← Beranda

Sajak Polanco S. Achri

Ilham Safutra20 Juni 2021, 21.29 WIB
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Epigraf di Pohon Khuldi


Di batang pohon tua dengan aksara mahapurba, dituliskanlah ramalan lakon-cerita:

siapa orang yang mampu membaca seluruhnya mestilah menerima dengan rela.

Sebab sehabis membaca, dirinya kan jadi buta dan lidahnya kan bercabang dua;

dan nantinya mestilah terlahir di setiap kala, sebagai seorang pujangga tanpa nama.

(2019)

---

Kepergian Lilith


Taman itu dirasanya hanya berisi pohon-pohon khuldi serta lelaki yang sibuk menamai;

ingin rasanya bertemu Gusti Yang Mahasunyi supaya ditutup-Nya lubang di dalam hati.

Berkatalah sang ular kalau Yang Mahasunyi bersemayam di rumah tempat kepulangan;

maka diputuskanlah pergi dari taman, dan menuju bumi memulai sebuah pengembaraan.

(2019)

---

Mula Lakon-Cerita Genesis


Bersabdalah Gusti Yang Mahasunyi, bahwasanya dari tanah dan debu hendak dicipta

makhluk bernama manusia yang gemar bertanya dan senang adanya memberikan nama.

Pemuja-pelantun-gita dan beberapa malaikat lainnya bertanya sebab-alasan mengapa;

takut dan ngeri rasanya mereka membayangkan bumi basah dengan darah serta air mata.

(2019)

---

Penantian


Di Stasiun Lempuyangan, tempat untuk memesan berbagai macam perpisahan,

duduklah sang pujangga tanpa nama di sebuah bangku panjang ruang tunggu.

Dituliskannya gubahan sajak-sajak pendek tentang potongan lakon-cerita Kejadian;

tersebab teringat kepada nona yang pipinya kemerahan dan senang lantunkan lagu.

(2019)

---

POLANCO S. ACHRI, seorang lulusan jurusan sastra yang kini menjadi seorang pengajar di sebuah sekolah menengah kejuruan di Sleman. Menulis prosa-fiksi, drama, serta esai pendek.
EDITOR: Ilham Safutra