← Beranda

Prediksi Persis Solo vs PSIM Yogyakarta, Tuan Rumah Berburu Kado Ulang Tahun Istimewa

Edi YuliantoSabtu, 8 November 2025 | 21.19 WIB
Bruno Moreira (kanan) saat berjuang bersama Persebaya Surabaya hadapi Persis Solo, Minggu (2/11/2025). (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com – Persis Solo akan menjalani laga home penuh gengsi di pekan ke-12 Super League 2025/2026 dengan menjamu PSIM Yogyakarta di Stadion Manahan Solo, Sabtu (8/11), kick-off pukul 19.00 WIB.

Laga bertajuk Derbi Mataram ini dipastikan bakal dipayungi atmosfer yang sarat akan gengsi. Pertandingan nanti menjadi laga pertama kedua tim setelah terakhir kali bertemu di ajang Liga 2 musim 2021/2022 silam.

Tidak hanya itu, bagi Persis, pertandingan nanti menjadi momen untuk berburu kado ulang tahun spesial. Laskar Sambernyawa pada hari yang sama memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-102.

Ini juga yang membuat Persis dipastikan dalam motivasi yang tinggi untuk dapat bangkit dan memperbaiki posisi di klasemen sementara.

Asisten pelatih Persis Solo, Tithan Wulung Suryata, memastikan tim sudah siap bertanding untuk mengamankan poin penuh di kandang sendiri.

“Yang pasti laga nanti adalah krusial bagi kami. Terlepas dari PSIM yang mampu meraih dua kemenangan beruntun, Persis sendiri sudah menunjukkan motivasi berbeda dalam tiga hari latihan terakhir. Kami lebih siap, lebih percaya diri untuk dapat memenangkan pertandingan derbi nanti,” kata Tithan Wulung.

Putra dari pelatih legendaris, almarhum Yudi Suryata itu juga mengatakan tim tetap fokus penuh usai tak lagi dipimpin oleh pelatih kepala, Peter de Roo.

Para penggawa Persis dipastikannya tetap akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan jalur kemenangan. Dia pun berharap, apapun kondisi Persis saat ini, para pendukung tetap memberikan dukungan terbaiknya untuk para pemain.

“Dan, terlepas beberapa hasil yang kurang baik, tetapi pemain tetap fokus untuk kembali ke jalur kemenangan. Mereka kini berfokus untuk pertandingan besok (hari ini). Dan, untuk Derbi Mataram ini, saya rasa warga Solo bagaimanapun harus tahu jika Mataram is Red,” dia menegaskan.

Terkait kondisi pemain, Tithan memastikan seluruh skuad dalam keadaan fit, termasuk penyerang Gervane Kastaneer yang sebelumnya absen saat melawan Persebaya.

Persis Solo saat ini memang sangat membutuhkan kemenangan. Hingga laga pekan ke-11 lalu, Laskar Sambernyawa masih terpaku di peringkat ke-17 dari 18 tim dengan baru mencatat lima poin hasil dari sekali menang, dua kali imbang dan tujuh kali kalah.

Sementara PSIM Yogyakarta tak mau ambil resiko akibat lengah di laga pekan ke-12 Super League 2025/2026.

Meski jarak di papan klasemen sementara saat ini begitu berbeda, PSIM tetap fokus penuh. PSIM hingga laga pekan ke-11, ada di peringkat ke-6 dengan 18 poin. Sedangkan Persis ada di peringkat ke-17 alias dua terbawah dengan koleksi lima poin saja. 

Kewaspadaan PSIM juga makin berlipat dengan pertimbangan di momen laga kali ini, Persis akan tampil tepat di peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-102. Artinya, dipastikan Laskar Sambernyawa akan tampil dengan motivasi lebih tinggi untuk dapat mengamankan poin penuh.

Pelatih PSIM, Jean Paul Van Gastel, mengatakan pertandingan dengan tajuk Derby Mataram ini adalah laga yang bergengsi. Namun, dia menuturkan meletakkan laga nanti sama pentingnya dengan pertandingan lainnya, tanpa menambah tekanan berbeda.

“Kita selalu menyiapkan setiap pertandingan dengan cara yang sama. Tidak ada hal yang berbeda, termasuk untuk pertandingan lawan Persis pada Derbi Mataram ini,” kata Jean Paul Van Gastel.

Mengenai kekuatan Persis Solo, pelatih asal Belanda ini sadar benar potensi yang dimiliki tuan rumah. Menurutnya, Persis punya pemain dengan kemampuan fisik dan kelebihan dalam kecepatannya.

“Terpenting adalah bagaimana tim nanti bisa bekerjasama untuk bertahan dan menyerang dengan baik. Jadi ini bukan soal satu pemain tertentu saja secara individu, tapi soal tim,” dia menegaskan.

Van Gastel juga mengakui laga nanti akan sedikit berbeda karena Persis baru saja menonaktifkan pelatih Peter de Roo yang juga berasal dari Negeri Kincir Angin.

Terkait hal ini, dia mengaku punya hubungan baik dengan Peter de Roo. Bahkan, keduanya pernah sempat saling berkunjung di Jogjakarta.

“Saya sedih mendengar dia dipecat, karena saya tahu betul pekerjaan pelatih itu sangat berat dan menuntut waktu 24 jam sehari. Kami sering berbicara tentang sepak bola dan kehidupan di dunia kepelatihan. Peter de Roo bahkan pernah datang ke rumah saya di Jogjakarta,” ucap Van Gastel.

EDITOR: Edi Yulianto