Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Juni 2023 | 19.53 WIB

PSSI ingin Liga 1 Naik Kelas, Kuota Pemain Asing Ditambah Agar Setara Dengan Negara-Negara Asia

TANTANGAN BARU: Dua pemain asing asal Singapura, Jacob Mahler dan Song Ui-yong, serta Wing Naing Tun (Myanmar) siap membuktikan kualitasnya di persepakbolaan Indonesia.

Keberadaan pemain asing akan makin dominan di Liga 1 musim 2023–2024. Sebab, dalam sebelas pemain yang bertanding di lapangan, enam kuota di antaranya disediakan untuk penggawa impor. Efektifkah regulasi itu?

---

PSSI ingin Liga 1 naik kelas. Untuk membuat level Liga 1 naik, sejumlah terobosan dilakukan. Salah satunya, menambah kuota pemain asing. Musim lalu, setiap klub hanya dibolehkan menggunakan empat pemain asing.

Tapi, mulai musim 2023–2024, klub boleh memakai enam pemain asing. Perinciannya, lima pemain asing bebas dari negara mana saja. Lalu, satu pemain asing harus berasal dari Asia Tenggara. Enam-enamnya boleh dimainkan bersamaan dalam satu pertandingan.

Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) Teddy Tjahjono mendukung terobosan itu. Menurut dia, regulasi penambahan jumlah pemain asing mengikuti aturan pada kompetisi Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

’’Aturan AFC kan pemain asingnya 5+1. Jadi, atas dasar pertimbangan fairness dan competitive balance, semua klub sepakat,’’ ujar Teddy.

Kewajiban klub mendatangkan pemain asal Asia Tenggara juga menjadi topik yang menarik dibicarakan. Sebab, untuk kali pertama, 18 klub Liga 1 masing-masing akan memiliki satu pemain ASEAN.

Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali menjelaskan, penambahan pemain dari Asia Tenggara diharapkan bisa memperluas siaran kompetisi Liga 1 di ASEAN. ’’Ini supaya masyarakat Asia Tenggara bisa menonton kompetisi kita,’’ ungkap mantan menteri pemuda dan olahraga (Menpora) itu.

Wakil Presiden Persija Ganesha Putra tidak mempersoalkan keputusan PSSI dalam mewajibkan setiap klub mendatangkan pemain Asia Tenggara. Menurut Ganesha, kebijakan itu menjadi salah satu bentuk diplomasi dalam olahraga.

’’Mungkin di situ ada elemen kerja sama ekonomi dan pengembangan ASEAN. Apalagi, Indonesia adalah satu leader di Asia Tenggara,’’ ujar Ganesha.

Menurut dia, tidak mungkin federasi merumuskan regulasi asal-asalan. Pasti ada kajiannya secara mendalam. ’’Jadi, menurut saya regulasi (penggunaan pemain ASEAN) positif-positif saja. Saya yakin untuk saat ini itu yang terbaik,’’ tegasnya.

Lalu, mengapa harus pemain asing dari ASEAN? Bukannya Indonesia saat ini menjadi yang terbaik di Asia Tenggara setelah meraih medali emas dari cabang olahraga sepak bola pada SEA Games 2023 Kamboja? Terkait hal itu, menurut Ganesha, perbandingannya tidak apple-to-apple.

’’Kita juara SEA Games di usia 22 tahun. Sementara regulasi pemain asing Asia Tenggara bukan usia 22 tahun. Jadi, tidak apple-to-apple,’’ terangnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore