← Beranda

Bertolak dari The Powerpuff Girls

tirSelasa, 24 Desember 2019 | 02.10 WIB
Freedom karya Nisrina Nur Kamila dalam pamran The Powerpuff Girls di Ruang Atas, Solo. (Arya Darmaja for Jawa Pos)
JawaPos.com – Ruang Atas menggelar pameran singkat bertajuk The Powerpuff Girls yang berakhir hari ini (23/12). Pameran bersama ini menampilkan karya empat perupa muda perempuan. Mereka adalah Atisa Sykurandani, Nisrina Nur Kamila, Dewi Salwa, dan Shelly Maliana. The Powerpuff Girls menyajikan rupa-rupa karya dari cat air di atas kertas hingga seni instalasi.

’’Pameran ini diselenggarakan untuk menyajikan karya-karya segar dari teman-teman seniman muda di Solo,’’ kata Wahyu Eko Prasetyo, pengelola Ruang Atas. Sebagai ruang alternatif untuk menyajikan karya kepada publik, Wahyu menyebut Ruang Atas terbuka dengan ide-ide presentasi karya yang tidak harus kaku dengan batasan-batasan pameran ala galeri dan museum.

The Powerpuff Girsl adalah serial film kartun dari Cartoon Network yang tenar pada tahun 2000-an. Film ini banyak digemari oleh anak-anak perempuan. Kesamaan ingatan dan pengalaman personal berupa sama-sama pernah menggemari The Powerpuff Girls seiring masa belia mejadi titik tolak penyelenggaraan pameran ini. ’’Kami memang sama-sama menyukai The Powerpuff Girl yang saat itu sedang hit,’’ kata Atisa Syukurandani.

Berangkat dari kesamaan minat pada film kartun tidak berarti karya-karya dalam The Powerpuff Girls berisi bentuk-bentuk visual merujuk tokoh-tokoh super hero anak-anak perempuan rekaan Craig McCracken tersebut. Tak ada kartun dalam The Powerpuff Girls di Ruang Atas. Masing-masing perupa menampilkan karya yang berangkat dari respons mereka terhadap tiga bocah berkekuatan super dari The Powerpuff Girls tanpa terjebak mengulang kehadiran mereka di ruang pameran.

Photo
Photo
Karya berjudul Ruang Catcalling yang disajikan oleh Atisa Syukurandai, Nisrina Nur Kamila, Dewi Salwa, dan Shelly Meliana. (Arya Darmaja for Jawa Pos)

Dalam pameran ini, selain karya empat perupa muda itu, ada pula satu karya bersama yang mereka beri judul Ruang Catcalling. Karya instalasi ini disajikan di dalam ruang khusus seukuran kamar. Dinding tembok ruang tersebut ditempel potongan-potongan kertas bergambar bibir dalam beragam ekspresi. Ada bibir nganga dengan lidah sedikit terjulur, bibir tergigit gigi, hingga bibir menyungging senyum. Di sekitar potongan bibir itu tertempel kertas-kertas yang diisi pengunjung tentang pengalaman mereka melakukan atau mengalami pelecehan verbal.

Karya ini tampak menunjukkan kerisihan para perupa perempuan muda itu kala harus berhadapan dengan mulut-mulut kampungan lelaki yang tak sadar bersiul atau menggoda mereka lewat kata-kata adalah sebuah pelecehan. ’’Pelecehan verbal itu masih terjadi hingga sekarang kepada banyak perempuan,’’ kata Atisa. Karya bersama ini diharap dapat mengintervensi isi kepala para lelaki yang tak tahu mulut mereka bisa menjadi bencana bagi perempuan dan di saat sama mengingatkan para perempuan untuk tak diam saat menjadi korban catcalling.
EDITOR: tir