JawaPos Radar

Ali: Demi Allah Saya Bersumpah Aksi Teror itu Bukan Rekayasa Politik

17/05/2018, 18:04 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Ali Fauzi
Mantan Kepala Tim Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI) Jawa Timur Ali Fauzi Manzi (Jpnn/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Masih maraknya aksi terorisme di Indonesia menandakan program deradikalisasi belum berjalan maksimal. Cara pandang masyarakat terhadap aksi radikal ini ditengarai menjadi salah satu faktornya.

Mantan Kepala Tim Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI) Jawa Timur Ali Fauzi Manzi mengatakan, banyak masyarakat kerap kali menganggap aksi terorisme yang terjadi merupakan rekayasa demi kepentingan kelompok tertentu. Hal ini salah satu penyebab sulitnya melakukan deradikalisasi.

"Halangan utama program deradikalisasi adalah beragamnya perpekstif masyarakat Indonesia tentang tindak pidana terorisme. Sebagaian besar masih menyakini terorisme di Indonesia rekayasa, operasi intelijen, pengalihan isu, dan lain-lain," ungkap Ali di Gedung Widya Graha LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5).

Pendiri rumah deradikalisasi Lingkar Perdamaian itu menegaskan, cara pandang tersebut salah. Aksi terorisme memang ada. Tindakan kekerasan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang ingin memecah belah masyarakat. 

"Demi Allah saya bersumpah aksi terorisme itu bukan rekayasa politik, bukan operasi intelijen. Ini asli aksi kelompok yang tidak suka NKRI, yang ingin memecah belah kita," tegas Ali.

Lebih lanjut, adik gembong teroris Amrozi dan Ali Imron itu menjelaskan bahwa program deradikalisasi itu sangat penting. Bukan hanya untuk yang telah terpapar paham radikal itu, namun yang belum terkena ajaran sesat itu juga harus dicegah agar tidak terjerumus.

"Tentu deradikalisasi yang belum terpapar penting, yang sudah terpapar juga penting, apalagi yang mantan (napiter). Tentu rumusannya berbeda," jelas Ali.

Mantan teroris bom bali itu menerangkan bahwa teroris adalah penyakit komplikasi. Tak bisa sembarangan untuk menyembuhkan orang yang sudah terjangkit oleh virus itu. Hal itu telah dialaminya sendiri, sebab sejak umur 18 tahun sudah didoktrin dengan paham radikalisme.

"Teroris itu penyakit komplikasi. Tentu mengobatinya juga butuh dokter ahli dan tentu dari orang yang sembuh dari penyakit itu. Saya mengalami penyakit ini sudah bertahun-tahun sejak usia 18 tahun. Dulu kalau lihat bule (turis asing) pikiran saya cuma nembak kepala atau dada," pungkas Ali.

(ce1/sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up