← Beranda
11 Pemain Asing Termahal Super League 2025/2026! Dominasi Amerika Latin demi Mengubah Nasib Lewat Sepak Bola
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 7 Agustus 2025 | 13.00 WIB
Persebaya Surabaya wajib cari regenerasi Francisco Rivera sebagai metronom di lini tengah. (Media Persebaya)
 
 

JawaPos.com — Musim baru Super League 2025/2026 menghadirkan angin segar dan kontroversi sekaligus. Regulasi pemain asing diubah cukup drastis, dari sebelumnya skema 5+1 (lima pemain asing bebas, satu Asia), kini setiap klub diperbolehkan mendaftarkan 11 pemain asing, menyimpan 9 dalam Daftar Susunan Pemain (DSP), dan memainkan maksimal 7 pemain asing secara bersamaan di atas lapangan.

Perubahan ini sempat menuai reaksi beragam. Di satu sisi, klub-klub merasa diberi kebebasan lebih dalam membentuk skuad kompetitif, namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa pemain lokal akan semakin terpinggirkan.

Namun, Ketua Badan Liga Indonesia (kini I.League), Ferry Paulus, menepis anggapan itu.

"Ya 7-9-11 itu sudah final. Jadi per musim depan ini regulasi pemain asing kita: 7 yang main, 9 yang ada di DSP, 11 yang boleh didaftarkan," ujar Ferry Paulus, Senin (28/7/2025).

"Kalau dilihat dari pemanfaatannya memang 7 lebih ideal karena pemain nasionalnya nanti ada kesempatan yang lebih besar dibandingkan kalau 8. kemarin memang bisa dibilang itu kan keinginan klub lah ya.”

"Tapi kita semua juga sepakat bahwa kebutuhan tim nasional adalah menjadi sesuatu yang sangat penting untuk bisa kita realisasikan. Oleh karena itu, ini bukan mundur, tapi kita tentunya ikut apa yang menjadi kebijakan dari PSSI.”

“Kemudian ada pemain junior itu U-23 yang didaftarkan harus kurang kurangnya 5, kelahirannya 2003 supaya inline dengan kebutuhan dari tim nasional Indonesia yang U-23. Yang main 1, 45 menit.”

Dengan regulasi yang lebih fleksibel, para manajer klub tidak membuang waktu. Bursa transfer pun langsung bergeliat panas. Klub-klub berlomba merekrut pemain asing berkualitas demi memperkuat lini masing-masing.

Satu tren yang mencuat paling jelas adalah dominasi pemain dari Amerika Latin, terutama dari Brasil, Argentina, Kolombia, dan Meksiko.

Negeri-negeri ini telah lama dikenal sebagai lumbung talenta sepak bola dunia—dan kini, Indonesia menjadi tujuan baru bagi sebagian pemain mereka.

Brasil Dominan dalam Jumlah, Tapi Argentina Lebih Bernilai

Musim ini, Brasil menjadi negara penyumbang pemain asing terbanyak di Super League 2025/2026.

Total, sebanyak 59 pemain asal Brasil tersebar di 18 klub peserta. Menariknya, hanya satu klub yang tak memiliki pemain asal negeri Samba, yakni PSIM Yogyakarta.

Persija Jakarta dan Arema FC menjadi dua klub yang paling “Brazilian” di liga ini, masing-masing memiliki 8 pemain Brasil dalam skuad. Diikuti Malut United dengan 6 pemain, dan Persib Bandung dengan 5 pemain Brasil.

Namun, dari sisi nilai pasar, justru Brasil hanya menyumbang satu pemain saja ke dalam daftar 11 pemain asing termahal Super League versi Transfermarkt.

Pemain tersebut adalah Carlos França, bek tangguh milik Persijap Jepara, yang dihargai Rp 9,56 miliar.

Sementara itu, negara-negara seperti Argentina, Meksiko, dan Kolombia justru mendominasi daftar pemain dengan nilai pasar tertinggi, menunjukkan bahwa kualitas bukan hanya ditentukan oleh asal negara, tetapi juga profil, pengalaman, dan peran spesifik mereka di lapangan.

Baca Juga: Super Langka! Deretan Pemain Asing Super League Ini Ternyata Bertahun-tahun Tak Pernah Berganti Klub, Salah Satunya Kapten Persebaya Surabaya!

Daftar 11 Pemain Asing Termahal Super League 2025/2026 (Transfermarkt)

Thijmen Goppel (Belanda) – Bali United – Rp 12,17 miliar

Jordi Amat (Indonesia) – Persija Jakarta – Rp 11,30 miliar

Carlos França (Brasil) – Persijap Jepara – Rp 9,56 miliar

Rizky Ridho (Indonesia) – Persija Jakarta – Rp 9,56 miliar

Tamirlan Kozubaev (Kirgizstan) – Persita Tangerang – Rp 7,82 miliar

Francisco Rivera (Meksiko) – Persebaya Surabaya – Rp 7,82 miliar

Ezequiel Vidal (Argentina) – PSIM Yogyakarta – Rp 7,82 miliar

Mariano Peralta (Argentina) – Borneo FC – Rp 7,82 miliar

Alexis Messidoro (Argentina) – Dewa United – Rp 7,82 miliar

Juan Felipe Villa (Kolombia) – Borneo FC – Rp 7,82 miliar

Dari daftar tersebut, Argentina menyumbang tiga nama, lebih banyak daripada Brasil yang hanya diwakili satu nama.

