← Beranda
APPI: 198 Pemain Bisa Kehilangan Pekerjaan di Liga 1! Persija Jakarta, Persik Kediri, hingga Persibo Bojonegoro Beri Tanggapan
Farid S. MaulanaKamis, 10 Juli 2025 | 00.31 WIB
Pesepak bola Persija Jakarta Hanif Sjahbandi (kiri) dan Rio Fahmi (kanan) berusaha menghentikan laju dari dengan Pesepak bola Persebaya Surabaya Bruno Moreira (tengah). (ANTARA)

JawaPos.com - Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) memahami keputusan penambahan jumlah pemain asing di kompetisi strata teratas.

Namun, mereka mengingatkan dampaknya bagi para penggawa lokal. Terutama pada terbatasnya jam terbang mengingat dilingkup domestik hanya ada satu kompetisi, yakni Liga 1 yang

bakal berganti nama menjadi BRI Super League musim depan

"Dari survei yang kami lakukan, mayoritas pemain Liga 1 merasa keberatan dengan adanya regulasi tersebut," kata Presiden APPI Andritany Ardhiyasa, (8/7).

PT Liga Indonesia Baru, operator kompetisi, yang mengklaim mendapat restu dari PSSI dan semua klub Liga 1, mengumumkan pada Senin (7/7) bahwa musim depan tiap klub boleh merekrut sampai 11 pemain asing. Namun, yang dimainkan hanya delapan penggawa. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: Franco Ramos Mingo Merapat ke PSIM Yogyakarta, Bek Argentina Tantang Persebaya Surabaya di Laga Pembuka Super League

Menurut Andritany, pihaknya memahami kalau penambahan jumlah pemain asing dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kompetisi. Tapi, yang dipertanyakan adalah kesempatan bagi pemain lokal untuk ikut berkompetisi yang makin berkurang.

Kiper Persija Jakarta itu menyatakan, berdasarkan statistik, jika setiap klub Liga 1 yang berjumlah 18 tim memaksimalkan kuota 11 pemain asing, ada 198 penggawa lokal yang akan kehilangan pekerjaan atau pindah ke Liga 2 yang, sampai dengan kemarin, belum ditentukan berapa kuota pemain asingnya.

Artinya pula, akan ada 198 pemain Liga 2 yang kehilangan pekerjaan atau beralih menjadi pemain amatir di Liga 3. "Kami sangat menyayangkan bahwa regulasi yang akan secara langsung berimbas terhadap kehidupan para pemain diambil tapa adanva komunikasi dan diskusi terlebih dahulu dengan para pemain," bebernya.

Baca Juga: Cerita Unik Eks Kapten Persebaya Surabaya Rendi Irwan: Sabtu Ditunjuk, Rabu Langsung Tanding di Piala Soeratin U-17

Jika bicara persaingan, Andritany hanya berharap persaingan dimulai secara adil. Dimulai dari fasilitas, infrastruktur, dan ekosistem yang berkualitas seperti negara-negara yang industri sepak bolanva telah berialan dengan baik.

"Kami sangat berharap regulasi in dapat ditinjau kembali, sesuai dengan situasi sepak bola nasional saat ini," ucapnya.

Baca Juga: Gawat! Koko Ari Araya dan Rachmat Irianto Masih Cedera, Tidak Dibawa Persebaya Surabaya ke Australia

Tak Permasalahkan

Disisi lain, beberapa pemain lokal menyebut kalau mereka tidak mempermasalahkan regulasi pemain asing yang baru.

Gelandang Persija Hanif Sjahbandi misalnya menyebut, meski kuotanya bertambah terus, dalam dua musim terakhir dia selalu mendapatkan tempat.

Misalnya, ujarnya, pada musim2022/2023 dengan empat pemain asing, dia mencatatkan 31 penampilan. Sedangkan di musim 2023/2024 yang menggunakan enam pemain asing, dia bermain 30 kali.

"Regulasi ini harus menjadi tantangan. Para pemain lokal juga harus mengambil pembelajaran dari pemain asing," katanya.

Baca Juga: Regulasi 11 Pemain Asing Liga 1 Tuai Polemik, Bojan Hodak Tegas Tak Ingin Persib Bandung Maksimalkan Kuota

Pemain baru Persik Syahrian Abimanyu juga menganggap regulasi baru itu sebagai tantangan. "Terutama kami, pemain lokal, yang harus mengupgrade diri kami masing-masing, tuturnya.

Jadi Cambuk

Menurut pelatih Persibo Bojonegoro Iwan Setiawan, dengan regulasi baru terkait pemain asing itu, otomatis kultur harus mengikuti sistem. Klub-klub wajib memperbaiki berbagai aspek agar profesional.

Misalnya saja mengontrak jangka panjang sarana latihan, tidak menunggak gaji pemain, memiliki pembinaan yang terstruktur dengan baik, hingga berani memberi kontrak jangka panjang kepada pemain-pemain bertalenta.

Baca Juga: Gawat! Koko Ari Araya dan Rachmat Irianto Masih Cedera, Tidak Dibawa Persebaya Surabaya ke Australia

"PSSI juga harus memulai melakukan pembenahan di level grassroots, seperti yang dilakukan di Inggris atau negara yang sepak bolanya maju," ujarnya.

Elite Pro Academy, kompetisi kelompok umur, harus lebih serius penanganannya. Begitu pula Piala Soeratin dan kompetisi amatir.

"Untuk pemain lokal yang ada di Liga 1, ini justru harus jadi cambukan. Jadi cermin agar berbenah juga," ungkapnya.

Baca Juga: Franco Ramos Mingo Merapat ke PSIM Yogyakarta, Bek Argentina Tantang Persebaya Surabaya di Laga Pembuka Super League

Terpisah, pengamat sepak bola M. Kusnaini menambahkan, kebijakan menambah kuota pemain asing tidak bisa berdiri sendiri. Harus sejalan dengan penguatan kompetisi di level youth development.

"Ibaratnya, pelonggaran kuota pemain asing itu sifatnya sementara, sambil menunggu matangnya para pemain usia muda kita yang sedang diasah melalui kompetisi usia muda," ucapnya.

Baca Juga: Regulasi 11 Pemain Asing Liga 1 Tuai Polemik, Bojan Hodak Tegas Tak Ingin Persib Bandung Maksimalkan Kuota

EDITOR: Hendra