← Beranda

Sajak Pinjaman dari Sebuah Situs Berita Online

Ilham SafutraSelasa, 6 Agustus 2024 | 15.17 WIB
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Sajak-Sajak A. Muttaqin 

Mereka naik lift dengan ransel berat dan bingkisan di tangan.

Mereka berempat: suami, istri, dua anak, lelaki dan perempuan.

Di dalam lift, sang suami memeluk istrinya dan mencium pipi

kedua anaknya. Kamera CCTV merekam keharuan ini tanpa

curiga. Tapi seekor kucing hitam yang melihat mereka sempat

bertanya-tanya, mengapa dua malaikat menguntit mereka saat

mereka keluar dari lift dengan tali tercekat. Seolah hendak berkata

bahwa tak ada simpul yang lebih kuat selain cinta atau ciuman atau

pelukan. Dari seberang jendela, seorang perempuan yang tengah

menembakkan moncong hairdryer ke rambutnya melihat mereka

bergegas menuju lantai 22. Sementara dua emprit liar terjingkat

dan terbang saat mereka mendekat ke sarangnya di ujung rooftop

apartemen itu. Di situ si suami lalu mengikat dirinya dengan anak

perempuannya, mengikat istrinya dengan anak lelakinya seraya

bergumam: Gusti, ini harga yang kami bayar untuk menyewa

hidup kami. Si suami lalu memberi aba-aba agar istri dan kedua

anaknya tak melihat ke bawah, tapi ke atas sana, ke selaput langit

yang semakin sempit dan semenjana. Sebelum mereka mantap

menerjunkan diri ke hamparan paving, tempat mobil-mobil

diam terparkir dan tak mampu berduka untuk empat jenazah

yang berjatuhan di sisinya. 

 

(2024)

-

Sejarah Monster dan Dua Moge

 

Ada kesamaan antara Habibie dan Harto. Dua-duanya sama-sama

punya moge jenis Harley-Davidson. Ketahuilah, Harley milik

Harto adalah Heritage Softail with Sidecar, kelahiran 1996,

bermesin V2 dengan isi mesin 1.338 cc dan transmisi 5 percepatan.

Sementara, Harley-Davidson milik Habibie adalah jenis Bad Boy

kelahiran 1996 juga. Harley Habibie berbasis Springer Softail,

dengan isi mesin 1.340 cc dan bernomor B 2506 AH: Pelat

yang mencatat hari kelahirannya.

 

Dengan Royal Enfield kuno jenis Interceptor bermesin 736 cc

kelahiran 1962 warisan kakekku, aku pernah nekat menguntit

Harto dan Habibie saat mereka menggeber Harley mereka di Jalan

Daendels, di ujung utara pantai Pulau Jawa yang sepi. Aneh juga

mendapati mereka di sini. Tapi aku tak peduli. Aku yakin mereka,

Habibie dan Harto (bukan hantu atau hodam-nya). Aku kuntit

mereka seperti menguntit dua raksasa menunggangi monster paling

mutakhir. Itu, kautahu, terjadi di sekitar akhir 1997, di mana

monster dan raksasa dan rakyat jelata bisa bersua seperti dongeng

dalam buku-buku sekolah perihal gemah ripah loh jinawi

toto tentrem mati mandem.

 

(2024)

-

Mobil SUV-Ku dan Hantu-Hantu

Aku mendengar Robert Anthony Plant melengking: And as we wind on down the road  / Our shadows taller than our soul...

 

Jalan tol bergelombang. Mobil SUV-ku seperti kereta hantu.

Melesat. Melayang. Mendaki tangga. Menuju surga.

 

Tangga surga itu berwarna biru. Dijaga dua malaikat ketat

tanpa baju. Hanya pakai cawat. Dan sepatu bot berat.

Dan dua sayap yang terus terangkat.

 

Mobil SUV-ku berputar seperti roller coaster.

Melintasi tangga surga yang angker. Melekuk. Meliuk. Melungker.

 

Gusti, kenapa jalan ke surga Kau bikin seruwet ini?

 

Dua peri, mungkin iblis betina, melambai dari Jeep terbuka bergaya Amerika. Boleh jadi mereka iblis keturunan Yahudi.

Alisnya tajam. Matanya menikam. Senyumnya sungguh licin

dan lancang.

 

Jeep mereka ram-rem sekenanya.

Lampu stopannya seperti alarm neraka.

 

Tatkala mobilku hampir menyeruduk bokong Jeep itu,

tahulah aku mereka gadis kembar. Wajah mereka setengil

Marilyn Monroe saat berpose bersama Soekarno.

 

Injak gasmu, goblok! bentakku.

**!&$#?!*GZ!&$#?!**GZZ^^** suara gadis itu bubar.

 

Aku tambah kecepatan dan mobil kami berjalan sejajar.

 

Tuhan Yang Maha Lembut melarang kita kebut-kebutan,

sergah satu dari gadis itu seraya mencibirku.

 

Asu! Kuinjak kopling dan kuoper ke gigi pemungkas.

 

Mobil SUV-ku lepas landas. Seperti kereta keramat

yang ditarik empat kambing kebat.

 

Di ketinggian yang tak terbilang, mobilku berpapasan dengan

kereta hijau si Ratu Laut Kidul yang diseret empat ekor kuda.

 

Dalam kereta itu ada seorang Raja. Dan tujuh biduanita.

Dan lima badut. Dan dua babi. Dua gentong ciu. Dan seorang

kepala negara yang telah sempurna menjelma jadi es batu.

 

(2024)

-

  1. MUTTAQIN

Menulis puisi dan cerita pendek. Buku puisinya yang telah terbit adalah Pembuangan Phoenix (2010) dan Tetralogi Kerucut (2014). Ia tinggal di Surabaya. Selain menulis, ia tekun merawat bonsai, perkutut, dan kura-kura.

EDITOR: Ilham Safutra