Sajak-Sajak A. Muttaqin
Mereka naik lift dengan ransel berat dan bingkisan di tangan.
Mereka berempat: suami, istri, dua anak, lelaki dan perempuan.
Di dalam lift, sang suami memeluk istrinya dan mencium pipi
kedua anaknya. Kamera CCTV merekam keharuan ini tanpa
curiga. Tapi seekor kucing hitam yang melihat mereka sempat
bertanya-tanya, mengapa dua malaikat menguntit mereka saat
mereka keluar dari lift dengan tali tercekat. Seolah hendak berkata
bahwa tak ada simpul yang lebih kuat selain cinta atau ciuman atau
pelukan. Dari seberang jendela, seorang perempuan yang tengah
menembakkan moncong hairdryer ke rambutnya melihat mereka
bergegas menuju lantai 22. Sementara dua emprit liar terjingkat
dan terbang saat mereka mendekat ke sarangnya di ujung rooftop
apartemen itu. Di situ si suami lalu mengikat dirinya dengan anak
perempuannya, mengikat istrinya dengan anak lelakinya seraya
bergumam: Gusti, ini harga yang kami bayar untuk menyewa
hidup kami. Si suami lalu memberi aba-aba agar istri dan kedua
anaknya tak melihat ke bawah, tapi ke atas sana, ke selaput langit
yang semakin sempit dan semenjana. Sebelum mereka mantap
menerjunkan diri ke hamparan paving, tempat mobil-mobil
diam terparkir dan tak mampu berduka untuk empat jenazah
yang berjatuhan di sisinya.
(2024)
-
Sejarah Monster dan Dua Moge
Ada kesamaan antara Habibie dan Harto. Dua-duanya sama-sama
punya moge jenis Harley-Davidson. Ketahuilah, Harley milik
Harto adalah Heritage Softail with Sidecar, kelahiran 1996,
bermesin V2 dengan isi mesin 1.338 cc dan transmisi 5 percepatan.
Sementara, Harley-Davidson milik Habibie adalah jenis Bad Boy
kelahiran 1996 juga. Harley Habibie berbasis Springer Softail,
dengan isi mesin 1.340 cc dan bernomor B 2506 AH: Pelat
yang mencatat hari kelahirannya.
Dengan Royal Enfield kuno jenis Interceptor bermesin 736 cc
kelahiran 1962 warisan kakekku, aku pernah nekat menguntit
Harto dan Habibie saat mereka menggeber Harley mereka di Jalan
Daendels, di ujung utara pantai Pulau Jawa yang sepi. Aneh juga
mendapati mereka di sini. Tapi aku tak peduli. Aku yakin mereka,
Habibie dan Harto (bukan hantu atau hodam-nya). Aku kuntit
mereka seperti menguntit dua raksasa menunggangi monster paling
mutakhir. Itu, kautahu, terjadi di sekitar akhir 1997, di mana
monster dan raksasa dan rakyat jelata bisa bersua seperti dongeng
dalam buku-buku sekolah perihal gemah ripah loh jinawi
toto tentrem mati mandem.
(2024)
-
Mobil SUV-Ku dan Hantu-Hantu
Aku mendengar Robert Anthony Plant melengking: And as we wind on down the road / Our shadows taller than our soul...
Jalan tol bergelombang. Mobil SUV-ku seperti kereta hantu.
Melesat. Melayang. Mendaki tangga. Menuju surga.
Tangga surga itu berwarna biru. Dijaga dua malaikat ketat
tanpa baju. Hanya pakai cawat. Dan sepatu bot berat.
Dan dua sayap yang terus terangkat.
Mobil SUV-ku berputar seperti roller coaster.
Melintasi tangga surga yang angker. Melekuk. Meliuk. Melungker.
Gusti, kenapa jalan ke surga Kau bikin seruwet ini?
Dua peri, mungkin iblis betina, melambai dari Jeep terbuka bergaya Amerika. Boleh jadi mereka iblis keturunan Yahudi.
Alisnya tajam. Matanya menikam. Senyumnya sungguh licin
dan lancang.
Jeep mereka ram-rem sekenanya.
Lampu stopannya seperti alarm neraka.
Tatkala mobilku hampir menyeruduk bokong Jeep itu,
tahulah aku mereka gadis kembar. Wajah mereka setengil
Marilyn Monroe saat berpose bersama Soekarno.
Injak gasmu, goblok! bentakku.
**!&$#?!*GZ!&$#?!**GZZ^^** suara gadis itu bubar.
Aku tambah kecepatan dan mobil kami berjalan sejajar.
Tuhan Yang Maha Lembut melarang kita kebut-kebutan,
sergah satu dari gadis itu seraya mencibirku.
Asu! Kuinjak kopling dan kuoper ke gigi pemungkas.
Mobil SUV-ku lepas landas. Seperti kereta keramat
yang ditarik empat kambing kebat.
Di ketinggian yang tak terbilang, mobilku berpapasan dengan
kereta hijau si Ratu Laut Kidul yang diseret empat ekor kuda.
Dalam kereta itu ada seorang Raja. Dan tujuh biduanita.
Dan lima badut. Dan dua babi. Dua gentong ciu. Dan seorang
kepala negara yang telah sempurna menjelma jadi es batu.
(2024)
-
- MUTTAQIN
Menulis puisi dan cerita pendek. Buku puisinya yang telah terbit adalah Pembuangan Phoenix (2010) dan Tetralogi Kerucut (2014). Ia tinggal di Surabaya. Selain menulis, ia tekun merawat bonsai, perkutut, dan kura-kura.