JawaPos Radar

Bubur Khas India Masjid Jami Pekojan

Sajikan Hidangan Buka Puasa Warisan Keturunan Indonesia-Pakistan

18/05/2018, 17:27 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Bubur India
Bubur india dihidangkan ke sejumlah mangkuk untuk nantinya dibagikan ke warga yang hendak berbuka dan menunaikan ibadah Shalat Maghrib di Masjid Jami Pekojan. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Jamaah salat Ashar Masjid Jami Pekojan mulai bepergian melanjutkan aktivitas masing-masing kala Ahmad Ali, kian sibuk meracik ragam rempah sebagai bumbu utama bubur india. Pria 50 tahun tersebut tengah bergegas menyiapkan hidangan berbuka Masjid yang terletak di Kampung Petolongan, Semarang.

Tubuhnya yang tak lagi muda nampaknya bukan alasan untuk terus beradu dengan panas bara api yang membakar tungku kayu. Seakan diburu waktu, ia mempercepat ayunan kedua lengannya agar adonan tepung beras dalam tungku itu agar cepat matang.

"Buburnya harus segera jadi dan lekas dibagikan sehingga sudah siap jam lima-an jelang buka nanti. Ini hampir matang," ujarnya saat ditemui di bagian dapur Masjid Jami Pekojan, Semarang, Jumat (18/5).

Bubur India
Ahmad Ali tengah mematangkan bubur yang akan dihidangkan (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

Bubur yang dibuat Ali ini memang kerap disebut bubur India oleh sejumlah warga di Kampung Pekojan. Yakni kuliner khas ramadan yang digunakan sebagai warga setempat sebagai hidangan buka puasa. Ia sendiri sudah lima tahun belakangan dipercaya membuat kuliner ini. "Tiap bulan suci ya begini, kita siapkan 200 sampai 300 porsi buat yang mau berbuka di sini," terangnya.

Di saat Ali tengah sibuk mematangkan hidangan, Anas Salim, 76, sosok yang dituakan di Kampung Petolongan, mengisahkan sejarah di balik hidangan buka puasa ini. Ia menyebut resep kuliner ini semula didapat dari sang kakek, Harus Rofii dan Salim Harun yang tak lain ayahandanya. Anas sendiri merupakan generasi ke-tiga dari pelestari resep ini.

"Ini resep turun-temurun sejak dari kakek saya yang asalnya dari Negara Bagian Gujarat, India," tuturnya. Ia meyakinkan bahwa bubur India sudah ada di kampungnya lebih dari 150 tahun silam.

"Yang mengenalkan pertama kali itu saudagar Gujarat yang melakukan syiar Islam di sini. Sambil syiar dan berdagang tasbih, mereka akhirnya menikah dengan pribumi dan disebutlah orang koja atau keturunan Pakistan-Indonesia," lanjutnya.

Perjalanan komunitas Koja pun berlanjut sampai ke tepi Pantai Semarang dan tiba di salah satu sudut kawasan Mataram yang kini dikenal dengan Kampung Petolongan. Warga turunan Pakistan-Indonesia, lanjut Anas, saat ini ada sekitar ratusan yang mendiami kampung tersebut dari semula hanya 10-15 orang saja. 

"Di sini awal orang-orang Koja berdagang sarung, tasbih sampai ragam rempah yang dibawa langsung dari tanah kelahirannya. Lalu karena punya resep bubur India yang sangat khas itu, maka dikenalkan kepada penduduk pribumi lokal," lanjutnya. 

Anas pun menyebut, bahwa selama ratusan tahun resep bubur India tidak banyak berubah. Kuliner ini diolah dari rempah-rempah pilihan, mulai dari potongan jahe, salam, daun pandan, irisan bawang bombay dan yang bikin sedap karena terdapat campuran kayu manis dan cengkeh. "Total sekitar delapan bumbu utama yang diwariskan kepada kita keturunan suku Koja," tambahnya.

Bubur ini menurutnya berasa lezat di lidah kala disantap lantaran semerbak aroma kayu manis yang terlanjur menyatu dengan bau kayu bakar. Terutama saat dimasak di perapian tungku dan itulah kelebihan bubur India. Dengan alasan itulah, Anas kekeuh menggunakan bumbu kaya rempah sebagai penguat rasa.

"Sekarang sebagai variasinya juga ada campuran kuah gulai, sambel goreng, ungkep dan terik," tuturnya. Bubur India dibuat selama tiga jam. Sejak bakda Dzuhur sampai selepas salat Ashar. Ada sekitar empat orang yang terlibat dalam setiap proses pembuatan bubur India. Mereka semua adalah orang koja dimana tugas masing-masing berbeda-beda. 

Kemudian tepat pukul 15.30 WIB sajian khas warga Koja ini pun siap dihidangkan dalam mangkuk-mangkuk kecil bersama segelas susu atau teh ditambah beberapa bungkus kurma. "Dulunya minumnya zam-zam. Tapi karena pasokannya dihentikan sama Pemerintah Arab Saudi maka diganti susu," akunya.

Dengan semakin lestari dan bervariasinya menu kuliner ini, Anas berujar bahwa ini menjadi bukti Bubur India terus melekat di hati masyarakat setempat. "Kita yang membawa ini kemari bangga akan hal itu begitu juga saya yakin warga sini," katanya. 

Ia mengatakan hidangan bubur India kala buka puasa punya arti mendalam bagi warga sekitar. Sesuai hadist Rasulullah SAW, katanya, barang siapa yang memberikan makanan buka puasa maka ganjarannya di akherat bertambah banyak.

"Dan barang siapa yang senang dengan datangnya Ramadan maka diharamkan jasadnya di neraka. Makanya, di sini selalu dibagikan bubur gratis selama 30 hari Ramadan," tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up