JawaPos.com — David da Silva menjadi salah satu nama yang paling dikenal di kancah sepak bola Indonesia, terutama bagi para penggemar Persebaya Surabaya.
Penyerang berkepala plontos ini bukan hanya terkenal karena ketajamannya di depan gawang, tetapi juga karena kisah kontroversial yang melibatkan dirinya dengan tuduhan menderita rabun senja.
Pada 2018, David da Silva pertama kali merapat ke Indonesia setelah sukses menarik perhatian klub-klub Liga 1. Sebelumnya, dia sempat diproyeksikan menjadi pengganti Ilija Spasojevic di Bhayangkara FC.
Namun, takdir berkata lain, kontraknya dengan Bhayangkara FC tiba-tiba dibatalkan. Kabar yang beredar menyebutkan David mengalami nyctalopia, atau rabun senja, yang menghalangi kariernya di klub tersebut.
Rumor ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, terutama fans Bhayangkara FC yang sempat melihat potensi David.
David bahkan sempat mencetak gol dalam laga persahabatan melawan FC Tokyo di Gelora Bung Karno, sebuah prestasi yang seharusnya cukup untuk mengamankan posisinya di tim.
Namun, kabar soal rabun senja membuat Bhayangkara FC ragu dan memutuskan untuk melepas sang striker.
Meski sempat kecewa, perjalanan David da Silva di Indonesia belum berakhir. Tak lama setelah ditolak oleh Bhayangkara FC, Persebaya Surabaya datang sebagai penyelamat karier David di Liga 1.
Klub promosi ini memilih David untuk memperkuat lini depan mereka, mengincar prestasi besar di musim debut mereka di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Namun, perjalanan David di Persebaya Surabaya tidaklah mulus. Ketika pertama kali diperkenalkan ke publik, dia langsung disambut dengan skeptisisme.
Bonek, suporter setia Persebaya Surabaya, meragukan kemampuannya setelah mendengar isu rabun senja yang menyertai David.
Bahkan, penampilan David saat menandatangani kontrak bersama Persebaya Surabaya, dengan mengenakan kacamata, semakin memicu spekulasi tentang kondisi kesehatannya.
Meski diterpa isu yang meragukan, David da Silva tetap membuktikan kualitasnya di lapangan.
Di pekan kedua Liga 1 2018, David yang kala itu masuk sebagai pemain pengganti melawan Persela Lamongan langsung memberikan dampak besar.
Ia mencetak gol penyeimbang yang krusial, dan selebrasi yang ia lakukan menjadi salah satu momen paling ikonik dalam kariernya.
David menutup matanya sambil berjalan seolah mencari arah, menyindir secara halus tuduhan bahwa dirinya menderita rabun senja.
Selebrasi ini tidak hanya memukau penonton, tetapi juga menjadi simbol kekuatan mental seorang David da Silva dalam menghadapi tekanan.
Ia membungkam keraguan dengan cara yang elegan, sekaligus memperlihatkan ketegaran menghadapi kritik yang tidak berdasar.
Bukan hanya itu, David kembali melakukan selebrasi emosional ketika mencetak gol ke gawang Bhayangkara FC di Stadion PTIK pada 11 Juli 2018.
Gol tersebut lahir dari situasi tak terduga ketika ia menahan tendangan Misbakus Solikin, lalu langsung melepaskan tendangan keras yang tak mampu dihalau Awan Setho.
Selebrasi kali ini lebih intens, David melepaskan jerseynya dan memperlihatkan namanya kepada para penonton, seakan ingin menunjukkan ia pantas berada di Liga 1.
Sejak saat itu, David da Silva menjadi penyerang yang ditakuti di Liga 1 Indonesia. Penampilannya bersama Persebaya Surabaya semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu striker terbaik.
Ia terus mencetak gol demi gol dan akhirnya menjadi top skor abadi Persebaya Surabaya dengan torehan 39 gol dan 6 assists dari 43 penampilan.
Rekor ini membuatnya masuk dalam jajaran pemain legendaris di klub dan menjadi salah satu pemain asing paling berpengaruh dalam sejarah Persebaya Surabaya di era Liga 1.
Setelah berpisah dengan Persebaya Surabaya, David sempat bermain di luar negeri sebelum akhir melanjutkan kariernya di Persib Bandung. Bersama Maung Bandung, David justru semakin bersinar dengan mencetak 65 gol dan 16 assists dari 92 penampilan.
Kini, ia menjadi salah satu pemain kunci di Persib Bandung dan berperan besar dalam kesuksesan tim yang mengatakan gelar juara Liga 1 Indonesia 2023/2024 bagi Maung Bandung.
Kisah David da Silva bukan hanya soal performa di lapangan, tetapi juga bagaimana ia mengatasi tekanan dan membuktikan diri sebagai pemain yang profesional.
Tuduhan rabun senja yang pernah menghantuinya di awal kariernya di Indonesia kini hanya menjadi bagian dari sejarah.
David telah membuktikan bahwa kemampuannya di lapangan jauh lebih berharga daripada spekulasi yang tidak berdasar.
Laga antara Persib Bandung dan Persebaya Surabaya di pekan kedelapan Liga 1 2024/2025 akan menjadi pertemuan yang spesial bagi David.
Ia akan menghadapi mantan klub yang pernah menjadi bagian penting dalam kariernya.
Mampukah David mencetak gol melawan Persebaya Surabaya dan menambah pundi-pundi golnya? Ataukah kali ini Green Force, yang ditangani oleh Paul Munster, akan mampu menghentikan laju striker maut tersebut?
Satu hal yang pasti, setiap kali David da Silva melangkah ke lapangan, penonton akan selalu teringat akan selebrasi ikoniknya.
Selebrasi dengan mata tertutup yang melambangkan kekuatan seorang David da Silva dalam mengatasi segala rintangan.
Sebuah pesan bahwa kadang kala, dalam hidup, kita harus menutup mata terhadap kritik yang tidak berdasar dan fokus pada apa yang bisa kita lakukan di depan kita.