award kembali jadi perbincangan setelah gol spektakuler Rizky Ridho dalam laga Persija Jakarta vs Arema FC masuk nominasi edisi 2025. Momen ini memicu rasa penasaran publik mengenai apa sebenarnya penghargaan bergengsi yang diberikan FIFA untuk gol terindah setiap tahun.

Puskas Award dikenal sebagai apresiasi global untuk gol paling indah dan estetik yang tercipta dalam pertandingan sepak bola.

Penghargaan ini menggunakan kalender tahunan sehingga seluruh gol yang dicetak dalam satu tahun berjalan akan dipertimbangkan tanpa melihat kompetisi yang diikuti.

Penghargaan ini pertama kali dicetuskan pada 20 Oktober 2009 oleh Presiden FIFA saat itu, Joseph Sepp Blatter.

Tujuannya untuk menghormati Ferenc Puskas, legenda Real Madrid yang dikenal sebagai penyerang paling produktif pada era 1950–1960-an.

Puskas merupakan ikon sepak bola Hungaria yang mencatat 806 gol dalam 793 pertandingan serta 86 gol di level internasional. Mantan bomber fenomenal ini bahkan dinobatkan IFFHS pada 1997 sebagai pencetak gol terbaik abad ke-20.

Edisi perdana Puskas Award diumumkan pada seremoni FIFA World Player of The Year di Swiss pada 21 Desember 2009. Cristiano Ronaldo keluar sebagai pemenang pertama melalui gol jarak jauhnya bersama Manchester United.

Sejak saat itu, banyak bintang dunia menghiasi daftar finalis dan pemenangnya dari tahun ke tahun. Lionel Messi bahkan mencatat rekor sebagai pemain dengan nominasi terbanyak, yaitu tujuh kali masuk daftar kandidat Puskas Award.

Kriteria penilaian Puskas Award disusun agar setiap gol benar-benar dipilih berdasarkan keindahan murni dan bukan sekadar keberuntungan.

Keputusan dibuat melalui pemungutan suara publik dan penilaian panel ahli, menggabungkan sudut pandang estetika dan kualitas teknik.

FIFA menilai gol dari beragam aspek seperti tendangan jarak jauh, aksi individu, kombinasi tim, hingga teknik akrobatik seperti salto atau tendangan kalajengking.

Seluruh gol dinilai setara tanpa membedakan jenis kompetisi ataupun kewarganegaraan pemain.

Sebuah gol otomatis tereliminasi jika dinilai tercipta karena defleksi, kesalahan fatal lawan, atau situasi offside.

FIFA juga menegaskan semangat fair play sehingga pemain yang sedang terkena kasus perilaku buruk atau doping tidak dapat dinominasikan.

Pemain yang sama tidak boleh masuk nominasi dengan dua gol berbeda pada tahun yang sama. Ketentuan ini menjaga fokus penilaian pada satu karya terbaik yang benar-benar menjadi sorotan publik dan ahli.

Gol tersebut harus merupakan gol yang benar-benar indah. Penilaian ini bersifat subjektif dan diputuskan melalui pemungutan suara serta penilaian para ahli. Rentang gol yang dihasilkan harus meliputi tendangan jarak jauh, gol tim, tendangan salto, tendangan individu, tendangan kalajengking, dan lainnya.

Penghargaan gol indah diberikan kepada pemain tanpa membedakan kejuaraan maupun kewarganegaraan.

Gol yang dihasilkan bukan merupakan hasil keberuntungan, kesalahan, atau defleksi pemain lain atau pemain yang berada dalam posisi offside.

Gol harus mendukung fair play, yaitu pemain tidak boleh berperilaku buruk atau misalnya pernah didakwa melakukan doping.
Pemain tidak boleh dinominasikan ke dalam dua gol yang berbeda.

Hingga kini, daftar pemenang Puskas Award selalu menarik perhatian karena menghadirkan berbagai kejutan.

Mulai dari pemain bintang hingga nama yang tak terduga, semuanya pernah merasakan sorotan dunia berkat gol istimewa yang mereka ciptakan.

Cristiano Ronaldo membuka sejarah penghargaan ini pada 2009 saat masih berseragam Manchester United. Setahun kemudian giliran Hamit Altıntop dari Turki yang mencuri panggung dengan tendangan sensasionalnya.

Neymar ikut mengukir sejarah pada 2011 lewat aksi luar biasa bersama Santos yang memukau penonton di seluruh dunia.

Miroslav Stoch kemudian meneruskan tren tersebut pada 2012 melalui gol spektakuler saat bermain untuk Fenerbahce.

Zlatan Ibrahimovic menorehkan gol ikonik dari luar kotak penalti pada 2013 saat membela timnas Swedia. Tahun berikutnya, James Rodriguez membawa pulang penghargaan berkat tendangan voli sensasional di Piala Dunia 2014.

Deretan pemenang berikutnya makin beragam, termasuk Wendell Lira pada 2015 dan Mohd Faiz Subri pada 2016 dengan gol knuckleball ikoniknya.

Olivier Giroud turut menambah daftar pemenang besar pada 2017 lewat tendangan kalajengking khasnya untuk Arsenal.

Mohamed Salah membawa pulang penghargaan pada 2018 bersama Liverpool. Daniel Zsori mencuri perhatian dunia pada 2019 melalui gol salto akrobatik untuk Debrecen.

Son Heung-min menjadi pemenang 2020 setelah aksi solo run memukau bersama Tottenham Hotspur. Erik Lamela melanjutkannya pada 2021 dengan rabona berkelas yang tak kalah spektakuler.

Tahun 2022 menghadirkan kisah inspiratif lewat kemenangan Marcin Oleksy, pesepak bola amputasi asal Polandia. Sementara itu, 2023 dimenangkan Guilherme Madruga melalui tendangan jarak jauh yang viral.

Pada 2024, Alejandro Garnacho dari Manchester United memenangi penghargaan berkat tendangan salto luar biasa yang langsung menyita perhatian.

Momen tersebut mempertegas identitas Puskas Award sebagai panggung utama lahirnya gol-gol magis.

Rangkaian sejarah ini menjadikan Puskas Award sebagai salah satu penghargaan paling dinanti setiap tahun. Setiap gol yang masuk nominasi tak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga cerita dan emosi yang menyertainya.

EDITOR: Edi Yulianto