
Eri Irianto akan selalu dikenang sebagai pemilik tendangan geledek yang jadi legenda Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia. (Jawa Pos)
JawaPos.com — Tanggal 3 April akan selalu menjadi hari yang kelam bagi Persebaya Surabaya dan para penggemarnya, Bonek. Di tanggal inilah, Eri Irianto, gelandang bertenaga dan pemilik tendangan geledek, berpulang setelah benturan saat memperkuat Green Force melawan PSIM Yogyakarta.
Usia Eri saat itu masih 26 tahun, puncak kariernya sebagai pesepak bola profesional. Perannya sebagai pengatur lini tengah Persebaya Surabaya tak tergantikan, dengan tendangannya yang kerap membuat lawan gentar.
Benturan fatal terjadi pada Rabu, 3 April 2000, dalam pertandingan Liga Indonesia 1999/2000 di Stadion Tambaksari, Surabaya. Laga berjalan sengit hingga benturan tak terduga terjadi antara Eri dan pemain PSIM asal Gabon, Samson Noujine Kinga.
Setelah benturan itu, Eri tampak kesakitan dan meminta untuk diganti. Nova Arianto pun masuk menggantikannya, sementara Eri segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, Surabaya.
Kondisi Eri terus memburuk meski mendapat perawatan intensif. Pada akhirnya, kabar duka menyelimuti dunia sepak bola Indonesia ketika Eri menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit.
Kepergian Eri meninggalkan luka mendalam bagi Persebaya Surabaya dan sepak bola Tanah Air. Sebagai salah satu pemain reguler di Timnas Indonesia pada akhir 90-an, nama Eri sudah sangat dikenal luas.
Musim sebelumnya, Eri juga menjadi bagian penting dalam skuad Persebaya Surabaya yang berhasil melaju ke final Liga Indonesia 1998/1999. Dia turut bermain di partai puncak melawan PSIS Semarang, yang berlangsung di Stadion Klabat, Manado, pada 9 April 1999.
Namun, nasib kurang beruntung menghampiri Persebaya Surabaya saat itu. Gol tunggal Tugiyo di menit akhir babak kedua mengakhiri laga dengan skor 0-1, membuat Persebaya Surabaya harus puas sebagai runner-up.
Perjalanan karier Eri tidak berhenti di situ. Pada Liga Indonesia 1994/1995, dia juga sukses mengantarkan Petrokimia Putra hingga ke partai final, menunjukkan konsistensi sebagai pemain penting di setiap tim yang dibelanya.
Kepergian Eri meninggalkan jejak abadi bagi klub kebanggaan Surabaya. Sebagai penghormatan, Persebaya Surabaya memensiunkan nomor punggung 19 milik Eri, sebuah nomor yang selalu dikenakannya ketika membela Green Force.
Di kancah internasional, nama Eri Irianto juga tercatat dalam sejarah Timnas Indonesia. Pada Piala AFF 1996 (yang dulu dikenal sebagai Piala Tiger), Eri turut memperkuat Timnas Indonesia di ajang yang berlangsung di Singapura.
Timnas Indonesia saat itu tampil gemilang, terutama di fase grup, mengalahkan Laos, Kamboja, dan Myanmar dengan skor telak. Eri bersama Fachry Husaini dan Ansyari Lubis menjadi motor permainan lini tengah yang sulit dihentikan lawan.
Pada pertandingan melawan Myanmar, Timnas Indonesia menang besar dengan skor 6-1, di mana Eri turut menyumbang satu gol. Kemenangan tersebut memastikan langkah Indonesia ke semifinal dengan torehan 15 gol dari empat pertandingan di fase grup.
Sayangnya, perjalanan gemilang Indonesia terhenti di tangan Malaysia pada semifinal. Dalam laga yang digelar di Stadion Nasional Kallang, Singapura, Timnas Indonesia takluk dengan skor 1-3 dari sang rival, yang menjadi salah satu pertandingan paling diingat dalam sejarah persaingan Indonesia-Malaysia.
Ketika harus bertanding melawan Malaysia, Eri dan kawan-kawan menghadapi tantangan berat. Meskipun Indonesia mencetak satu gol melalui bunuh diri pemain lawan, Malaysia tampil lebih solid dan memanfaatkan kelemahan pertahanan Indonesia.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
