Setelah proklamasi 17 Agustus 1945 itu, kita bangsa Indonesia
Memang mulai bisa bernapas lega
Meski tugas mengisi kemerdekaan luas tak terbatas
Sedangkan penjajah Belanda tidak rela bumi Indonesia jadi tanah merdeka
Bumi Indonesia harus tetap berada dalam cengkeraman Belanda si angkara murka
Rakyat Indonesia tak boleh menikmati kebebasan
Sungai panjang yang mengalir ke laut, gunung-gunung yang membiru, serta daun-daun pepohonan harus menyanyi sanjungan kepada penjajah
Karena Belanda masih ingin mencengkeramkan kuku-kukunya kepada Indonesia
Niat busuk Belanda terus direkayasa
Dan Surabaya kota kita tercinta jadi sasaran utama
Maka, dengan membonceng tentara Sekutu
Belanda datang ke Indonesia, ke Surabaya
Mereka mulai menembakkan senjata, menakut-nakuti penduduk Surabaya
Sebagai preman kolonial yang bengis dan tak tahu aturan
Dan Surabaya mulai dicekam kekhawatiran
Rakyat jelata belum tahu mereka harus berbuat apa
Tapi semangat merdeka masih terus menyala
Rakyat Indonesia tidak rela Indonesia kembali dijajah
Indonesia sudah merdeka dan harus tetap merdeka
Saat itulah tampil seorang kiai sepuh, Kiai Hasyim Asy’ari namanya
yang melihat umat dengan kacamata rahmat
merasakan dengan jiwa yang dalam, terasa berat baginya penderitaan umat
Lalu beliau mengumpulkan para kiai dan ulama se-Jawa dan Madura
untuk menyelesaikan masalah umat, masalah bangsa dan masalah NKRI yang baru saja merdeka
Dari kejernihan jiwa beliau yang takarub kepada Allah
yang didukung oleh akal sehat kolektif serta hasil istikharah para ulama
maka pada tanggal 22 Oktober 1945
tercetuslah fatwa Resolusi Jihad
- Bahwa setiap muslim wajib berjuang membela tanah air Indonesia
- Mereka yang gugur di medan perang melawan penjajah adalah Kusuma Bangsa, mati syahid di jalan Allah
Fatwa yang cerdas dan penuh tanggung jawab itu beredar ke seluruh tanah Jawa
Fatwa itu dicatat sebagai mustika jiwa oleh seorang pemuda Surabaya
bernama Bung Tomo, pemuda cerdas berumur 25 tahun, muda dan cerdas
Kemudian anak-anak santri untuk sementara menutup dan menyimpan kitabnya
Para petani lalu meninggalkan sawahnya dan mengasah parangnya
Yang lain menyiapkan bambu runcing sebagai senjata
Tentara menyiapkan senjata walau apa adanya
Untuk menyambut kedatangan musuh dengan iman kepada Allah
dan keberanian yang sempurna
Amboi, jangan lupakan peristiwa itu
10 November 1945 tanggalnya
Tentara Sekutu dan Belanda datang lagi dengan niat memorakporandakan Surabaya
serta hendak menghancurleburkan semangat kemerdekaan
Bung Tomo teriak Allahu Akbar
Teriakan takbir Bung Tomo mengangkasa di langit Surabaya
Arek-arek Suroboyo, para santri, tentara, pedagang kecil, buruh, serta para pemberani
terjun ke medan perang membela kebenaran dengan keberanian yang total
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Surabaya menjadi lautan api
Allahu Akbar
Surabaya banjir darah
Jasad para pahlawan yang ditembus senjata masih bergelimpangan di jalan-jalan raya
Luka-lukanya yang merah mekar laksana bunga mawar
bersanding dengan keikhlasan jiwa mereka yang putih laksana melati
Mawar dan melati
mawar merah
melati putih
mawar melati
merah putih
merah putih
Bendera tanah airku
Allahu Akbar
Merah dan putih
Allahu Akbar
Bendera tanah airku
Dengan Allahu Akbar, peluru musuh dan tank-tank raksasa musuh dianggap kecil
Bom-bom yang berdentuman menjadi kecil
Mitraliur yang melesat ganas jadi kecil
Bahkan maut pun dianggap kecil, semua dianggap kecil
Hanya Allah Yang Mahabesar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Jadilah 10 November menjadi Hari Pahlawan
KH Hasyim Asy’ari menjadi pahlawan
KH Wahab Hasbullah menjadi pahlawan
Bung Tomo yang meneriakkan takbir itu jadi pahlawan
Dan semua yang gugur membela bangsa dan tanah air adalah pahlawan
Nama mereka harum dalam kenangan
Dan harumnya sampai ke perkampungan surga
Maka kemudian dicetuskanlah fatwa Resolusi Jihad
Tanggal 22 Oktober itu ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional
Allahu Akbar!
D. ZAWAWI IMRON
Lahir di Desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep. Pada 2012 dia menerima penghargaan ”The S.E.A Write Award”
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=AL-BiACe7V8