Ini menjadi indikasi bahwa meski Brasil dominan secara kuantitas, Argentina unggul dalam kualitas individual berdasarkan nilai pasar.

Mengapa Amerika Latin Begitu Menarik bagi Klub Super League?

Pemain Amerika Latin dikenal memiliki motivasi tinggi, teknik mumpuni, dan determinasi luar biasa di lapangan. Namun, alasan kehadiran mereka di Indonesia lebih dari sekadar soal sepak bola—ini tentang harapan hidup.

”Empat bulan lalu sudah mulai ikut kursus. Saya ingin mengikuti lebih banyak kelas, tetapi saya tidak bisa karena waktu. Sebagai ganti saya menonton video di YouTube untuk belajar,” ujar Francisco Rivera saat bergabung ke Persebaya Surabaya, Rabu (22/1/2025).

Banyak dari mereka datang dari latar belakang yang keras. Sepak bola bukan sekadar profesi, tapi jalan keluar dari kemiskinan.

“Selain kursus, saya juga minta diajari Bahasa Indonesia kepada beberapa pemain. Saya bertanya kepada mereka bagaimana cara mengucapkan kata dengan benar, dengan cara seperti itu saya belajar lebih cepat.”

Di tengah situasi sosial-politik yang tak menentu di negara asal, Indonesia hadir sebagai opsi karier yang menjanjikan, baik secara finansial maupun eksposur.

”Di sini, orang menyambut kami dengan baik, saya sangat menyukainya. Sangat penting untuk mempelajari bahasanya, ini adalah tanda bahwa saya menyukai negara ini, saya menghormati budayanya dan saya ingin berada di sini selama bertahun-tahun,” pungkas Rivera.

Di sisi lain, karakter permainan mereka yang penuh gairah, agresif, dan berani sangat cocok dengan atmosfer sepak bola Indonesia yang penuh tekanan dan harapan tinggi dari suporter.

Pemain seperti Francisco Rivera, Alexis Messidoro, dan Peralta Bauer telah menunjukkan bahwa mereka tak hanya menjadi pelengkap skuad, tapi juga pengubah permainan.

Sepak Bola dan Politik di Amerika Latin: Latar Belakang yang Tak Terpisahkan

Sejarah mencatat bahwa di Amerika Latin, sepak bola dan politik adalah dua hal yang sering kali saling bertaut.

Di Brasil, misalnya, Presiden Getúlio Vargas dan Emílio Garrastazu Médici menjadikan kesuksesan sepak bola nasional sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Piala Dunia 1970 yang dimenangkan Brasil, disiarkan dalam warna pertama kali, dijadikan simbol kemajuan oleh rezim militer.

Argentina mengalami hal serupa saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1978.

Di bawah tekanan kediktatoran militer, keberhasilan Argentina menjuarai turnamen menjadi semacam pelarian dari kenyataan pahit politik, represi, dan pelanggaran HAM di dalam negeri.

Atmosfer penuh tekanan itu kemudian membentuk generasi pesepakbola tangguh, yang terbiasa hidup dalam tekanan, bermain dengan hati, dan menjadikan setiap pertandingan sebagai pertarungan hidup-mati.

Super League Jadi Panggung Perjuangan Baru

Dengan hadirnya regulasi 11 pemain asing, Super League bukan hanya menjadi kompetisi domestik biasa.

Ia kini menjelma menjadi panggung multinasional, tempat pertemuan berbagai kultur, gaya bermain, dan terutama kisah perjuangan.

Para pemain asing—terutama dari Amerika Latin—tidak datang hanya untuk bermain. Mereka datang membawa cerita.

Cerita tentang meninggalkan keluarga, bertarung di liga asing yang penuh tantangan, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik dari pendapatan sepak bola.

Bagi klub-klub Indonesia, kehadiran mereka bukan hanya tentang mencetak gol atau menyelamatkan lini pertahanan, tapi juga membawa pengalaman, mentalitas profesional, dan semangat kerja keras yang bisa menular ke pemain lokal.

Dominasi Amerika Latin, Refleksi dari Daya Tarik Sepak Bola Indonesia

Musim 2025/2026 mungkin akan tercatat sebagai salah satu musim paling “internasional” dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Dengan regulasi baru, klub memiliki keleluasaan membentuk skuad global, dan Amerika Latin tampil sebagai kontributor utama—baik dari sisi jumlah maupun nilai.

Di tengah dinamika dan tantangan adaptasi, satu hal yang pasti: para pemain asing, terutama dari Amerika Latin, akan menjadi tokoh utama dalam cerita Super League musim ini.

Mereka datang bukan hanya membawa nama, tapi juga ambisi, harapan, dan mimpi yang lebih besar dari sekadar 90 menit di lapangan.

Super League 2025/2026 tidak hanya tentang siapa yang menang, tapi juga tentang kisah manusia di balik jersey—kisah tentang keberanian meninggalkan rumah demi masa depan, tentang sepak bola sebagai penyelamat hidup, dan tentang bagaimana Indonesia menjadi bab penting dalam karier mereka.

EDITOR: Edi Yulianto