Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Juni 2023 | 22.24 WIB

Manchester City Bisa Meneruskan Dominasi  

Ekspresi kegembiraan diperlihatkan Ruben Dias setelah Manchester City akhirnya keluar sebagai juara Liga Champions usai mengatasi Inter Milan 1-0.

JawaPos.com – Ditilik dari formasi permainan tim juara di lima liga elite Eropa musim 2022–2023, Paris Saint-Germain (PSG) dan Manchester City paling dinamis.

Entraineur PSG Christophe Galtier memakai 9 formasi berbeda di semua ajang. Sementara itu, tactician City Pep Guardiola menggunakan 7 formasi.

”Penggunaan 9 formasi berbeda musim ini justru jadi bukti bahwa PSG memang krisis identitas di lapangan. Pelatih juga tidak konfiden dengan kemampuannya meski timnya berisi pemain bintang,” analisis L’Equipe soal Galtier di PSG.

Lantas, bagaimana PSG, City, SSC Napoli, Bayern Munchen, dan FC Barcelona menyongsong musim 2023–2024 ? The Athletic menulis kans PSG, Napoli, Bayern, dan Barca masih fifty-fifty.

Napoli ditinggalkan allenatore Luciano Spalletti. Galtier disebutkan sudah dipecat PSG. Hanya City yang dinilai paling stabil dan diprediksi bisa melanjutkan dominasi. Kedalaman skuad, kekayaan variasi permainan, dan dukungan finansial jadi alasannya.

Nah, raihan Meisterschale oleh Bayern dan titel La Liga oleh Barca musim 2022–2023 bisa dibilang kurang meyakinkan. Bayern yang berganti nakhoda, dari Julian Nagelsmann ke Thomas Tuchel, masih sering utak-atik formasi. Kepastian juara juga baru didapat pada spieltag pemungkas.

Pekerjaan terbesar Tuchel untuk musim depan adalah menemukan goal getter sejati untuk mengisi pos Robert Lewandowski. Musim ini mereka gagal mendapatkan hal itu pada sosok Sadio Mane dan Eric Maxim Choupo-Moting.

Mereka berdua hanya mencetak total 29 gol di semua ajang. Sedangkan rerata gol Lewandowski dalam 8 musimnya bersama Bayern adalah 43 gol per musim. Hal itu yang membuat Bayern musim ini sempat menerapkan formasi dengan dua striker di 11 laga.

Fenomena itu tidak akan terjadi jika mereka pede dengan kualitas nomor 9.

”Terlepas dari hasilnya, musim ini tidak memuaskan sama sekali. Tentu kami harus jauh lebih baik musim depan,” papar Tuchel kepada AP seusai Bayern mengunci titel di laga terakhirnya. 

Ternyata, yang dialami Tuchel juga mirip terjadi kepada entrenador FC Barcelona Xavi Hernandez. Diario AS menyebut keberhasilan juara La Liga kali pertama sejak tiga musim terakhir lebih kepada juara bertahan Real Madrid yang inkonsisten. Terutama pada paro kedua ketika mereka menelan 6 kekalahan dari 19 jornada.

Tugas Xavi untuk musim depan adalah memaksimalkan 4-3-3 andalannya. Sebab, Lewy, sapaan Robert Lewandowski, seolah berjuang sendiri di lini depan. Ansu Fati dan Raphinha sebagai kompatriot lini depan Lewy masing-masing mengemas 10 gol. Lewy seorang diri malah membuat 33 gol.

Produktivitas trisula utama Barca makin mengenaskan di Eropa. Saat Lewy mengemas 6 gol, Fati dan Raphinha total mencetak 1 gol. Barca pun gagal lolos fase knockout Liga Champions dan kandas di playoff knockout Liga Europa.

paSergio Busquets, Jordi Alba, dan Gerard Pique tak ada lagi bersama Xavi. Tanpa sumbangsih tiga pemain itu, Barca diperkirakan kesulitan untuk menjuarai La Liga.

Editor: Candra Kurnia Harinanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore