Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Februari 2024 | 22.34 WIB

Tias Tono Taufik, Mertua Reva Adi Utama yang Pernah Dua Kali Dikalahkan Persebaya di Final Liga Indonesia

Tias Tono bersama cucu dan Reva Adi Utama

Reva Adi Utama mempunyai peranan penting bagi Persebaya Surabaya. Dia adalah kapten Green Force di Liga Indonesia musim 2023/2024. Namun, ayah dari sang istri alias mertua Reva punya kaitan dengan perjalanan Persebaya saat juara perserikatan. 

Sidiq Prasetyo, Surabaya

REVA Adi Utama termasuk pesepak bola spesial. Bagaimana tidak, klub sebesar Persebaya Surabaya sampai menerimanya kembali meski sempat pindah ke klub lain. Pemain kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 1 September 1996 itu kali pertama bergabung 2021-2022 setelah sebelumnya membela Barito Putera Banjarmasin.

Pada musim 2022-2023, Reva sempat hijrah ke klub Jatim lainnya, Madura United. Tapi di musim ini, 2023-2024, manajemen Persebaya mendatangkannya kembali. Bahkan Reva dipercaya menjadi kapten.

Di lingkaran Reva, ada sosok yang punya kaitan dalam perjalanan sejarah Persebaya saat menjadi juara Perserikatan 1987/1988 dan Piala Utama 1990. ''Benar, Reva adalah menantu saya. Dia menikah dengan putri saya yang paling bontot,’’ kata Tias Tono Taufik, mantan pemain Persija Jakarta dan Pelita Jaya.

Macan Kemayoran, julukan Persija dikalahkan Persebaya dalam pertandingan final Kompetisi Perserikatan musim 1987/1988. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, sekarang Stadion Gelora Bung Karno, itu Persebaya menang 3-2.

''Saya main gelandang serang. Saat itu di Persebaya ada Putu Yasa sebagai kiper, Budi Johanis di gelandang, dan depannya, Syamsul Arifin dan si Mustaqim. Saya bertemu lagi dengan Persebaya di final Piala Utama saat saya sudah ke Pelita Jaya. Hanya, pemain Persebaya sudah ada perubahan,’’ ungkap Tias.

Piala Utama merupakan pertandingan yang mempertemukan juara Kompetisi Perserikatan dengan juara Kompetisi Galatama. Ketika itu, kompetisi sepak bola di Indonesia memang ada dua. Tias sendiri merupakan pesepak bola yang mencuat namanya ketika masuk di PSSI Garuda 1.

Sebuah proyek ambisius dengan mengumpulkan pesepak bola muda dari penjuru tanah air yang kemudian dibina dan dilatih oleh pelatih asal Brasil Barbatana. Tujuannya agar Indonesia bisa lolos ke Olimpiade Los Angales 1984, juara SEA Games 1985, dan Asian Games 1986. Namun semuanya tidak ada yang tercapai.

''Saya 1984 masuk PSSI Junior, terus 1985 dipanggil PSSI Garuda, dan membela Indonesia di SEA Games 1985 di Thailand. Setelah itu, barulah saya ke Persija Jakarta sampai 1988,’’ ujar Tias yang ketika dihubungi baru saja pulang dari melatih sekolah sepak bola atau SSB di Bekasi, Jawa Barat.

Di Pelita Jaya, dia langsung membawa klub milik keluarga Bakrie tersebut dua kali juara Galatama yakni 1989 dan 1990. Dari Pelita Jaya, lelaki kelahiran Banda Aceh 26 Juni 1964 itu hingga 1995 dan kemudian membela Persikota Tangerang hingga pensiun sebagai pesepakbola 1999.

''Usai pensiun sebagai pesepak bola, saya jadi tenaga honorer di Pemkot Bekasi 2001 dan diangkat jadi PNS pada 2008. Pada 2022, saya baru pensiun,’’ jelas Tias.

Usai pensiun, dia kembali menjadi pelatih di Persipasi Bekasi. Tias sukses membawa klub tersebut menjadi juara Liga 3 Seri 1 Jawa Barat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore