
Mantan Pemain Persiku Kudus Mamadou Lamarana Diallo saat mengadu kepada anggota Komisi D DPRD Kudus Sandung Hidayat di ruang Fraksi Partai Gerindra Kudus, Senin (3/1/2022). ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif
JawaPos.com - Tidak semua pemain naturalisasi seperti Marc Klok atau Ilija Spasojevic: bergaji tinggi dan beredar dari satu klub ke klub lain di strata teratas kompetisi di tanah air. Tidak semua senasib dengan Cristian Gonzales: pernah menjadi bintang tim nasional (timnas) dan masih bisa berprestasi tinggi pada usia yang hampir setengah abad.
Tidak sedikit yang tidak seberuntung itu. Salah satunya, Mamadou Lamarana Diallo. Terakhir, tahun lalu dia hanya berkutat di Liga 3 bersama Persiku Kudus.
Itu pun saat ini pemain kelahiran Guinea pada 28 Agustus 1991 tersebut masih berjuang agar gajinya selama dua bulan dibayar manajemen klub.
Setidaknya ada 10 klub Indonesia lain yang pernah dibela pemain berposisi penyerang sejak kali pertama datang ke sini pada 2008 tersebut. Pada 2019, misalnya, dia sempat berkostum Persatu Tuban di Liga 2.
Mamadou dinaturalisasi pada 2019. Status sebagai WNI itu diakuinya sangat membantunya mencari klub, terutama di Liga 2 dan Liga 3 yang dilarang merekrut pemain asing. ”Saya menikah dengan perempuan dari Semarang pada 2014. Sejak saat itu saya urus naturalisasi,” jelasnya.
Mamadou sebenarnya sempat berkeinginan bisa membela timnas. ”Tapi, saya sadar banyak pemain hebat sehingga persaingan sulit. Walau saya naturalisasi, tentu mimpi saya bisa bela negara ini,” tuturnya.
Bahkan, setelah pensiun nanti, pesepak bola yang sempat mencapai puncak karier ketika membela Perseru Serui pada 2010 dengan 22 penampilan dan 8 gol itu ingin menularkan ilmu sepak bolanya kepada anak-anak muda di Indonesia. Dia berencana membuat SSB (sekolah sepak bola). ”Kalau tidak di Lampung, ya di Semarang,” ungkap mantan pemain PSS Sleman dan PSMS Medan tersebut.
Mamadou juga memberikan saran kepada PSSI jika ingin melakukan naturalisasi untuk kepentingan timnas. Dia mengusulkan agar memburu mereka yang berusia kurang dari 25 tahun. ”Dan, yang skill bolanya di atas rata-rata anak muda di sini. Kalau sama, tidak perlu. Kualitas pemain di sini sangat bagus kok,” ujarnya.
Pemain naturalisasi lain yang juga berkiprah di Liga 3 adalah Mohammadou Al Hadji. Pria berdarah Kamerun-Mali itu dinaturalisasi pada 2009. Pada usianya yang kini sudah menginjak 35 tahun, Al Hadji saat ini membela Serpong City FC.
Pelatih Serpong City FC Iwan Setiawan menyatakan, kehadiran pemain berposisi bek tersebut memberi banyak manfaat. Pengalaman pesepak bola yang pernah berseragam Sriwijaya FC itu dibutuhkan pemain muda Serpong City FC. ”Dia kapten kami dan menjadi jembatan saya ke tim. Dia juga muslim yang taat,” tuturnya.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
