Samudra Tanda
di lautan tanah airku
akulah ikan yang menjadi saksi bagi kapal-kapal beragam bendera
melintas di tengah samudra, mengabarkan kasih sayang semesta
akulah ikan yang tak juga mengerti keluasan samudra
yang penuh tanda-tanda
pada musim tertentu aku bermigrasi
mencari ruang hidup yang lebih lapang
mencari peruntungan dan nasib baik agar berumur panjang
akulah ikan yang tak henti memahami tanda cinta semesta
melalui sapaan penghuni laut lain dan suara-suara kapal beragam bendera
jika aku bisa bereinkarnasi aku hanya berharap
agar aku bisa abadi sebagai ikan yang terus berenang dan berenang
hingga menemui ajal
di lautan tanah airku
akulah ikan yang bisa saja tersangkut jala yang terlepas dari buritan kapal
dan itulah nestapa yang sesungguhnya
akulah ikan yang penuh kehendak bebas
sedih dan menangis jika sampai tersangkut jala
akulah ikan yang selalu berdoa untuk para penghuni kapal yang melintas
agar tak tenggelam jika ada badai dan selalu bersahabat denganku
membiarkan diriku terus berenang
dan mengembalikanku ke laut jika tersangkut jala
2022
---
Melebung*
bukan muram durja dikabarkan semesta
tanah mesuji
ini hari ikan-ikan masih berkelana
di rawa dangkal tak seluas sungai buaya
para buruh riang menangkap ikan-ikan berloncatan
leleran keringat para buruh menyatu bersama air
peluh dari kebun sawit, karet, dan semangka
’’mana ikan gabusmu?” tanya seseorang
’’mana ikan mujairmu?” tanya seseorang lagi
’’mana ikan patinmu?” tanya yang lainnya
para buruh bertempik sorak melupakan nestapa
ancaman utang dalam kelindan hari dan tanggal
mereka bukan lagi si pandir
kerbau yang dicucuk hidungnya hingga pasrah dan berserah
mereka petarung nasib sejati
mengubah lahan gersang jadi pundi rupiah
serupa transmigran yang dianggap buangan
ragab begawe caram**
demikianlah nujuman yang menjelma jadi asa dan doa
menjalar di dalam nadi dan darah menjadi gumpalan nyali
mengubah jiwa kerdil menjadi harga diri
tak semurah yang dijajakan di jalan-jalan
dengan atau tidak menggunakan mikrofon
2020
Catatan:
*Melebung: Budaya lokal di Mesuji, Lampung, ramai-ramai menangkap ikan di rawa.
**Ragab begawe caram: Bekerja tangkas dalam damai dan gotong royong. Bahasa yang akrab didengar di Mesuji, Lampung.
---
Alprazolam
seluruh puisi dengan semua bahasa di dunia telah terbunuh
lenyap ke dalam depresi
di malam yang penuh sungkan
pada ruang yang hening
serupa ruang high care unit (HCU) rumah sakit
yang menyembunyikan denyut jantungmu sakit akut
penyair pun binasa di ruang HCU itu
tak lagi memainkan pusaran kata yang rahasia dan penuh makna
puisi telah terluka dan tanggal dari ibu diksi
mengeluarkan darah merah menghitam
seperti memeram ledekan penyakit
di ruang HCU itu ada orang menyebutnya kolesterol parah
tak ada lagi yang menyentuh kata
yang telah menjadi masa silam
dan kini hanya bisa dipilih sesukamu
aksara pun lenyap, hanya menjadi dongeng riang
orang-orang memang perlahan tak lagi memilih kata
kecuali merekam suaranya menjadi nada
yang tak lagi menyimpan kecemasan menggemaskan
selamat tinggal kata-kata!
2022
---
SATMOKO BUDI SANTOSO
Lahir di Wates, Kulon Progo, Jogjakarta, 7 Januari 1976. Buku-bukunya yang sudah terbit, kumpulan cerpen Jangan Membunuh di Hari Sabtu (Jendela, 2003), Perempuan Bersampan Cadik (Grasindo, 2004), Bersampan ke Seberang (Hikayat, 2006), Rahim Titipan (Amarta Books, 2015), Uang yang Terselip di Peci (Basabasi, 2022).