
TERTATA RAPI: Deretan loket penjualan tiket di Stadion Petrovsky, kandang klub sepak bola Zenit St. Petersburg.
JawaPos.com- St Petersburg merupakan salah satu kota gila bola di Rusia. Dan, Zenit St Petersburg membuat sepak bola berdenyut di ibu kota lawas Rusia itu dengan segala dinamikanya.
Zenit harus puas berada di peringkat ketiga Russian Premier League 2016–2017. Posisi yang sama dengan musim lalu. Zenit dalam dua tahun belakangan selalu dipecundangi dua tim ibu kota, CSKA Moskow dan Spartak Moskow, dalam perburuan gelar kampiun liga.
Di level Eropa pun, kedigdayaan Zenit kian sayup terdengar. Setelah menapak ke puncak dengan menjadi kampiun Piala UEFA pada 2007–2008 atau satu dasawarsa lalu, Zenit lebih sering menjadi partisipan di kancah Liga Champions maupun Europa League.
Musim 2017–2018, bekas allenatore Inter Milan Roberto Mancini didatangkan. Mengereknya para Italiano di tanah Inggris (Antonio Conte, Chelsea), Jerman (Carlo Ancelotti, Bayern Muenchen), dan Rusia (Massimo Carrera, Spartak Moscow) membuat petinggi Zenit berharap tuah Mancini bisa membalikkan nama besar Bomzhi, julukan Zenit.
Meski tidak sedang berada dalam bendera kejayaan, suporter Zenit tetap mencintai Artyom Dzuba dkk. Setiap kali Zenit bermain di Stadion Petrovsky, fans selalu menyesaki stadion berkapasitas 21 ribu penonton tersebut.
Salah satu volunterPiala Konfederasi 2017 Robert Khaninivka mengatakan, setiap Zenit bermain, bukan cuma dalam stadion yang ramai. Kafe dan bar dalam radius 2 kilometer dari stadion pasti menggelar nonton bareng alias nobar. ’’Atmosfer kota seandainya Zenit bermain sangat berbeda dengan yang Anda temui saat ini,’’ kata Robert.
Musim lalu, dari 15 laga kandang Zenit, Robert menonton lebih dari separo. Pria yang bersekolah di St Petersburg State University tersebut kemudian mendeskripsikan bagaimana keramaian yang ada jika Zenit bermain. Jika pertandingan pukul 18.00, sejak pukul 14.00 waktu setempat orang-orang ber-jersey Zenit atau bersyal biru muda, warna kebesaran Zenit, akan banyak ditemui di stadion.
Bahkan, kalau datang sejam sebelum pertandingan, apalagi lawan yang dihadapi adalah tim kuat semacam Spartak Moskow atau CSKA Moskow, jangan harap masih kebagian tiket. ’’Kalau laga besar, harga tiket akan naik secara otomatis,’’ tutur Robert. Dia biasanya menonton di bagian suporter yang dihargai RUB 600.
Menurut Robert, Stadion Petrovsky juga lebih ramah keluarga karena terdapat kafe untuk anak-anak. Kafe yang menyediakan es krim maupun pancake itu biasanya menjadi jujukan bagi mereka yang menggandeng anak ke stadion. ’’Di kafe anak ini bebas rokok. Jadi, orang tua tak khawatir kena asap para perokok,’’ katanya.
Robert membawa Jawa Pos tur singkat mengelilingi stadion kemarin. Karena sedang libur kompetisi, tur di kandang Zenit pun ikut beristirahat. Selain kafe, di sekeliling stadion terdapat tenan penjual kudapan seperti pizza, sandwich, dan kue kering. Sedangkan kios penjual bir selalu berdampingan dengan kios penjual makanan.
Bukan hanya kafe khusus anak yang dibanggakan Robert, melainkan juga plakat nama para pelatih dan pemain besar Zenit yang dibuatkan papan nama di sekeliling stadion. Misalnya, Pavel Sadyrn. Dia membawa Zenit juara Liga Sovyet 1984.
Rasisme yang sering dialami pemain dari luar Rusia memang belum bersih 100 persen. Tapi, dengan kampanye antirasisme, pemain-pemain non-kulit putih kian bisa diterima suporter.
Lain halnya dengan Sergey, salah seorang pemilik kios makanan di Stadion Petrovsky. Sergey yang berasal dari kawasan Rusia Selatan menyatakan, tak semua orang yang tinggal di St Petersburg suka dengan Zenit. ’’Tidak bisa digeneralisasi,’’ kata Sergey. Dia mengaku fans Real Madrid.
Menurut Sergey, kaum pendatang di St Petersburg lebih memfavoritkan tim luar Rusia ketimbang tim dalam negeri. Alasan tak ada keterikatan emosi menjadi hal utama mengapa mereka tak mendukung Zenit. Beberapa volunter Piala Konfederasi cenderung mengidolai tim non-Rusia. (*/c19/ca)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
